logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Pentingnya Dialog Kebudayaan dari Masa Lalu dan Masa Kini


Ilustrasi dialog

Dialog kebudayaan sangat penting bagi masyarakat dunia dewasa ini, terutama dialog kebudayaan masa lalu dan masa kini. Mengapa demikian? Karena seiring dengan hadirnya modernisasi, semua hal yang berbau tradisional seperti dihancurkan dan tidak diberi kesempatan di dunia modern.

Kebanyakan semua yang berbau tradisional dianggap sebagai sampah, menolak kemajuan zaman, dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbelakang. Padahal, sebenarnya banyak hal-hal yang berbau tradisional yang sebenarnya sangat canggih dan bahkan tidak bisa diatasi atau dilewati oleh masyarakat modern. Dibutuhkan kecerdasan dan kearifan masyarakat modern untuk membuka dialog pada kebudayaan di masa lalu sehingga masyarakat modern tidak diibaratkan sebagai kacang yang lupa kulitnya.

Dialog dengan budaya masa lalu bisa dimulai dari membaca kisah-kisah yang dianggap sebagai kisah kolot, kisah terlalu agamis, tidak modern, dan ketinggalan zaman. Bisa dipastikan, andai masyarakat modern benar-benar mau membaca kisah masa lalu berupa dongeng atau fabel atau cerita rakyat, mungkin mereka akan terkesima melihat kemampuan masyarakat masa lalu yang menjangkau sisi spiritualitas yang lebih tinggi. Dialog ini bisa dilihat andai kita mampu pandai-pandai membaca tanda. Sebagai contoh adalah dialog atas kisah Nabi Musa dan padanannya di berbagai masyarakat dunia; dan dialog tentang turunnya Nabi Adam ke dunia.

Dialog Budaya Kisah Nabi Musa

Di dunia ini, jika kita pandai-pandai mencari informasi, akan sangat mudah dicari kisah yang memiliki prototipe berikut: seorang anak dilahirkan pada masa sulit, kemudian tidak mungkin dibesarkan karena mengalami kelainan, dimasukkan ke dalam peti, dialirkan ke sungai, selamat di sebuah tempat, sukses di tanah perantauan, dan kembali ke kampung halaman dengan bahagia dan penuh kemenangan.

Di Indonesia, ada dua kisah yang mirip, yaitu kisah Si Tanduk Panjang dari Sumatera dan Ciung Wanara di Jawa Barat. Dalam kisah Si Tanduk Panjang, dikisahkan ada sebuah keluarga yang memiliki anak bertanduk panjang. Karena kelainan, anak ini dialirkan ke sungai dengan dimasukkan ke dalam peti. Di samping sang anak, diletakkan sejumput beras dan sebutir telur sebagai teman. Kakak anak ini mengetahui perbuatan ayah-ibunya. Maka, kakak ini pun mengikuti kemana pun peti itu dialirkan.

Kalau terdengar suara tangisan di peti, sang kakak bernyanyi agar adiknya itu mengambil sebutir beras sebagai makanan. Sementara, kalau ada suara ayam berciap (telur tadi sudah menetas), maka sang kakak bernyanyi pula agar sang adik memberikan sebutir beras pula kepada anak ayam. Suatu saat peti tersebut terdampar di tepian sungai. Sang kakak buru-buru menghampiri dan membuka kotak. Tak disangka di sana sudah ditemuinya sang adik yang sudah gagah dan sedang mendekap ayam jago. Dengan ayam jago ini kakak dan adik ini bertamu ke sebuah kampung.

Ayam jago itu diadu dengan ayam jago lain milik tetua kampung. Di luar dugaan, ayam jago Si Tanduk Panjang menang. Bahkan, kelak ayam jantan ini tak terkalahkan sehingga Si Tanduk Panjang kaya raya dan bisa pulang ke kampung halaman. Kisah ini seakan memiliki dialog dengan kisah Nabi Musa.

Seperti yang diketahui kebanyakan orang, Nabi Musa memiliki kisah yang sangat mirip dengan kisah Si Tanduk Panjang. Dalam hal ini, Nabi Musa juga memiliki "kelainan", yaitu ancaman Firaun akan membunuh anak lelaki Bani Israel yang saat itu bermukim di Mesir. Saat itu, demi keamanan sang anak, ibu Nabi Musa memasukkan Musa ke dalam tabut dan mengalirkannya ke sungai. Tak diduga, aliran sungai itu mencapai istana Firaun. Di sinilah terjadi dua versi.

Di Injil disebutkan bahwa yang mendapatkan Nabi Musa adalah anak perempuan Firaun. Sementara, di Al quran yang menemukan adalah istri Firaun, Asiyah. Yang jelas, Musa kemudian diasuh oleh keluarga Firaun yang memusuhinya hingga akhirnya ia kembali ke pangkuan ibunya dengan cara rahasia, yaitu Allah mencegah agar Musa tidak mendapatkan ibu susu, kecuali ibunya sendiri. Hal ini dijelaskan oleh Q.S. Al-Qashah:12-13 berikut ini:

"Dan Kami cegah Musa untuk menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusuinya. Maka berkatalah saudara Musa kepada istri Firaun, 'Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?' Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya hati sang ibu bahagia dan dan tidak berduka cita. Pengembalian ini Kami lakukan agar ibu Musa mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."

Masih banyak cerita lain yang seolah mempunyai dialog dengan cerita Nabi Musa ini di seluruh dunia.

Dialog Kisah Musa dan Pemahaman Modern

Kebanyakan orang modern mengira bahwa kisah di atas hanyalah dongeng belaka. Bahkan, dongeng ini hanya berlaku untuk anak kecil saja. Padahal tidak demikian. Seharusnya, masyarakat modern keluar dari perangkap berpikir yang menyesatkan dan memulai dialog dengan masa lalu. Kisah ini adalah rahasia tentang ruh manusia. Ruh Manusia berasal dari ibu yang melambangkan Tuhan. Ruh ini dimasukkan ke dalam peti atau dimasukkan ke dalam tubuh.

Sekilas, mana mungkin Si Tanduk Panjang atau Musa akan bertahan hidup dengan dimasukkan ke dalam peti yang jelas-jelas akan menyengsarakannya ketika membutuhkan air susu ibu? Sama seperti ruh. Bagaimana mungkin ruh yang tidak terbatas dapat bertahan di dalam tubuh yang sangat terbatas unsur materi? Namun, semua itu memang harus terjadi. Peti Si tanduk Panjang dan Nabi Musa dialirkan ke sungai mencapai ke tanah perantauan dan rumah Firaun. Kedua tempat tujuan ini sama-sama asing. Ruh yang masuk dalam tubuh diasingkan pula di dunia.

Bahkan, Si tanduk panjang dan Nabi Musa tinggal di tanah asing tersebut. Maka, pesan penting di sini adalah, ruh manusia memang dibawa ke bumi dan tinggal di tanah asing ini. Namun, tanah asing ini sebenarnya kejam. Sama seperti Firaun yang hendak membunuh Musa, bukan tidak mungkin ruh akan terjerat pada hal-hal duniawi selama berada di dunia. Yang dibutuhkan ruh adalah melakukan dialog dengan alam asalnya (alam ruh/Akhirat) sekaligus melakukan dialog pula dengan dunia.

Ruh memang tinggal di bumi. Namun, ia harus menyadari kefanaan dunia ini. Suatu saat, seperti halnya Si Tanduk Panjang dan Nabi Musa, ruh akan kembali ke pangkuan "Ibu" (Allah). Maka, prinsipnya, kita boleh tinggal di dunia, tapi tidak bisa terhanyut di dalamnya. Kita harus senantiasa melakukan dialog dengan tempat asal kita (Akhirat) melaui ibadah dan upaya penghancuran ego diri. Kita mungkin melakukan dialog pula dengan dunia. Namun, seperti Musa, orang-orang yang beriman akan dihalangi Allah dari tindakan menyusu pada ibu lain, tindakan takluk dan bersujud pada hal-hal selain Allah.

Nah, melihat kenyataan rahasia ini, jelas bahwa hal-hal yang sifatnya tradisional tidak bisa semudah itu saja dianggap terbelakang. Bahkan, cerita ini, sama seperti cerita Adam dan Hawa yang melambangkan ruh dan jiwa yang terjun ke dunia (memakan buah khuldi) menampung kecerdasan tradisional yang tidak bisa ditangkap masyarakat modern yang skeptis. Yang dibutuhkan adalah dialog berkelanjutan dengan rahasia masa lalu sehingga dunia modern bisa mengejar ketertinggalan di bidang spiritual. 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • ASAL USUL BAHASA JAWA
  • Sejarah Komunis di Indonesia
  • Indonesia Merdeka - Mengenang Kembali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
  • Artikel Bhineka Tunggal Ika
  • Kisah Manusia Purba di Indonesia
  • Sejarah Terbentuknya TNI
  • Hewan-Hewan Unik dari Zaman Purba
  • Meresapi Makna Lambang Garuda Indonesia
  • Menjelajahi Kegemilangan Kerajaan Islam di Indonesia
  • Fungsi Kantor Pos yang Mulai Terlupakan
  • Peradaban Atlantis dan Implikasinya Bagi Indonesia
  • Sejarah Penemuan Listrik
  • Menelusuri Sejarah Tenggelamnya Kapal Titanic
  • Kontroversi Peristiwa G 30 S PKI
  • Sejarah Perkembangan Islam di Eropa: Muslim Albania
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA