Mengenal Diare Kronis
Diare kronis adalah buang air besar yang tidak berbentuk atau dalam konsistensi cair dengan frekuensi yang meningkat. Umumnya, terjadi lebih dari tiga kali per hari atau dengan perkiraan volume tinja lebih dari 200 gram per hari dengan durasi lebih dari 4 minggu.
Kemungkinan penyebab diare kronis sangat beragam. Diare kronis dapat terjadi karena pertumbuhan bakteri berlebihan dalam usus halus, malabsorpsi garam empedu, malabsorpsi laktose, peningkatan transit usus, tumor yang menghasilkan hormon, adanya kelainan endokrin, kelainan organ tubuh, infeksi, parasit, atau keganasan sel, dan sebagainya.
Mengingat penyebabnya yang begitu beragam, Anda harus berhati-hati dalam mengenalinya. Ada beberapa pemeriksaan untuk menentukan penyebab diare kronis.
Anamnesis
Anamnesis yang lengkap sangat penting untuk menentukan dan menduga penyebab spesifik. Misalnya, gejala dapat mengarah pada dugaan organik jika didapatkan diare dengan durasi kurang dari tiga bulan yang disertai penurunan berat badan yang signifikan.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menentukan keparahan diare daripada menemukan penyebabnya. Pemeriksaan ini meliputi pencarian perubahan ortostatik tekanan darah dan nadi, mengukur demam dan tanda lain, pemeriksaan fisik abdomen dengan melihat dan meraba distensi usus, nyeri terlokalisir atau merata, pembesaran hati atau massa, dan mendengarkan bising usus.
Pemeriksaan Awal dengan Tes Darah
Pengenalan abnormalitas pada penapisan awal, seperti laju endap darah yang tinggi, anemia, albumin darah yang rendah, akan memperkuat dugaan adanya penyakit organik.
Penderita diare kronis dapat menjalani rawat jalan atau perawatan di rumah sakit. Asalkan semua tahap pemeriksaan menyatakan dapat dilakukan rawat jalan, para medis hanya akan membekali pasien dengan obat-obatan. Perawatan inap diperlukan karena banyak diagnosis yang belum dapat ditegakkan akibat pengumpulan feses yang kurang memadai pada pasien rawat jalan.
Pengobatan
Pengobatan untuk diare kronis bersifat kuratif, supressif, atau empiris. Jika penyebabnya dapat dketahui pasti dan dapat diperbaiki, bisa diambil tindakan terapi kuratif seperti penggunaan antibiotik. Terutama, tetasiklin, trimetoprim sulfamethoxazole, dan ampisilin. Diare karena pertumbuhan bakteri berlebih diusus halus, misalnya, dapat diterapi dengan antibiotika.
Untuk berbagai kondisi klinis, diare kronis dapat dikontrol dengan supressi terhadap mekanisme yang mendasarinya. Misalnya, eleminasi laktose dari diet pada diare karena defisiensi laktase, eliminasi gluten pada celiac sprue, adsorvent agent seperti cholestiramin pada malabsorpsi garam empedu, penghambat pompa proton seperti omeprasole pada hipersekresi lambung, dan substitusi enzim pankreas pada kasus dengan insufisiensi pankreas.
Jika tidak diketahui penyebab spesifik maupun mekanismenya, terapi dilakukan secara empiris. Pada diare cair yang ringan-sedang, misalnya, dapat diberikan golongan opiat ringan seperti diphenoksilat atau loperamide.
Pada dasarnya, untuk semua penderita diare kronis, penggantian cairan dan elektrolit merupakan komponen penting dalam pertolongan dasar.






