Putri Mandalika; Dongeng Nusantara Yang Terlupakan
Ilustrasi dongeng nusantara
Psikolog anak menyatakan bahwa ternyata mendongeng dapat merangsang otak halus anak atau yang disebut dengan kognitif. Kegiatan mendongeng atau bercerita kemudian dijadikan salah satu mata pelajaran atau diselipkan dalam satuan kegiatan harian (SKH) pada lembaga-lembaga pra sekolah. Kisah dongeng yang cocok untuk dijadikan materi pengajaran kognitif ini antara lain dongeng nusantara, yang idenya adalah menggali seluruh kekayaan dongeng nusantara untuk diwarisi pada generasi muda melalui kegiatan mendongeng.
Dongeng nusantara memang kaya dengan nilai-nilai kehidupan yang cocok untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Dongeng nusantara dalam berbagai bentuknya, lahir dari kekayaan moral dan keluhuran budi pekerti nenek moyang tempo dulu, agar semua nilai-nilai luhur itu diwariskan dan menjadi pegangan untuk generasi selanjutnya. Melalui tokoh ciptaan dalam dongeng nusantara tersebut, seorang pengarang menyisipkan pesan-pesan moral yang menjadi keunggulan dan nilai luhur yang bercorak lokal namun sebenarnya mengambil nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Manifestasi Dongeng
Dongeng dalam pengertian tersirat adalah suatu kegiatan bercerita yang diutarakan dengan berbagai cara dan teknis. Jaman dahulu dongeng diutarakan oleh para kerabat tua kepada keturunannya dengan berbagai tendensi atau tujuan, di antaranya adalah sebagai pemberi batasan perilaku, pemeliharan tingkah laku, penentu norma, contoh baik dan benar serta alat untuk penyampaian ajaran agama, dan budaya. Dongeng dahulu kala disampaikan secara lisan sehingga memungkinkan menyelipkan berbagai muatan moral yang terjadi pada saat itu dan bersifat lokal. Pada akhirnya untuk tujuan pelestarian kebudayan dan kekayaan intelektual nenek moyang dulu, dongeng-dongeng ini ditulis ulang sehingga bisa lebih dilestarikan.
Dongeng memang mengandung kisah yang terjadi tempo dulu, tapi dari sisi tema dan muatan nilai-nilai samasekali tidak kuno dan jadul, karena mengambil intisari dari nilai-nilai kehidupan sehingga terasa universal. Misalnya saja dongeng yang berasal dari Papua, tapi tetap relevan didongengkan kepada anak-anak yang ada di Banda Aceh misalnya. Demikian pula dongeng dari suku lain tetap terasa cocok dengan kehidupan suku lain karena yang diambil adalah nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan dongeng. Dongeng-dongeng tadi disebut sebagai dongeng nusantara. Dongeng nusantara yang menjadi kekayaan khasanah budaya Indonesia biasanya mengacu pada berbagai dongeng baku, yakni dongeng berjenis Fabel (cerita dengan karakter binatang).
Dongeng nusantara dengan tema Fabel (karakter binatang) biasanya digemari oleh anak-anak; selain juga dongeng tentang kekayaan budaya Indonesia yang dieksplorasi dari setiap daerah.
Secara umum dongeng nusantara dapat dikatakan memiliki tiga kelompok umum, yakni dongeng Fabel, dongeng Rakyat, dan dongeng bermuatan Agama.
Jenis Dongeng Nusantara
Berikut adalah jenis dan contoh dongeng nusantara yang biasa disampaikan :
- Dongeng Fabel (cerita dengan menggunakan karakter binatang)
Dongeng Fabel ini biasanya mengambil beberapa karakter binatang yang biasa dikenal oleh anak-anak, seperti kancil, gajah, tikus, ayam jago, kelinci, dan rusa. Biasanya binatang-binatang itu memiliki kelebihan karakter baik sisi buruk dan sisi baiknya. Contoh, gajah yang kuat namun lugu, kancil binatang yang cerdik dan banyak akal, rusa yang lincah dan gesit, ayam jago dan kelinci gambaran bintang rajin, dan tikus yang senang merugikan.
Contoh dongeng Fabel dengan binatang-binatang tersebut adalah: Si Kancil dengan Seratus Buaya, Saat Ayam Jago tak Berkokok, Kisah Singa dan Kambing Muda, Rusa Kecil yang Gesit atau Kancil Dan Kera.
- Dongeng Rakyat (Dongeng yang beredar di kalangan masyarakat yang disampaikan dari mulut ke mulut; dan antar generasi). Beberapa diantara dongeng rakyat ini banyak yang telah ditulis ulang kemudian dibukukan.
Dongeng Rakyat biasanya mengambil setting yang berlatar pada budaya suatu daerah, yang biasanya menceritakan asal usul suatu tempat atau daerah, dan asal usul suatu kondisi atau ritual tertentu dikerjakan.
Contohnya adalah : Kisah Putri Mandalika, Malin Kundang, Dayang Sumbi, Putri Roro Jonggrang, Batu Belah, Legenda Gunung Batu Hapu, Sangkuriang, Nyai Endit Yang Kikir, Prabu Banyuwangi, Ayam Dan Lapeh, dan lain-lain. Tiap-tiap daerah di nusantara ini memiliki dongeng rakyat sendiri-sendiri. Dongeng rakyat memang sangat lokal, namun isinya tetap mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal sehingga tetap cocok dibaca oleh siapapun dan dimana pun.
- Dongeng Agama (Dongeng yang bermuatan ajaran Agama)
Dongeng-dongeng yang bermuatan ajaran agama, biasanya menjadi favorit bagi para ustad/ustadzah yang disampaikan pada ceramahnya; oleh orang tua pada anaknya, ataupun oleh guru kepada muridnya.
Contoh : Si Pelit, Pemerah Susu dan Embernya, Kisah Orang Tua dan Keledai, Kasih Sayang Ibu, Lima Pilar Agama (Rukun Islam), Manusia Satu Kata, Pak Serakah, dan Si Jampang.
Ratu Mandalika Salah Satu Dongeng Nusantara
Kisah Putri atau Ratu Mandalika adalah Dongeng Nusantara berasal dari Lombok. Putri Mandalika adalah seorang putri Raja Lombok yang tersohor kecantikannya.Putri Mandalika adalah calon pewaris tahta Raja Lombok saat itu dan akan dinobatkan menjadi Ratu – karena kebetulan Raja Lombok tidak memiliki seorang putra pewaris tahta kerajaan.
Kecantikannya yang tersohor ke seluruh negeri mengundang banyak putra Raja serta Pangeran yang ingin mempersuntingnya. Para putra Raja serta Pangeran datang ke kerajaan dengan maksud mempersunting Putri Mandalika. Hingga ia merasa bingung dengan semua pinangan yang datang. Raja hanya berpesan kepada Putrinya untuk bijaksana dalam memutuskan siapa yang dipilih sebagai pendamping. Sampai di sini pesan moral mulai ditanamkan dan akan terhujam masuk ke pikiran jangka panjang anak, sehingga kelak mewujud menjadi sikap hidup yakni berupa sikap bijaksana dalam pergaulan sehari-hari baik dengan sesama teman, kerabat terlebih dahulu ketika bergaul dengan orang tua.
Putri Mandalika nyaris tertekan dan bingung memutuskan untuk memilih yang mana. Karena ia kuatir apabila memilih salah satu daripara Pangeran dan Putra Raja; kemudian mereka yang tidak dipilih justru akan berperang antar mereka. Dan kerajaan Lombok justru akan menjadi terpecah. Ini tentang pesan moral bagaimana semestinya manusia berpikir untuk keselamatan bersama alias tidak bersikap egois dalam kehidupan sehari-harinya.
Di akhir pemikirannya, Putri Mandalika berdiri di tepi jurang yang berbatasan dengan Laut Lombok, dan keputusannya sudah bulat untuk tidak memilih satupun di antara peminangnya. Dengan tekad bulat Putri Mandalika menerjunkan diri ke laut.
Akhir kisah disebutkan bahwa Putri Mandalika yang menceburkan diri berubah menjadi Nyale, semacam hewan menyerupai cacing serabut namun berkaki dan berwarna warni indah. Nyale hanya muncul setahun sekali biasanya di saat bulan Ramadhan. Dan di Lombok tradisi mencari Nyale sebagai penjelmaan dari Putri Mandalika tersebut disebut dengan Bau Nyale (berburu Nyale).
Keputusan Putri Mandalika yang lebih memilih ketentraman semua pihak; dengan dia berubah wujud menjadi Nyale diharapkan semua orang bisa mendapatkan dirinya. Pengorbanan Putri Mandalika ini cukup legendaris di masyarakat NTB.

