Bahaya Dongeng Peri
Dongeng Peri banyak dipilih sebagai cerita bagi anak-anak. Bukan hanya oleh orang tua, bahkan media massa pun tak jarang mengangkat cerita tentang makhluk khayal ini sebagai tema cerita pada produk mereka. Salah satu yang paling fenomenal adalah sinetron “Bidadari” yang dibintangi oleh artis Marshanda.
Dalam kisah itu, disebutkan tokoh Lala (Marshanda) adalah seorang anak yang selalu dianiaya oleh ibu dan saudara tirinya. Namun, usaha yang dilakukan kedua orang tersebut untuk mencelakakan Lala selalu saja gagal. Hal ini karena Lala diceritakan berada dalam lindungan Ibu Peri yang selalu menemani Lala dan datang pada saat Lala berada dalam bahaya.
Tanpa disadari, fantasi tentang dongeng peri ini sebenarnya tidak baik dalam proses perkembangan pola pikir seorang anak. Sebab anak akan menjadi terbiasa dirasuki oleh pemikiran khayal yang tidak ada dalam dunia nyata. Jika ini dibiasakan, maka seorang anak akan tumbuh menjadi manusia yang selalu terbuai dengan imajinasi tanpa rasio.
Bahaya Lain Dongeng Peri
Selain menjadi terbiasa dengan imajinasi tanpa rasio, bahaya lain dari pembiasaan dongeng bertema peri pada anak-anak juga muncul. Bahaya tersebut adalah menjadikan seorang anak menjadi kurang percaya pada dirinya sendiri jika menghadapi masalah. Dengan adanya dongeng peri, seorang anak akan memiliki harapan ada pihak lain yang bisa membantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Selain itu, dari sudut pandang agama sikap mengharap bantuan kepada makhluk halus semacam peri adalah sebuah perilaku yang disebut sirik. Karena hal ini sama saja dengan menyekutukan keberadaan Tuhan yang merupakan satu-satunya Dzat yang seharusnya menjadi tempat manusia bergantung.
Tips Mendidik Anak
Untuk itu, orang tua harus bisa menyiasati agar anak jangan sampai terjerumus pada hal yang salah karena menonton atau mendengar dongeng peri. Langkah yang harus dilakukan orang tua adalah :
- Membekali dengan pendidikan agama yang kuat dan pemahaman tentang Tuhan sebagai satu-satunya tempat manusia memohon pertolongan.
- Selalu menanamkan pengertian bahwa kisah dengan tema peri adalah sebuah cerita fiktif yang tidak ada dalam dunia nyata.
- Temani anak saat menonton, membaca atau mendengarkan dongeng peri sehingga bisa dengan cepat memberikan pemahaman ketika jalan cerita mulai menyimpang dari akal sehat.
- Jika memungkinkan, jauhkan anak-anak dari tayangan atau bacaan yang berbau peri.






