Dongeng Putri Islami, Strategi Baru Buku Cerita Anak
Ilustrasi dongeng putri
Keampuhan dongeng untuk mendidik dan menanamkan nilai moral sudah diakui banyak orang. Dongeng dapat membantu orang tua mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan pada putra putrinya. Keberadaan [kwd]dongeng putri [/kwd] pun dapat Anda gunakan untuk mendidik putri Anda.
Ragam Dongeng Putri
Cerita dongeng putri asli Indonesia misalnya kisah Putri Roro Jonggrang (Jawa Tengah), Putri Tandampalik (Sulawesi), Putri Mandalika (Nusa Tenggara Barat), dan lain-lain. Cerita dongeng putri dari luar antara lain Putri Salju, Putri Cinderella, Putri Tidur, Putri Duyung dan lain-lain.
Dibandingkan dengan dongeng tentang putri dari luar negeri, dongeng putri asli Indonesia masih kurang dikenal anak. Salah satu penyebabnya adalah kemasan yang kurang menarik dari dongeng asli Indonesia.
Pada umumnya dongeng asli sampai ke anak dalam bentuk buku dengan tampilan visual seadanya. Sebaliknya cerita dongeng tentang putri dari luar tersaji dalam bentuk buku, film dan merchandise menarik.
Stereotip Putri dalam Dongeng Putri
Jika Anda memperhatikan cerita dongeng tentang putri dari luar, maka bisa dipastikan pola stereotip yang diusung cerita tersebut. Seorang putri cantik namun bernasib malang. Perjalanan nasib akan membawa putri tersebut menemukan pangeran impiannya. Setelah itu mereka akan hidup bahagia selamanya.
Cerita-cerita ini selain memberi efek hiburan ternyata juga menimbulkan sindrom yang dikenal sebagai princess syndrome. Para gadis kecil banyak yang memimpikan akhir kisah seperti para putri tersebut.
Mengharapkan nasib berubah seketika dengan bantuan tongkat ajaib peri dan memperoleh pangeran impian. Akibatnya, di kehidupan sebenarnya, anak pun bisa terlena tanpa usaha. Mengharapkan nasib baik bisa berubah begitu saja dengan bantuan keajaiban.
Para putri kecil juga terobsesi dengan kecantikan, keanggunan dan berpakaian ala putri tersebut. Tak sedikit pengidap princess syndrome yang menginginkan bentuk tubuh langsing seperti putri impian mereka dan melakukan berbagai cara untuk itu.
Belum lagi dandanan pada cerita dongeng putri yang terkadang tampil sedikit seronok untuk ukuran masyarakat timur. Misalnya dandanan Putri Duyung yang terasa sangat vulgar bagi para orangtua.
Selain itu hal yang sangat disayangkan dalam cerita dongeng tentang putri dari luar adalah stereotip seorang ibu tiri. Ibu tiri dalam beberapa dongeng seperti Putri Salju dan Putri Cinderella digambarkan sebagai seorang ibu yang kejam. Streotip ibu tiri yang kejam ini rupanya bisa membekas pada benak anak. Mereka akhirnya selalu mengasosiasikan seorang ibu tiri sebagai ibu yang kejam.
Dongeng Putri Islami
Akhir-akhir ini, di pasaran juga beredar buku bertema dongeng tentang putri Islami. Salah satu dasar diciptakannya produk ini adalah menangkal budaya luar yang terbawa dari cerita dongeng putri.
Lihatlah tampilan buku-buku yang mengusung dongeng tentang putri Islami. Walaupun penggambaran visual mendekati pakem dongeng yang mengisahkan putri yaitu putri cantik, langsing, putih dan baik hati, tapi dibalut dengan busana muslim cantik yang menutupi aurat tokoh sang putri.
Tema cerita yang diangkat pun lebih beragam. Tidak hanya semata-mata cinta dan kesetiaan. Beberapa diantaranya mengusung tema-tema baru seperti menggunakan pendekatan asmaul husna, bahkan berdasarkan dari kisah yang ada dalam Al-Qur’an.
Cerita dongeng ini bukan berarti kita memberikan atau menciptakan sebuah cerita yang bisa merusak akidah, terutama bagi anak-anak. Bisa dikatakan jika dongeng ini merupakan salah satu metode untuk mengajarkan nilai agama pada anak.
Langkah ini bisa membuka wawasan kita yang selama ini hanya disodori dengan kisah dongeng dari luar atau barat, seperti putri Salju, putri Tidur, Rapunzel, dan sebagainya. Dalam Islam pun juga bisa kita kembangkan sebuah dongeng yang berlatarkan kerajaan, seperti misalnya kerajaan Nabi Sulaiman.
Dongeng bukan berarti harus sesuai dengan kenyataannya, tetapi kita memadukannya dengan imajinasi kita mengenai kehidupan seorang putri dalam sebuah kerajaan. Asalkan tidak melenceng dari akidah agama Islam. Justru melalui dongeng inilah akidah bisa kita ajarkan pada anak.
Pendekatan Sederhana
Metode cerita merupakan salah satu pendekatan sederhana untuk mengajarkan akidah agama pada anak. Salah satunya bisa Anda lakukan lewat cerita dongeng putri ini. Melalui cerita anak-anak bisa dengan lebih mudah mengerti dan memahaminya.
Terutama menanamkan akidah untuk anak-anak usia dini, cerita dalam balutan dongeng ini merupakan media yang sangat efektif. Anak-anak tidak merasa sedang diajarkan, tetapi mereka bermain sambil mendengarkan, dan tentunya memahami isi cerita.
Sebaiknya jika ingin memberikan cerita dongeng untuk anak-anak, pilih yang banyak warna dan sedikit ilustrasi. Akan lebih baik jika ilustrasi yang diberikan tidak dalam kalimat yang panjang, mengingat daya tangkap anak tidak seperti orang dewasa.
Cerita dongeng tentang putri Islami ini pada umumnya memang masih menyadur cerita putri klasik dunia. Nuansa Islami yang kental seperti penokohan yang mengenakan jilbab, serta jalan cerita yang sesuai akidah agama Islam, menjadikan cerita klasik tersebut bisa mewakili apa yang dituntunkan dalam agama Islam.
Ada beberapa contoh cerita dongeng tentang putri Islami yang bisa kita jadikan sebagai media untuk menanamkan akidah agama Islam dalam diri anak. Di antaranya bisa Anda lihat dalam contoh cerita dongeng berikut ini.
Princess Afwa
Di tengah rintik hujan, lahirlah seorang putri di Istana Mumtaz. Raja dan Ratu iskandar memberinya nama Princess Afwa. Nama Afwa berasal dari Al-Afuwwu, yang berarti pemaaf. Princess Afwa berkulit seputih salju. Tetapi, sebagian besar pipi kirinya tertutup tanda lahir berwarna coklat.
Princess Afwa tumbuh menjadi gadis yang ramah dan disenangi semua orang. Sifatnya lembut, baik hati, dan pemaaf. Tidak ada seorang pun di istana Mumtaz yang mengejek tanda lahir di pipi Princess Afwa. Kekurangannya tertutup oleh kebaikan hati dan sifatnya.
Suatu hari, Raja dan Ratu Iskandar memanggil Princess Afwa.
“Princess Afw, kamu mendapat undangan dari istana Yasminah. Princess Tsabita akan merayakan ulang tahunnya,” kata Raja Iskandar.
“Datanglah. Kita harus menjaga silaturahmi dengan istana Yasminah,” kata Ratu Iskandar. Princess Afwa pun menyanggupinya.
Princess Afwa datang ke istana Yasminah. Prince dan princess dari seluruh penjuru dunia pun datang menghadiri undangan Princess Tsabita. Kedatangan Princess Afwa menjadi bahan perbicangan. Sebagian prince dan princess mengejek Princess Afwa. Tetapi, Princess Afwa tetap bersabar menghadapinya.
“Selamat ulang tahun, Princess Tsabita. Semoga Allah selalu memberkahimu. Rangkaian bunga lili ini untukmu!”, kata Princess Afwa.
“Aku tidak suka kadomu. Di kebun istanaku juga banyak terdapat bunga lili,” kata Princess Tsabita angkuh sambil melempar rangkaian bunga lili itu ke lantai.
Tiba-tiba, terjadi keajaiban. Rangkaian bunga lili itu berubah wujud menjadi seorang peri yang sangat cantik, tetapi raut wajahnya menampakkan kemarahan.
“Aku adalah Peri Bunga Lili. Dan aku akan memberi pelajaran kepada Princess tsabita yang sombong!” kata Peri Bunga Lili matah.
Peri Bunga Lili kemudian mengayunkan tangannya. Princess Tsabita menjadi sangat ketakutan. Kulit wajahnya dalam sekejap berubah separuh kecoklatan. Setelah itu, Peri Bunga Lili menghampiri Princess Afwa dan memberikan botol kecil.
“Botol ini berisi ramuan pemulih wajah. Usapkanlah ke wajahmu agar tanda lahirmu hilang!”, kata Peri Bunga Lili.
“Terima kasih, Peri Bunga Lili. Lebih baik, ramuan obat itu diberikan kepada Princess Tsabita agar wajahnya kembali seperti sediakala,” kata princess Afwa.
“Aku hanya punya satu botol ramuan dan cukup untuk satu orang,” kata Peri Bunga Lili.
“Tidak apa-apa. Sejak lahir, di wajahku ini sdah ada tanda ini,” kata Princess Afwa sambil tersenyum.
“Princess Afwa, kamu memang berhati mulia,” kata Peri Bunga Lili.
Peri Bunga Lili memberikan botol ramuan pemulih wajah kepada Princess Tsabita. Cepat-cepat, Princess Tsabita mengeluarkan isinya dan mengusapkan ke wajahnya. Wajah Princess Tsabita pun kembali seperti sediakala.
Bersamaan dengan itu, keajaiban kembali terjadi. Tanda lahir di wajah Princess Afwa menghilang. Wajah Princess Afwa menjadi bersinar.
“Princess Afwa, kecantikan hatimulah yang telah mengubah wajahmu,” kata Peri Bunga Lili.
“Terima kasih, Peri Bunga Lili,” kata Princess Afwa.
“Princess Afwa, terima kasih atas kebaikan hatimu. Aku minta atas semua kesahanku,” kata Princess Tsabita.
“Sejak semula, aku telah memaafkanmu,” kata Princess Afwa.
Seluruh Prince dan Princess yang hadir memuji Princess Afwa yang pemaaf. Mereka pun meminta maaf kepada Princess Afwa.
Semoga terobosan baru dongeng putri Islami ini bisa menjadi pelengkap dan penyempurna cerita dongeng untuk anak-anak Anda di rumah. Gunakan waktu senggang Anda untuk menceritakan kisah dongeng tentang putri ini dengan anak-anak di rumah. Dijamin, anak-anak pasti suka. Selamat mencoba!

