Membaca Ulang Dongeng Rakyat Sunda
Dongeng Rakyat Sunda, atau dikenal dengan Dongéng Sunda. Adalah cerita-cerita lisan yang dituturkan dari mulut ke mulut sebagai hasil kreatifitas genius lokal dalam masyarakat Sunda. Cerita lisan yang biasanya dikisahkan dalam sebuah keluarga atau kumpulan tertentu, oleh orang yang lebih tua kepada anak-anak atau orang yang umurnya lebih muda.
Latar Sejarah
Abad ke-16. Runtuhnya kerajaan Sunda membuat masyarakat Sunda tidak lagi memiliki pusat kebudayaan dan agama. Hilangnya kerajaan adikuasa Pajajaran, membuat wilayah Sunda berjuang terpisah untuk mempertahankan kesundaannya. Namun hal ini tidak membuat eksistensi budaya Sunda mati.
Kabupaten-kabupaten di Tatar Sunda menjadi pusat kebudayaan dan administrasi. Masyarakat di wilayah tersebut tetap mempertahankan dan mengembangkan tradisi dan pengetahuan yang khas dan memiliki karakter tersendiri sebagai identitas Sunda di antara budaya lain di Nusantara.
Salah satunya adalah tradisi cerita lisan yang sangat mengagumkan, seperti Pantun Sunda. Sebuah pertunjukan seni cerita lisan yang diiringi petikan-petikan kacapi pantun atau terkadang dengan iringan tarawangsa. Seni bertutur ini disampaikan oleh seorang Juru Pantun yang umumnya buta. Dikisahkan naratif atau dengan tembang biantara, yaitu kemampuan ungkap cerita dengan gaya ritmis dan berlagu.
Tradisi cerita lisan beralih menjadi tulisan Sunda dalam bentuk cetakan mulai dikenal masyarakat setelah tahun 1800-an. Semua ini tak lepas dari inisiatif orang Belanda yang mulai menyebarkan huruf latin dan Aksara Cacarakan. Di antaranya adalah C.M.Pleijte, K.F.Holle, dan Snouck Hurgronje. Seiring dengan perkembangan Islam di Tatar Sunda, ada pula dongeng rakyat Sunda yang ditulis dengan huruf Arab.
Dongéng Sunda yang berhasil diterbitkan atas usaha C.M.Pleijte berjudul “PARIBOGA”. Sebagian lain hanya dimuat dalam berbagai majalah saat itu, di antaranya: Majalah TBG dan VBG.
Kategori Dongeng
Dongeng rakyat dalam sejarah panjang tradisi lisan Sunda, dikategorikan dalam beberapa kelompok, yaitu: Dongéng Sasakala, Dongéng Jurig, Dongéng Sasatoan, Dongéng Kajajaden, Dongéng Babad, dan dikenal pula Dongéng Si Kabayan.
Dongéng Sasakala merupakan bentuk cerita yang mengisahkan tentang asal muasal terjadinya sesuatu. Dongeng ini memang banyak yang tidak masuk akal, tetapi hal ini dilakukan oleh masyarakat dahulu untuk mencoba mengetahui kejadian suatu hal, terutama hal-hal yang terkait dengan mitos sakral kepercayaan masyarakat Sunda.
Contoh dongeng yang dikenal adalah: Dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi dalam dongeng asal muasal Gunung Tangkuban Parahu. Dongeng asal muasal Padéglang. Dongeng tentang ular sanca menjadi tidak berbisa. Dongeng gagak menjadi hitam.
Dongéng Jurig, berupa kisah-kisah misteri hantu atau Jurig, yang suka menampakkan diri untuk menakuti manusia. Di pohon besar berusia tua, gedung tua yang tak terpelihara, gua-gua, kuburan keramat, dan tempat-tempat yang diyakini angker atau sanget, selalu memiliki cerita misteri tersendiri.
Baik yang percaya ataupun tidak, terdapat beberapa jenis hantu yang lama dikenal oleh masyarakat Sunda, di antaranya: Jin, Kuntianak atau Kunti, Banaspati, Kala, Jurig Cai, Kiciwis, Kelongwewe, Leled Samak, Ririwa. Setiap jenis hantu ini memiliki ceritanya sendiri.
Dongéng Sasatoan atau ragam cerita fabel yang mengisahkan tentang hewan-hewan. Biasanya selalu tersirat pesan-pesan moral untuk manusia. Cerita fabel Sunda yang paling dikenal adalah Sakadang Peucang atau Sang Kancil dan Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet.
Dongéng Kajajaden atau cerita makhluk jadi-jadian, yang biasanya bertutur tentang pengalaman manusia ketika bertemu dengan berbagai makhluk jadi-jadian. Seperti Adén-adén, yaitu harimau yang menjelma menjadi manusia yang dibawah hidungnya tidak memiliki lekukan dengan suara yang sengau. Ipri, yaitu binatang jenis ular yang menjelma menjadi sosok wanita cantik .
Atau Kuntianak, sejenis hantu yang menjelma manusia berupa wanita berambut panjang yang tergerai ke belakang untuk menyembunyikan lubang di punggungnya. Salah satu penulis dongeng hantu yang terkenal di masyarakat Sunda adalah Ki Umbara. Banyak menulis cerita-cerita pendek misteri, salah satunya “Kasarung”.
Manfaat Dongeng
Dongeng banyak digemari oleh berbagai kalangan umur di masyarakat, khususnya anak-anak. Cerita-cerita Sunda merupakan dongeng yang menarik untuk dikisahkan kepada anak dalam memupuk keharmonisan emosional di keluarga. Menjadi cara kreatif untuk menanamkan moral yang tersirat dalam berbagai alur cerita-cerita dongeng rakyat Sunda.
Selain itu, anak-anak akan melihat pendongeng sebagai sosok tauladan yang gemar membaca pada usia dini mereka. Alur cerita dongeng melatih kemampuan imajinasi, daya kritis anak, memperkaya kosa kata, dan melatih bercerita kembali agar anak memiliki potensi kreatif yang kelak bisa dikembangkan.
Bagi orang tua, luangkan waktu dan jadilah pendongeng yang baik untuk anak-anakmu! Selamat mendongeng.






