Menjadikan Donor Darah sebagai Gaya Hidup
Ilustrasi donor darah
Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak instansi pemerintah maupun swasta yang mengusung kegiatan donor darah sebagai agenda rutin tahunan, misalnya saat peringatan hari ulang tahun instansi. Maraknya kegiatan ini bisa jadi sebagai akibat kampanye donor darah sebagai gaya hidup yang digaungkan pada pertengahan tahun 2010.
PMI (Palang Merah Indonesia) dengan gencar mengampanyekan kegiatan donor darah sebagai gaya hidup dengan berbagai terobosan. Salah satu terobosan yang dilakukan oleh PMI adalah dengan menjalin kerja sama dengan universitas-universitas besar yang memiliki jumlah mahasiswa lebih dari 20.000 orang. Universitas menyediakan tempat yang dapat digunakan oleh PMI sebagai unit transfusi darah. Dengan cara ini, diharapkan para mahasiswa dapat mendonorkan darahnya setiap waktu.
Selain itu, PMI juga menjalin kerja sama dengan mal dan pusat perbelanjaan. Para pengelola mal dan pusat perbelanjaan diminta untuk menyediakan tempat bagi PMI. Unit donor darah di mal dan pusat perbelanjaan antara lain bisa ditemukan di Senayan City, pusat grosir Tanah Abang Jakarta, dan Olympic Garden Malang.
Berbagai terobosan yang dilakukan PMI ini dilakukan demi mencapai stok darah ideal untuk tingkat nasional. Idealnya, stok darah nasional adalah 2% dari jumlah penduduk. Untuk Indonesia, jumlah stok darah ideal yang harus dimiliki adalah 4,5 juta kantong darah.
Selain berusaha mencapai stok darah yang ideal secara nasional, PMI juga harus dapat menyediakan darah dari beragam golongan darah yang ada, mulai dari golongan darah A, golongan darah B, golongan darah AB, dan golongan darah O. Jumlah stok ini harus terus diusahakan untuk tercapai agar tidak terjadi kasus-kasus antrean permintaan darah, keterlambatan pemenuhan atas permintaan darah, dan munculnya calo-calo darah yang memanfaatkan situasi kekurangan stok darah.
Kurangnya stok darah di PMI ini rupanya juga menumbuhkan gerakan-gerakan mandiri yang peduli pada sesama terutama mereka yang membutuhkan darah. Salah satu gerakan yang cukup dikenal adalah gerakan Blood For Life. Gerakan ini berisi orang-orang yang sukarela dihubungi oleh yang membutuhkan darah karena kebutuhan darahnya tidak bisa dipenuhi oleh PMI. Gerakan ini terus berkembang dan menuai simpati banyak orang sehingga anggotanya pun bertambah banyak.
Gerakan serupa juga muncul di komunitas-komunitas kecil seperti di gereja atau masjid. Mereka hadir demi mengatasi keterbatasan jumlah darah yang mampu disediakan oleh PMI.
Mitos Seputar Donor Darah
Kampanye donor darah sebagai gaya hidup yang diiringi dengan terobosan-terobosan baru oleh PMI juga harus didukung dengan penjelasan mengenai manfaat mendonorkan darah bagi orang lain dan bagi diri pendonor itu sendiri. Mengapa? Itu karena ada mitos-mitos yang berkembang di masyarakat yang membuat sebagian orang urung menjadi pendonor.
Contohnya saja mitos yang diyakini oleh sebagian orang bahwa mendonorkan darah bisa menyebabkan badan menjadi lemas. Padahal, kenyataannya pada saat pengambilan darah, jumlah darah yang diambil hanyalah 250-500 cc. Jumlah ini cukup kecil bila dibandingkan dengan jumlah darah dalam tubuh manusia yang mencapai 5000 cc.
Agar tidak lemas, para pendonor disarankan untuk makan paling tidak empat jam sesudah melakukan donor darah. Karena itulah, biasanya dalam setiap aksi pendonoran, para pesertanya diberi makanan dan minuman.
Mitos berikutnya mengatakan bahwa wanita sebaiknya tidak ikut donor darah. Tentu hal ini tidak benar sebab siapa saja yang memenuhi syarat untuk menjadi pendonor bisa melakukannya. Kecuali untuk wanita yang dalam keadaan hamil, menyusui, atau menstruasi, memang tidak disarankan untuk menjadi pendonor.
Lantas, apakah mendonorkan darah bisa membuat tubuh menjadi gemuk? Jawabannya, tentu saja mendonorkan darah tidak mengakibatkan kegemukan. Mendonorkan darah sama sekali tidak memiliki kaitan dengan faktor-faktor penyebab kegemukan. Kegemukan disebabkan oleh jumlah kalori yang dikeluarkan lebih sedikit daripada jumlah kalori yang masuk.
Anggapan yang salah bahwa PMI memperjualbelikan darah juga menjadi faktor menyebab banyak orang mendonorkan darah. Padahal, pihak PMI tidak memperjualbelikan darah. Biaya yang dipungut oleh rumah sakit untuk setiap kantung darah yang digunakan oleh pasien merupakan biaya pengganti pengolahan darah saja. Biasanya, pihak rumah sakit memungut biaya pengganti pengolahan darah sebesar Rp120.000 untuk setiap kantung darah.
Manfaat Donor Darah
Bila penjelasan mengenai mitos-mitos yang beredar di masyarakat tersebut bisa disampaikan dan dipahami oleh semua kalangan, tren donor darah sebagai gaya hidup akan semakin diminati. Donor darah sejatinya memberikan banyak manfaat kepada orang lain dan juga bagi diri si pendonor. Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan bila Anda melakukan donor darah secara teratur. Berikut ini beberapa manfaat tersebut.
- Sebelum mendonorkan darah, para calon pendonor akan diperiksa kesehatannya untuk mencegah penularan penyakit melalui darah yang akan diberikan kepada orang lain. Penyakit-penyakit yang tidak boleh dimiliki oleh seorang calon pendonor adalah HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan malaria. Karena itu, bila Anda mendonorkan darah, berarti Anda sekaligus memeriksakan diri Anda. Manfaatnya, Anda bisa mengetahui sejak dini penyakit-penyakit yang mungkin Anda derita.
- Bila Anda sedang berusaha menurunkan berat badan, pendonoran bisa menjadi salah satu cara jitu untuk menurunkan berat badan Anda karena pembakaran kalori akan terbantu kurang lebih 650 kalori sebagai akibat diambilnya sekira 450 ml darah Anda.
- Darah yang Anda berikan akan membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Tahukah Anda bahwa satu kantung darah dapat menolong tiga nyawa? Kenyataan ini akan menimbulkan perasaan positif pada diri Anda sehingga akan menghadirkan energi positif dan semangat baru.
- Saat darah diambil dari tubuh Anda, jumlah sel darah merah dalam darah pun akan berkurang. Selanjutnya, sumsum tulang belakang akan bekerja untuk menghasilkan sel darah merah baru. Jadi, tubuh Anda pun akan mendapatkan sel darah baru yang segar. Dengan melakukan donor darah secara teratur, siklus pembuatan sel darah baru ini pun secara rutin akan terjadi.
- Mendonorkan darah bisa membuat jumlah zat besi dalam darah menjadi lebih stabil. Tahukah Anda apa akibat yang muncul bila jumlah zat besi dalam darah tinggi? Tingginya kadar zat besi di dalam darah merupakan salah satu penyebab penyakit jantung. Tingginya kadar zat besi ini merupakan biang terjadinya oksidasi kolesterol. Bila oksidasi kolesterol menumpuk di dinding arteri, kemungkinan terjadinya serangan jantung dan stroke semakin besar. Simpulannya, mendonorkan darah secara teratur bisa menghindarkan Anda dari penyakit jantung dan stroke.
Syarat Donor Darah
Ternyata tidak semua orang yang ingin mendonorkan darahnya bisa diterima begitu saja. Ada syarat-syarat kesehatan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin mendonorkan darahnya. Persyaratan ini bertujuan agar tidak terjadi penularan penyakit melalui transfusi darah dan pendonor pun tidak terganggu kesehatannya. Nah, berikut ini syarat-syarat bagi para calon pendonor.
- Berusia 17 tahun hingga 60 tahun
- Memiliki berat badan minimal 45 kg
- Tekanan darah normal yakni sistole 100-160 mmHG dan diastole 70-100 mmHG
- Bagi kaum wanita, tidak sedang hamil, menyusui, atau menstruasi
- Tidak memiliki penyakit menular seperti HIV, malaria, sifilis, dan hepatitis
- Bukan seorang alkoholik
- Tidak sedang mengalami sakit seperti demam atau influenza
- Tidak menerima transfusi darah kurang dari satu tahun
- Tidak membuat tato, memasang tindik, atau melakukan akupuntur kurang dari setahun
- Tidak mencabut gigi kurang dari tiga hari sebelum waktu mendonor
Semoga informasi seputar donor darah di atas mampu mengusir keragu-raguan Anda untuk menjadi seorang pendonor. Yakinlah bahwa setetes darah Anda mampu menyelamatkan nyawa orang yang membutuhkan.

