Download Film Perempuan Berkalung Sorban
Ilustrasi download film perempuan berkalung sorban
Tiga tahun terakhir, jagad perfilman Indonesia disemarakkan oleh trend film bernuansa sensitif gender, misalnya Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban, dan sebagainya. Berbondong-bondong para pecinta film menyerbu bioskop. Bahkan, tidak sedikit juga yang mendownload film perempuan berkalung sorban dari internet.
Film-film tersebut termasuk film yang sensitif gender karena memposisikan perempuan pada sisi ‘korban’ sistem dan tradisi patriarki. Dalam film Perempuan Berkalung Sorban umpamanya, disadari atau tidak telah menorehkan resensi kritis dari berbagai pihak.
Anda pasti sedikit banyak tahu film Perempuan Berkalung Sorban yang intinya pengekangan HAM terhadap perempuan yang terpenjara oleh dogma klasik patriarki (segalanya berukuran menurut laki-laki).
Mari kita kerucutkan bahwa diskusi ini bukan membahas soal hukum agama tertentu secara spesifik, tetapi dari sisi berbagai aspek pluralisme kehidupan, terutama perempuan sebagai manusia sama seperti laki-laki.
Agaknya, inilah yang menjadi bahan keprihatinan para feminis yang menyoroti bahwa kini kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi secara fisik (nyata), tetapi juga di media (dalam konteks ini, film).
Menurut anggota DPR dari Fraksi PDIP yang juga seorang feminis Eva Kusuma Sundari, di Jakarta beberapa waktu mengatakan, bahwa beberapa film kebanyakan tidak sensitif gender. Ini tampak jelas bahwa masyarakat masih menganut norma klasik, dan skeptik.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sadar atau tidak telah melakukan praktik misoginis dengan menguatkan tabu dan mitos lewat pengusungan budaya tradisional yang cenderung disalahpahami. Misalnya, perempuan selalu dihubungkan dengan salah paham agama yang sempit, yang semuanya diterjemahkan dalam kepentingan politik seksual.
Dalam buku berjudul Sexual Politics, Kate Millett, seorang feminis mengungkap bahwa paham misoginis mengambil berbagai macam bentuk seperti tabu, mitos, dan pengetahuan yang didasarkan konsep patriarki yang cenderung menyesatkan. “Perempuan di-reformasi, diciptakan ulang dengan merestriksi tubuh perempuan sesuai dengan keinginan laki-laki, pikiran dikontrol, diatur dan disuruh untuk mematuhi segala aturan masyarakat patriarki.” (Millett, 1971:51-53 dan Ussher, 1991:20-21).
Ingat kembali film Perempuan Berkalung Sorban yang mengisahkan seorang perempuan yang diasosiasikan dengan mahluk yang berbahaya secara moral, penggoda, tidak dapat dipercaya, dan binal, jika ia keluar dari sistem patriarki yang selama ini seolah menjadi norma sakral tak tertulis di masyarakat.
Bukankah ini menjadi stigma negatif yang akan membentuk stereotif dan opini publik terhadap perempuan? Bayangkan jika selamanya perempuan harus hidup di tengah-tengah kungkungan rasa ketakutan yang sengaja direkonstruksi oleh segelintir pihak tertentu.
Padahal, perlu tiap orang pahami bahwa seks, tubuh, dan sensualitas manusia merupakan eskpresi kebebasan intelektual yang tidak mengandung bahaya apapun selama kebebasan itu bertanggung jawab.
Film tentu sebagai media kampanye masal yang pengaruhnya sangat kuat, termasuk melanjutkan sejarah peradaban manusia, tetapi akan lebih bijak apabila tema-temanya sensitif gender.

