Drama
Hampir seluruh film berisikan drama. Jadi film yang mengaku bergenre drama, artinya dia lebih drama dari drama itu sendiri, maksudnya apa? Tentu saja gabungan kejadian tragis, emosional, dan bernas dalam suatu situasi yang pelik dan butuh pemecahan. Membuat penonton gemas dan berandai-andai menjadi si tokoh yang terlibat. Karena penonton memiliki jawaban tersendri dari apa yang tengah terjadi.
Film drama menonjolkan akting dari para aktor dan aktrisnya, yang membuat situasi dramatis sehari-hari begitu hidup. Sebagai contoh yang mudah adalah film Kramer vs Kramer, di mana ada situasi untuk berebut anak dari pasangan yang bercerai.
Film sengketa anak itu juga pernah di Indonesiakan, mengambil dari kisah nyata. Bedanya ini masalah bayi yang tertukar, dalam film Dewi & Cipluk: Semua Sayang Kamu. Apapun yang terjadi, Drama telah bisa menghadirkan kemanusiaan pada yang menontonnya.
Ilustrasi drama
Drama Sebuah Pertunjukan Berusia Tua
Hakikatnya drama adalah sebuah pertunjukan yang diperankan oleh aktor maupun aktris. Drama bisa dipertunjukkan melalui beberapa media. Drama sebagai satu pertunjukan langsung di atas panggung, drama sebagai sebuah film, atau drama sebagai tayangan di televisi. Layaknya sebuah pertunjukkan, drama juga bisa disuguhkan bersamaan dengan musik dan tarian, atau yang biasa disebut dengan melodrama.
Di negara asalnya, Yunani, drama dilambangkan dengan dua topeng berwarna putih dan hitam yang masing-masing memiliki ekspresi yang berbeda. Topeng berwarna hitam atau Melpomene melambangkan tragedi, kesedihan, dan duka. Sedangkan topeng warna putih atau Thalia menunjukkan ekspresi kegembiraan, kesenangan, dan suka cita. Kedua topeng tersebut melambangkan ekspresi yang dihasilkan dari pertunjukan drama.
Drama dan Sejarahnya
Budaya-budaya berteater di negara Yunani menciptakan tiga aliran pertunjukan drama. Tiga jenis pertunjukan tersebut dikenal juga dengan istilah genre. Yaitu, genre tragedi, genre komedi, dan genre satir. Pada abad ke-5, ketiga genre drama itu diperlombakan sebagai bagian dari perayaan bagi Dewa Dionysus.
Pertunjukan drama yang berasal dari Yunani kemudian menyebar hingga Eropa. Di Eropa, oleh teater yang berada di Romawi, drama dari Yunani itu kemudian mengalami variasi dari berabagai hal.
Teater Romawi menghasilkan karyanya yang pertama. Karya tersebut terbilang penting karena sebagai tolok ukur kejayaan teater Romawi. Karya tersebut berupa drama tragedi dan komedi yang ditulis oleh Livius Andronicus. Beberapa seniman drama yang terkenal saat itu adalah Gnaeus Neavius, Titus Maccius Plautus, dan Terentius Afer Publius.
Pada abad pertengahan, seniman drama yang terkenal salah satunya adalah Shakespeare. Cerita drama yang ditulis berkisar pada cerita-cerita yang terjadi di kerajaan Roma jaman dahulu.
Shakespeare adalah satu di antara seniman Roma yang terkenal. Selain ia pun, nama-nama seperti Christopher marlowe, Thomas Middleton, dan Ben Jonson cukup diperhitungkan di masanya. Dramawan lain yang terkenal dari zaman kerajaan Romawi adalah Plautus dan Terence.
Pertunjukan drama kemudian berkembang ke seluruh dunia. Kali ini, Asia juga ikut merasakan. Negara India salah satunya. Di India terkenal dengan drama Sansekerta. Mitologi dan sejarah menjadi pertunjukan utama yang disuguhkan pada para penonton pertunjukan drama di India. Seperti cerita epos Ramayana dan Mahabharata.
Selain di India, drama juga diminati di Cina dan Jepang. Tentu saja tiap-tiap negara etrsebut memiliki kekhasan yang berbeda, baik jalan cerita maupun bagaimana drama itu dipertontonkan.
Bentuk-Bentuk Drama
Berdasarkan pertunjukannya, drama dibagi menjadi tiga, yaitu opera, pantomim, dan drama kreatif. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ketiga bentuk drama tersebut.
1. Opera
Pertunjukan opera banyak dilakukan di negara-negara barat. Opera termasuk dalam seni drama tragedi atau dramatis. Pertunjukan opera bukan hanya sekadar mempertontonkan kemampuan akting dari para pelaku peran, tapi juga kemampuan menyanyi, dan bermusik. Opera terkenal dengan jenis musik yang mengiringi suara mendayu-dayu.
2. Pantomim
Drama jenis ini biasanya berdasarkan cerita dongeng yang terjadi di masyarakat. Pada pertunjukan pantomim, nilai moral biasanya sering diselipkan. Ciri khas dari pertunjukan ini adalah pelaku yang menggunakan topeng dengan gerak yang cenderung aneh. Para pelaku seolah menciptakan benda-benda di dunia khayalnya sendir, dan memperlakukan bahwa benda tersebut ada.
3. Drama Kreatif
Drama jenis ini bisa dikatakan sebagai drama yang sudah mengalami berbagai perubahan. Drama kreatif adalah satu-satunya jenis drama yang cocok dimainkan oleh anak-anak. Biasanya, drama kreatif sering dipertontonkan pada saat acara-acara sekolah.
Unsur-Unsur Drama
Di dalam sebuah drama, ada unsur-unsur yang membangun pementasan drama tersebut. Unsur tersebut ada unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik sebuah drama adalah unsur yang berhubungan langsung dengan pementasan drama tersebut. Unsur intrinsik tersebut adalah sebagai berikut.
1. Naskah drama
Di dalam sebuah pementasan drama, hal yang paling dasar adalah naskah drama itu sendiri. Naskah drama adalah sebuah naskah karangan yang berisi tentang cerita atau lakon.
Di dalam naskah drama tersebut terdapat lakon atau tokoh-tokoh cerita yang diberi nama, ada dialog antara tokoh tersebut, dan penjelasan mengenai keadaan di atas pentas.
Penjelasan latar di dalam sebuah naskah drama harus jelas, baik latar tempat, latar waktu, atau latar suasana. Pencahayaan, tata busana dan tata suara, atau suasana di atas panggung tersebut harus dijelaskan secara jelas di dalam naskah drama.
Di dalam naskah drama yang lebih diutamakan adalah dialog antara tokoh cerita drama tersebut yang membangun cerita di dalam naskah drama tersebut. Di dalam naskah drama di bagi atas beberapa babak dalam mengatur alur ceritanya. Setiap babak tersebut berisi peristiwa dengan waktu dan suasana tertentu sesuai dengan alur ceritanya.
Selain itu, di dalam naskah drama biasanya ada penjelasan lainnya yang menerangkan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pementasan. Contohnya, penjelasan mengenai ekspresi dan gerakan para pemain atau peralatan apa saja yang dibutuhkan di setiap babak.
2. Pemain atau Tokoh Drama
Di dalam sebuah pementasan drama, tentu saja ada pemeran tokoh drama atau disebut sebagai pemain drama. Pemain drama adalah orang yang memerankan seorang tokoh di dalam naskah drama yang dipentaskan.
Sebagai seorang pemain drama, tentu saja harus benar-benar memerankan tokoh yang ada di dalam naskah drama tesebut. Jadi, seorang pemain drama harus menguasai perannya di dalam naskah drama dan mampu memerankan watak, ekspresi, tingkah lakunya, dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tokoh tersebut.
3. Sutradara
Di dalam sebuah pementasan drama, diperlukan seorang sutradara drama. Sutradara adalah orang yang memimpin dalam pementasan drama tersebut. Untuk dapat mementaskan sebuah drama, seorang sutradara bertugas untuk memilih naskah drama apa yang akan dipentaskan.
Kemudian, sebagai seorang sutradara harus benar-benar memahami naskah drama secara keseluruhan, mulai dari tokoh, latar, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pementasan drama.
Setelah itu, seorang sutradara harus memilih orang-orang yang akan memainkan tokoh-tokoh yang ada di dalam naskah drama. Pemain yang terpilih akan dibimbing terlebih dahulu oleh sutradara untuk memahami perannya di dalam pementasan drama nantinya.
Selain itu, seorang sutradara harus mengurusi segala sesuatunya yang berhubungan dengan pementasan drama, seperti penata rias dan busana, penata panggung, dan lain-lainny, sehingga sutradara harus bekerja sama dengan para petugas dan mengkoordinasikan pada semua bagian yang berhubungan dengan pementasan drama.
4. Tata Rias
Di dalam sebuah pementasan drama, tata rias adalah bagian yang sangat penting juga, terutama untuk seorang pemain. Tata rias adalah bagian dari unsur pementasan drama untuk merias para pemain drama. Penata rias tersebut harus merias para pemain sesuai dengan peran dan wataknya di dalam pementasan drama tersebut.
5. Tata Busana
Para pemeran dalam sebuah pementasan drama tentu saja memerlukan kostum atau busana. Untuk itu, di dalam sebuah pementasan drama dibutuhkan seorang tata busana. Tata busana adalah unsur drama yang mengarur busana atau kostum para pemain, mulai dari jenis pakaian, model, sampai cara pemakaiannya.
Busana para pemain drama harus sesuai dengan peran para pemain tersebut di dalam naskah drama. Penata busana harus mengatur hal tersebut, sehingga pementasan drama tersebut ditampilakan secara maksimal dan bagus. Biasanya, tata busana ini sering dipadukan dengan tata rias.
6. Tata panggung
Pementasan drama dilakukan di sebuah panggung atau tempat yang dapat dipakai sebagai arena bermain drama. Untuk itu, dalam pementasan tersebut diperlukan tata panggung agar latar suasana yang ada di dalam naskah drama tersebut dapat diaplikasikan ke dalam tata panggung.
Tata panggung adalah penataan arena atau panggung untuk pementasan drama. Biasanya, tempat pertunjukan drama tersebut posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan penontonnya agar pementasan drama tersebut dapat dilihat oleh semua penonton.
Panggung pementasan drama tersebut harus ditata sesuai dengan latar tempat, latar waktu, dan latar suasana yang ada di dalam naskah drama tersebut. Di setiap babak, tata panggung mengalami perubahan karena latar di setiap babak biasanya berbeda.
7. Tata Lampu
Selain tata panggung, tata lampu juga berperan sangat penting di dalam sebuah pementasan drama. Tata lampu adalah pengaturan pencahayaan di dalam panggung pada waktu pementasan drama.
Tata lampu harus dapat mengatur cahaya pada saat drama berlangsung dan harus sesuai dengan latar cerita tersebut karena tata lampu dapat memengaruhi latar dan alur cerita drama yang dipentaskan.
8. Tata Suara
Tata suara adalah pengaturan terhadap suara-suara yang berhubungan dengan pementasan drama. Di dalam sebuah pementasan drama, tata suara sangat penting juga agar pertunjukan drama tersebut sesuai dengan latar dan alurnya.
Tata suara juga dapat membantu para penonton untuk memahami dan menghayati isi cerita drama yang dipentaskan. Tata suara harus diatur agar dapat terdengar oleh para penonton.
Unsur-unsur intrinsik tersebut tidak terlepas dari unsur ekstrinsik drama, yaitu biografi pengarang, penonton, dan pengaruh pementasan drama terhadap kehidupan masyarakat luas.
Salah satu unsur ekstrinsik yang sangat memengaruhi pementasan drama adalah penonton. Penonton termasuk unsur yang dapat menentukan apakah pementasan drama tersebut berhasil atau tidak.

