logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Artikel Umum Film    Dunia Film

Ketika Perempuan Iran Menjelajahi Dunia Film

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Iran. Bukan Irak. Apalagi Irlandia. Hanya Iran. Dan, siapa pun tak akan bisa menggantikan negeri Ayatollah Khomeini itu dengan lain nama. Meski beberapa kali mendapat tekanan dan embargo dari Barat, ia tetap teguh dan tegas terhadap upaya westernisasi dalam bentuk apa pun. “Taring” negeri bercita rasa islami itu memang terkenal militan di mata dunia.

Mungkin, hanya itu yang selama ini diketahui dari Iran. Tapi, tunggu dulu! Sebab, ada realitas yang diam-diam coba ditunjukkan kepada dunia. Sesuatu yang mengandung kreativitas yang berakar dari kenyataan itu sendiri. Lahir dan tumbuh dengan inspirasi dari dalam jiwa sendiri. Dan, tak banyak orang yang mengetahuinya.

Tentang kaum Hawa Iran yang telah begitu jauh menjelajahi dunia film. Inilah realitas tersembunyi yang dengan sengaja ditutup-tutupi di negeri sendiri. Terlebih ketika Revolusi Islam Iran terjadi, di mana kalangan fundamentalis memegang kuasa penuh atas segala sendi kehidupan rakyatnya.

Walau begitu, para sutradara, script writer, dan aktris Iran itu tetap bergerak “di bawah tanah”. Tak diterima di tanah sendiri, mereka pun akhirnya menjelajahi dunia film di luar bangsanya. Padahal, jika boleh jujur, kapasitas mereka dalam perfilman tak bisa dipandang sebelah mata. Ingin tahu lebih lanjut tentang siapa mereka? Inilah para perempuan Iran yang berhasil membuka mata dunia tentang keberadaan mereka dengan segala keterkungkungan atas kreativitasnya.

Marzieh Meshkini

Perempuan yang lebih kondang sebagai Marzieh Makhmalbaf ini terkenal dengan cara pandang yang cenderung feminis. Namun, dia sendiri tak suka disebut sebagai pengikut aliran yang menghendaki kesetaraan antara perempuan dan lelaki dalam bidang apa pun itu. Perempuan kelahiran Teheran pada 1969 ini hanya meyakini bahwa ada kesamaan hak di antara pria dan perempuan.

Secara fenomenal, ia mencatatkan cara pandangnya itu dalam film The Day I Became a Woman (Roozi ke Zan Shodam). Film pertama hasil besutan Marzieh ini diproduksi berdasarkan skenario karya Mohsen Makhmalbaf —sang suami.

Jangan ditanya bagaimana sambutan Barat terhadap film yang khas Marzieh tersebut, kala kemunculan pertamanya. Luar biasa! Penonton Barat dibuat tertegun dan mengulum kagum akan sudut pandang yang ditawarkan Marzieh lewat film perdananya. Bagaimana tidak?  

Film itu berkisah tentang tiga perempuan dengan pergulatan hidupnya masing-masing. Semua mereka lakukan demi identitas keperempuanan yang selama ini cenderung dipinggirkan di Iran.

Hava hadir dalam kisah pertama. Dalam usia belia, yaitu saat hari kelahirannya yang kesembilan, Hava dipaksa menjadi wanita seutuhnya oleh nenek dan ibunya. Tak ada lagi permainan seru bersama kawan-kawannya yang lelaki. Mengikuti pertandingan ala bocah kecil, atau sekadar berjalan berdampingan dengan sahabat laki-laki pun tak diizinkan. Ujung-ujungnya, Hava wajib berjilbab rapat, lengkap dengan cadar penutup wajah manisnya. Terkunci sudah pintu kebahagiaan di dunia kanak-kanaknya.

Cerita kedua diwakili oleh Ahoo; perempuan bersuami yang ngebet bertanding dalam balap sepeda. Diam-diam, dia mendaftarkan diri dalam perlombaan itu. Tetapi, sial memang tak dapat diduga. Saat sepedanya siap berlari kencang, sang suami mengejar Ahoo dan menyuruhnya mengakhiri balapan. Bagi lelaki itu, pulang dan mengurus seisi rumah adalah yang utama bagi seorang istri.

Sampai di rumah, suami Ahoo mengancam akan menceraikan perempuan tangguh itu. Sayang, hasrat bertanding Ahoo tak bisa dibendung. Dia tetap saja ikut balapan sepeda, sampai-sampai suaminya terpaksa melibatkan seorang mullah untuk menceraikannya.

Kisah terakhir bertutur tentang Hoora. Janda paruh baya itu berniat membeli semua benda yang tak sempat dimilikinya ketika ia masih menjadi istri. Dengan uang warisan cukup besar, Hoora membayar beberapa bocah untuk membantunya membawa barang-barang kesukaannya. Sebelum pergi ke pasar, ia harus mengikat jari-jarinya dengan seutas benang. Tentunya agar ia tak lupa tentang apa saja yang ingin dibelinya.

Jalan cerita akhirnya mempertemukan ketiga perempuan itu dalam satu frame, meski satu sama lain tak saling kenal. Ketika menunggu kapal yang akan membawa Hoora dan aneka barang yang dibelinya, dua wanita menatapnya. Ahoo yang tengah mengayuh kencang sepedanya, dan Hava dengan paras cantik tertutup cadar.

Sebuah filmografi yang memikat dan puitis, bukan? Sebuah kritik simbolis terhadap pandangan dan perlakuan kaum maskulin di Iran. Dahsyatnya, film itu dibuat ketika usia Marzieh baru menginjak awal 30-an. Beberapa penghargaan bergengsi pun direngkuh Marzieh atas filmnya. Di antaranya, The Volkswagen Discovery Award dalam Toronto International Film Festival di Kanada (2000), plakat emas sebagai Best First Film dalam Chicago International Film Festival di AS (2000), dan The Best Asian Film dalam Pusan International Film Festival di Korea Selatan (2000).

Meski kariernya di dunia film diawali dengan hanya menjadi asisten sutradara, film kedua Marzieh tak kalah fenomenal dengan film sebelumnya. Stray Dogs pun mendapat pujian luas di kalangan kritikus dan pencinta film Barat. Akhirnya, Unicef Award dan The Silver Camera Award dalam Venice Film Festival (2004) berhasil dibawa pulang ibu yang kedua putrinya juga menggawangi perfilman Iran itu.  

Samira Makhmalbaf

Perempuan muda ini tak lain adalah putri pasangan sineas Mohsen Makhmalbaf dan Marzieh Meshkini. Gairah sinematografinya jelas mengalir di darahnya lewat bimbingan kedua orang tuanya. Dan, ia rupanya mewarisi bakat fenomenal sang ibu di usianya yang masih remaja.

Gadis Teheran kelahiran 15 Februari 1980 itu memulai debut penyutradaraan di usia 17 tahun. Bisa dipastikan, kehadirannya begitu mengejutkan dunia film. The Apple —film pertama yang dibuatnya pada 1997—diikutkan dalam kategori Sorotan Khusus Festival Film Cannes 1998.

Saat itu, tak ada sutradara peserta festival bergengsi itu yang lebih muda daripada Samira. Ya, dialah yang termuda di sana, dan mendapat sambutan luar biasa atas film debut pertamanya itu. Tak sebatas itu. Dalam dua tahun, film tersebut telah mengikuti lebih dari seratus festival film internasional, dan diputar di bioskop lebih dari tiga puluh negara.

Istimewanya, kecintaan Samira pada film membuatnya rela drop out, enam bulan menjelang ujian kelulusannya dari bangku SMP. Dia sendiri yang membuat keputusan mengejutkan itu, tepatnya ketika baru berusia 15 tahun. Ketika sang ayah mencegah niatnya, Samira berkata bahwa dia merasa tak memperoleh apa pun dari sekolah, sehingga ingin memahami hidup melalui film.

Pilihan Samira meninggalkan bangku sekolah ternyata adalah pilihan yang terbaik dalam hidupnya. Dia pun melanjutkan pendidikan di Makhmalbaf Film House; lembaga pendidikan yang fokus mencetak calon sineas berbakat. Lembaga tersebut didirikan oleh ayah Samira. Di sana, bakat dan wawasannya tentang film kian terasah. Prestasinya bahkan terus meroket di usia yang masih muda.

Pada warsa 1999, Samira memproduksi film keduanya, The Blackboard. Ini adalah film inspiratif yang mencoba membidik masalah kemanusiaan di sekitarnya. Lewat film itu, ia menggugat nasib orang-orang Kurdistan yang selalu saja terpinggirkan dalam banyak hal. Cinta, kedudukan, dan kehormatan perempuan, serta kesetiaan pada negeri dipaparkan Samira dalam film keduanya itu.

Bisa ditebak, film itu akhirnya meraih anugerah Special Jury Price dalam Festival Film Cannes 2000. Sederet penghargaan internasional pun direbutnya, seperti Federico Fellini Honor Award dari UNESCO dan Francois Truffaut Award dari Italia.

Rabeah Ghaffari

Rabeah Ghaffari adalah perempuan multi-talenta dalam bidang perfilman. Sebagai aktris, namanya sangat populer di Negeri Paman Sam. Beberapa pementasan teater ternama di sana telah dijajalnya. Beberapa nama kelompok teater itu, antara lain, The Judith Anderson and The Kitchen, La MaMa, ETC, dan Theatre 22.

Peran utama dalam film Windows diraihnya pula. Film besutan sutradara Shoja Azari itu menggarap sembilan cerita pendek dengan cara yang unik. Semua kisah tersebut dijalin dalam satu film, dengan sudut pandang melalui jendela.

Karya pribadi Rabeah sendiri digarap dalam wujud film feature dokumenter berdurasi panjang, The Troupe. Lewat ini, Rabeah bertutur tentang perjalanan Ta’ziyeh—kelompok teater Iran—dari Iran menuju New York. Kelompok ini didirikan Mohammad Ghaffari; ayah kandung Rabeah. Berbagai tempat sepanjang perjalanan Ta’ziyeh direkam kamera Rabeah, seraya menghadirkan lakon fenomenal dalam sejarah: kisah kematian Imam Husein di Padang Karbala yang dikenal sebagai Asyura. Film tersebut mendapat sambutan meriah di Amerika.

Tak hanya sebagai sutradara dan aktris film, Rabeah juga mengedit film. Inside Out arahan sutradara Zohreh Shayesteh merupakan salah satu film yang diedit perempuan itu. Beberapa film karya Zohreh lainnya yang juga pernah mendapat sentuhan editing Rabeah, yaitu Picking Apple dan Drinking Tea. Film dokumenter lainnya yang dieditnya adalah Nobody’s Enemy karya sutradara Neda Sarmast. Inilah film yang berbicara mengenai kebudayaan yang melingkupi kaum muda Iran.

Kemampuan menulis Rabeah ternyata juga terasah. Sebuah novel berjuluk Caspian’s Sea merupakan salah satu anggitannya. Sementara itu, skenarionya yang bergenre komedi, Neyshapoor, termasuk dalam seleksi resmi IFP/Emerging Narrative 2005. Filmnya berkisah tentang sengkarut kehidupan Iran semasa Revolusi Islam, dalam pandangan bocah perempuan yang hendak mengunjungi kebun sang nenek di Nisyafur. Pengakuan dunia pun kian mengukuhkan nama Rabeah berkat skenario film tersebut.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Review Film Laskar Pelangi
  • Film Terbaru dan Pemutaran Perdananya yang Fenomenal
  • Film Horor Indonesia Identik dengan Film Panas
  • Aplikasi Cek Jadwal Pemutaran Film Bioskop 21
  • Perbandingan Nonton Film di Cinema XXI dan DVD
  • Mengenal Skenario Film Pendek
  • Mickey Mouse, Tikus Paling Populer di Dunia
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA