Nikmatnya dzikir hati
Ilustrasi dzikir hati
Apa yang ada dalam pikirkan seseorang bila bertemu dengan orang lain yang ada ditempat keramaian, tapi asyik komat-kamit sendiri. Belum tentu orang yang komat-kamit sendiri itu tidak waras. Bisa jadi, dia sedang melafalkan dzikir hati. Suara pelan, tapi, hatinya terus melafalkan kalimat dzikr.
Berdzikir dengan Lembut
Dzikir hati itu artinya menghadirkan hati mengingat Allah Swt. Tidak harus dengan menggunakan tasbih atau dengan suara yang keras. Cukup dengan menyentuh ruas-ruas jari sebagai pengingat kalau sedang berdzikir. Jumlah yang dibaca juga tidak harus hanya 33 kali. Ketika tidak ada hal yang dilakukan, berdzikirlah. Hadirkan jiwa dan raga dengan khitmad keribaan Sang Pengasih. Serahkan semua urusan kepada sang Pengatur kehidupan. Kalau tidak berdzikir, terkadang pikiran melayang ke mana-mana.
Ketika pikiran melayang ke mana-mana inilah, terkadang menjadi lengah. Kelengahan ini bisa membuat orang lain mengambil kesempatan melakukan tidakan yang tidak diinginkan. Tentu saja bukan sesuatu yang diinginkan kalau hal ini sampai terjadi. Kalau hati terus berdzikir, maka pikiran pun fokus dan jangan lupa bahwa Alalh Swt itu maha melihat dan maha mendengar. Orang alim atau orang-orang yang dekat dengan Allah Swt itu terkadang diberi kelebihan dengan mampu mendengar yang tidak bisa didengar oleh orang lain pada waktu yang tertentu.
Ia seolah mendapatkan firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi sehingga hatinya menjadi sangat waspada. Jangan main-main dengan para kekasih Allah Swt ini. Mereka melihat tidak dengan mata fisiknya. Mata hatinya sangat tajam dan ia mampu memilih perbuatan yang tepat pada waktu yang tepat. Jiwa mereka terjaga dan terpelihara. Mereka berusaha untuk tidak mengecewakan Allah Swt. Itulah mengapa Allah Swt juga tidak akan mengecewakan umay-Nya yang mengisi waktunya dengan segala ketaatan yang telah diperintahkan.
Orang yang berdzikir ini tidak akan membuang waktunya percuma. Waktu yang ia punya akan ia gunakan untuk mengabdi kepada Penciptanya. Ia tentu malu bertemu dengan Sang Pencipta itu dalam keadaan penuh dosa dan noda. Padahal ia terlahir dalam keadaan suci, putih nan fitri. Ia pun ingin kembali dalam keadaan yang sama. Ia tahu bahwa ia tidak akan luput dari segala noda dan dosa. Tetapi ia pun yakin bahwa ketika Allah Swt masih memberinya waktu, itu artinya ia diberi kesempatan untuk bertaubat dari segala noda itu.
Menonton televisi dengan acara yang tidak karuan yang tidak memberikan ketenangan batin, pasti tidak akan ia lakukan. Ia akan lebih memilih melakukan hal lain yang ,ebih bermanfaat seperti melakukan silaturrahmi kepada orang lain atau mengunjungi tempat-tempat yang akan menambah keimanannya. Ia akan banyak bergaul dengan orang-orang alim. Ia akan mengkaji dan mengaji Al-Quran daripada membaca bacaan yang tidak karuan yang hanya akan membuat batinnya menderita.
Berdzikir dengan kalimat yang pendek seperti ‘Ya Allah’, sudah cukup untuk membuat batin tenang. Kata ‘Ya Allah’ itu memberikan kekuataan batin yang dahsyat. Daripada berusaha menghapalkan nyanyian panjang yang tidak mempunyai makna surgawi, lebih baik menghapalkan dzikir yang akan membuat pikiran terus bertumpuh pada kedamaian dan ketenangan dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan onak dan duri ini.
Manusia Butuh Berdzikir
Allah Swt itu maha segalanya. Allah Swt tidak membutuhkan apa-apa dari hamba-Nya. Manusialah yang membutuhkan kehadiran Sang Pencipta itu dalam hatinya. Tanpa kehadiran ruh keilhaian dalam hati seseorang, maka kesombongan pasti akan mampir dalam hatinya. Saat kesombomngan itu telah hadir, yang akan tercipta adalah kegelisahan pada masa hati terasa kosong.
Banyak sekali orang-orang yang merasa kesepian di tengah keramaian. Orang-orang yang merasa berlimpah harta tetapi hatinya kosong dan ia cenderung melakukan banyak perbuatan dosa. Yang lebih berbahaya lagi adalah bahwa ia tidak merasa telah melakukan perbuatan dosa. Ia malah senang dan bahagia bahkan bangga dengan perbuatan dosanya itu. Yang lebih berbahaya lagi adalah ia mengajak orang lain untuk melakukan dosa.
Orang yang beriman akan merasa sangat bersalah ketika melakukan dosa sekecil apapun. Ia tahu bahwa Allah Swt pasti melihatnya dan tidak ada tempat bersembunyi yang tidak dilihat oleh-Nya. Perasaan bersalah dan bernoda ini tidak mudah didapatkan. Hanya orang yang menjaga hatinya yang akan bisa merasakannya. Bila hati itu telah begitu kotor dan bernoda, dosa-dosa itu tidak akan terasa lagi.
Mengucapkan ‘Laailaha illallah’ (tiada Tuhan selain Allah) seribu kali setiap hari sudah cukup menghadirkan rasa damai dalam hati. Sebenarnya angka 1000 itu bukan patokan karena yang paling penting adalah apakah dengan berdzikir itu hati menjadi tenang dan kalimat dzikir itu benar-benar merasuki hati. Menghadirkan hati, jiwa, dan raga saat berdzikir itu sangat penting. Menghadirkan hati artinya adalah kalimat dzikir itu dipahami dengan baik.
Menghadirkan raga, maksudnya adalah bibir mengucapkan kalimat dzikir dengan banr dan baik tanpa ada yang salah. Menghadirkan jiwa, maknanya adalah bahwa ucapan dzikir itu mampu membuat benteng yang kokoh sebagai bentuk perlindungan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Tidak mudah memang untuk rutin melakukannya. Begitu banyak godaan dunia yang membuat banyak orang lupa untuk berdzikir.
Mengikuti Majelis Dzikir
Ada baiknya mengikuti majelis dzikir agar hati tetap terpaut pada keagungan Allah Swt dan senang mengucapkan dzikir. Kalau tidak ada teman, terkadang diri menjadi kurang disiplin. Bumi Allah sangat luas. Seorang mukmin akan senantiasa diterangkan mata hatinya untuk terus mengagumi di setiap inci demi incinya. Mulutnya akan demikian ringan bertasbih memuji kebesaran Allah.
Bertahmid, bertakbir dan semua kalimat mulia yang terucap karena koneksitas hati yang demikian kuat pada Rabb-nya. Efek dzikir dengan hati memang akan memberi bekas luar biasa pada perilaku akhlak seorang hamba. Hati adalah misteri. Namun, setiap ucap dan sikap manusia adalah cermin hati yang paling mudah kita baca. Sekarang banyak sekolah kepribadian dan training motifasi hidup. Semua berguna untuk menunjang kualitas hidup manusia.
Namun, semua akan terasa timpang bila hanya mengangkat satu dimensi saja, yakni kemanusiaan. Perlu diakui, sisi holistiknya manusia terlihat bila ia mampu menyeimbangkan kualitas ragawi dan lahiriahnya. Rutinitas yang mendatangkan kenikmatan. Kita harus mengkondisikann hati dan menciptakan rutinitas dzikir dengan hati menjadi satu aktifitas yang membuat kita ketagihan laksana seseorang yang kehausan di tengah lautan.
Barangkali sebagian tulisan berikut ini bisa dijadikan referensi. Berangkatlah dari sesuatu yang tidak memberatkan. Dengan lafadz yang sudah dihapal dan telah dipahami artinya, Subhanallah, alhamdulillah dan Allahu akbar. Pendek memang, tapi sebuah hadits menceritakan betapa besar pahala bagi hamba yang bisa konsisten melakukannya. Adalah Fatimah binti Muhammad, diingatkan ayahandanya agar berdzikir dengan kalimah-kalimah ‘sederhana’ itu.
Banyak-banyaklah membaca bacaan yang menguatkan hati. Bahwa hati adalah sesuatu yang sangat rapuh. Tak satupun yang bisa menjamin kemana kecondongan hati kita kelak, saat sakaratul maut mendatangi. Bacalah kisah-kisah tentang perjalanan anak manusia yang penuh misteri. Ada Qorun yang semula beriman, namun karena kelalaiannya, Allah menenggelamkannya bersama harta-hartanya jauh ke dalam perut bumi. Atau kisah seorang pelacur yang akhirnya masuk surga karena sesuatu yang sepele, namun sesuatu itu dilakukannya karena iman.
Perbanyak Muhasabah. Muhasabah itu semacam introspeksi, kontemplasi dan sejenisnya. Intinya adalah menelisiki kekurangan diri dan menguatkan tekat akan terus meningkatkan kualitas hidup. Muhasabah akan membuat kita banyak beristighfar. Semua karena sisi kemanusiaan kita yang senantiasa lalai dan khilaf. Adalah Rasulullah senantiasa beristighfar hingga 100 kali dalam sehari. Sudahkah kita mengikuti salah satu sunnah beliau itu?
Perbanyak mengingat mati. Maut adalah keniscayaan. Tugas kita hanyalah menyiapkan diri untuk menyongsong kedatangannya. Salah satu bentuk dzikir hati adalah dzikrulmaut atau mengingat mati. Pernah disatu waktu Umar bin Khattab bertanya pada Rasulullah tentang siapa orang yang paling cerdas? Beliau menjawab bahwa manusia yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat mati.
Jika kita sudah bisa merasakan nikmatnya dzikir hati, maka akan terasa ada sesuatu yang kurang manakala kita meninggalkannya. Itulah kenikmatan yang dijanjikan Allah; kelezatan iman.

