logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ekonomi

Ekonomi Industri: Membaca Geliat para Goliath


Ilustrasi ekonomi industri

Ekonomi Industri telah memasuki era baru, yang lepas dari pengamatan para ahli sosial ekonomi. Ini dikarenakan para ekonom sibuk ‘autis’ dengan dunia rekayasanya sendiri, dan menyisakan sedikit remah kepahaman pada pengamat sosial, humaniora, dan politik. Misalnya bergesernya terma permintaan, penawaran, equilibrium yang merupakan ‘bahasa’ ekonomi Industri.

Terma itu lama ditanggalkan karena saat ini, terma mengenai posisi dan reposisi kegiatan ekonomi industri sebagai penopang kebudayaan manusia semenjak abad pertengahan, bersinggungan dengan bahasa baru di wiayah ekonomi, seperti komodifikasi, spasialisasi, dan ekonomi politik.

Komodifikasi adalah pembentukan pusat dan poros kebutuhan baru di tengah masyarakat, atau intinya bisa diandaikan sebagai pusat pembiakan benih-benih industri baru berdasarkan trend di masyarakat. Sementara spasialisasi merupakat market living yang terus ditanamkan kepada masyarakat, dan di tengah masyarakat, kini tidak ada lagi produsen konsumen, dengan spasiasasi semuanya harus menjadi konsumen, dan ekonomi politik merupakan ‘mainan’ baru para ekonom, yang garis besarnya mengukur seberapa jauh campur tangan penguasa terhadap tumbuhnya kaum elite ekonomi di suatu wilayah.

Tentu saja para ekonom akan berdiri lebih tinggi dan membenci situasi yang ditudingkan kepada mereka. Dunia ekonomi industri bagi mereka adalah wilayah yang harus bebas dari tafsiran lain selain modal dan modal. Pendapat itu boleh saja dikemukakan, namun siapa yang bisa berkelit dari tudingan para sosiolog seperti Raymond Williams, yang pernah menjelaskan bahwa modal telah modar dalam bukunya Long Revolution.

Dalam buku yang juga terinspirasi teori Marx dan perlawanan kelas pekerja itu mengungkap bahwa Industri tidak lagi membutuhkan mekanisme pasar, atau tangan gaib versi Adam Smith. Kemenangan kapitalisme akan berujung kepada pembusukan kapitalisme itu sendiri. Industri yang ditangani kaum kapitalis, telah menghilangkan human effort, terlebih bila membicarakan wilayah yang lebih gaib lagi seperti pajak negara dan eksesnya: pembangunan. Industri dengan sistem kapitalis telah melahirkan kaum elite dan konglomerasi yang lebih berkuasa dari penguasa politik.

Mereka mengontrol politik, moral, bahkan peradaban manusia. Bahkan kecenderungan ini didemontrasikan secara mengerikan oleh Amerika Serikat, dalam perang, demi terbukanya pasar baru dari industri dalam negeri yang megap-megap. Dan kali ini, perang tarif dan mata uang, yang diperlihatkan di antara negara-negara raksasa industri. Sebagai contohnya, tentang bagaimana bersikukuhnya China, sebagai akibat daya tahan devisa yang kuat, mematok tarif dan mata uang seenaknya, demi ekspor dan barang kualitas murah ke seluruh dunia.

Mematikan ‘pemain lama’ seperti AS, membangkitkan negara borjuisme baru di Eropa, seraya bersamaan membunuh negara pesakitan dengan lebih efektif dan cepat. Keruntuhan ekonomi, di Irlandia, Yunani, dan kebangkitan para trader service seperti Hanseatic League, Belanda dan Skandinavia, sulit dipahami dengan catatan numerik biasa. Ini bukan tugas para ekonom sendirian lagi. Karena menyangkut masa depan manusia.

Sekali lagi para ekonom tutup mata dan telinga terhadap kejadian kemanusiaan di atas. Dan para ahli sosial dan ilmuwan di bidang lain hanya bisa menunggu asupan teori yang bisa menjadi jalan keluar dari kemelut ekonomi industri macam ini. Beberapa ekonom simpatik, salah satunya nobelis Josep Stiglitz, tampak sendirian memberikan khazanah dan peta panduan secukupnya untuk memahami geliat para goliath ekonomi Industri.

Sindikasi tulisan-tulisannya sebagai ekonom yang memiliki daya simpati tinggi pada kemanusiaan secara umum, sangat dirindukan pada tatanan lokal. Sehingga, buku panduan, atau buku akademis di kampus-kampus mengenai ekonomi industri, tidak lagi dipahami sebagai catatan-catatan yang menyesatkan yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Perdagangan Bebas China-ASEAN (CAFTA) - Liberalisme Gaya Baru
  • Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah
  • PNPM Mandiri - Mengurai Benang Kusut Kemiskinan
  • Peranan Kas Kecil dalam Perusahaan
  • Masalah Pokok Ekonomi
  • Perkembangan Inflasi di Indonesia
  • Definisi Hukum Menurut Para Pakar - ANNEAHIRA.COM
  • Jadikan Asuransi Sinar Mas sebagai Asuransi Andalan Anda
  • Demokrasi Ekonomi untuk Kemandirian Bangsa
  • Mengenal Sistem Ekonomi Campuran
  • Konflik Ekonomi Antara Cina dan Amerika
  • Pengertian Ekonomi dan Istilahnya
  • Pengelolaan Pendapatan Nasional dengan APBN
  • Pasar Komoditas Impor di Indonesia
  • Ekonomi Pancasila: Sistem Perekonomian Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA