logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ekonomi

Ekonomi Perkotaan: Serbuan Pasar Modern Luar Negeri


Ilustrasi ekonomi perkotaan
Perkembangan pasar modern yang ditandai dengan berdirinya banyak mal, minimarket, dan supermarket besar yang mayoritas sahamnya dimiliki asing, telah menjadi suatu ancaman tersendiri bagi ekonomi perkotaan. Terutama, untuk para pedagang kecil dan para pedagang tradisional. Banyak hal yang terpengaruh oleh semakin menjamurnya minimarket modern yang menyebar di beberapa kota kabupaten di seluruh Indonesia.

Masyarakat Butuh yang Bersih dan Nyaman

Tak dapat disangkal bahwa belanja di pasar modern yang bersih memang nyaman dan tidak harus mencium bau tak sedap. Bebas memilih, barang-barang pun dalam keadaan bersih dan rapi. Tinggal masuk ke minimarket, pilih barang, masukan ke keranjang atau troley, bawa ke kasir, bayar. Selesailah acara belanja dan tidak harus beralma-lama. Mau beli satu boleh, apalagi kalau mau membeli satu keranjang penuh. Harganya sudah pas dan tidak harus melakukan tawar-menawar yang terkadang diberi sungutan oleh pedagang yang barangnya tidak dibeli.

Gambaran perasaan para pembeli di pasar modern itu merupakan satu hal yang memang tidak bisa dipungkiri. Pasar tradisional kadang membuat tidak nyaman karena suasana yang tidak mendukung dan kadang penjual yang tidak ramah. Kalau tidak jadi beli, pedagang tersebut akan marah-marah. Keadaan ini membuat bete dan sebal sendiri. Suasana yang tidak menyenangkan memang akan mempengaruhi perasaan. Tidak heran kalau ada wanita yang baru pulang dari pasar, merasa sangat lelah. Di pasar ia harus bersitegang dengan penjual yang tidak melakukan penimbangan dengan benar dan sesuai takaran.

Selain banyaknya pedagang yang jahil. Ada juga pedagang yang jahat. Mereka menjual barang dagangan yang mengandung zat berbahaya seperti formalin dan boraks. Harganya memang murah, tetapi kalau merusak kesehatan, buat apa. Keadaan ini sangat memprihatinkan. Akhirnya hal ini mengurangi jumlah orang untuk datang ke pasar tradisional. Apalagi bagi orang-orang yang berada pada tingkat ekonomi kelas menengah. Bagi mereka, lebih baik mengeluarkan uang lebih untuk makanan yang sehat daripada mengeluarkan uang sedikit untuk barang yang tidak sehat.

Keadaan ini semakin memperburuk citra pasar tradisional. Kalau sudah seperti ini, maka ekonomi perkotaan itu akan timpang. Akan semakin banyak orang yang tersisihkan dari perjuangan mendapatkan rupiah. Di pasar tradisional, ada banyak orang yang mengais rezeki termasuk anak-anak yang menjual kantong plastik belanja. Mereka mendapatkan untuk hanya 4000-5000 rupiah sehari. Keinginan mereka pun tidak banyak. Mereka hanya ingin membantu kehidupan keluarga dan bisa membeli sepatu atu baju sekolah.

Pemandangan anak-anak yang menjual kantong plastik ini, tidak akan terlihat di pasar modern yang tentunya telah menyediakan kantong plastik sendiri lengkap dengan nama supermarket atau minimarket tempat belanja itu. Selain adanya anak-anak itu, ada juga para wanita yang menjadi buruh gendong. Mereka akan membawa barang belanjaan orang lain hingga ke becak atau andong atau tempat menunggu jemputan. Upah yang mereka terima terkadang hanya 3000 rupiah. Kalau agak banyak, mungkin hingga 5 ribu hingga 10 ribu rupiah. Uang yang sangat sedikit itu sangat berarti bagi mereka.

Di pasar modern, tidak akan ada buruh gendong karena ada trolley atau keranjang. Kalaupun terlihat cukup kepayahan dalam menggendong barang belanjaan, karyawan supermarket atau minimarket tidak segan untuk membantu dengan senang hati dan tidak perlu diberi tips kalau tidak mau. Orang-orang kecil yang mencoba mengais rezeki di pasar itu memang semakin terpinggirkan oleh karena adanya pasar modern tersebut. Ajakan agar berbelanja di pasar tradisional, agak sulit diterima oleh sebagian orang yang terbiasa belanja di pasar modern. Akhirnya, harapan diberikan kepada pemerintah apa akan membantu rakyatnya atau akan membantu para pengusaha.

Tradisional Tapi Bersih

Pembuatan pasar tradisional yang bersih, rapi, dan terorganisasi dengan baik, bukannya belum dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta yang mengembangkan perumahan dalam kota mandiri, seperti Citra Raya Tangerang. Namun, sekali lagi, image pasar tradisional yang kurang menyenangkan masih agak sulit untuk dihilangkan. Walaupun telah ditata dengan rapi dan bersih karena memang ada petugas yang membersihkannya, keadaan yang begitu berbeda dengan pasar modern, memang terasa.

Pendirian minimarket yang semakin menjamur itu juga memberikan dampak positif kepada kehidupan masyarakat. Mereka yang tadinya tidak mengerti kalau ada pasar yang bersih, akhirnya mengenal konsep tersebut. Bagi pemerintah daerah, pendirian minimarket ini artinya adalah pemasukan uang kas daerah. Sejak zaman otonomi bergulir, kebutuhan dana untuk pembangunan memang harus diupayakan oleh pemerintah daerah sendiri. Kalaupun meminta bantuan pusat, terkadang waktunya lama. Padahal banyak pengangguran yang harus segera diatasi.

Berbagai infrastruktur yang akan menunjang pembangunan harus segera dibangun. Rakyat telah berteriak. Keadaan yang serba salah ini memang cukup dilematis. Mungkin apa yang dilakukan oleh mantan bupati Bantul beberapa tahun silam perlu dipertimbangkan.
 Yogyakarta, terutama Kota Sleman, sudah penuh dengan mal,  supermarket, dan minimarket, yang berdiri sangat berdekatan. Namun, Bantul tidak tergoda. Mantan Bupati Bantul, Idham Samawi, dengan tegas mengatakan bahwa minimarket dan mal tidak boleh masuk Bantul karena akan mengganggu stabilitas ekonomi masyarakatnya. Peraturan ini membuat Bantul bebas dari serbuan mal dan minimarket.

Peraturan yang sangat berpihak kepada rakyat kecil itu memang tidak mudah dilakukan. Idham Samawi sangat tahu dan sering melihat para wanita tua yang telah berusia sangat lanjut sekira 70-80 tahun yang masih berdagang makanan ringan tradisioanl di pasar-pasar di sekitar Bantul. Pendapatan mereka memang tidak seberapa. Namun, semangat hidup mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain itu memang harus dihargai. Mbah-mbah itu bukannya tidak mempunyai anak dan cucu yang bisa memberinay makan setiap hari. Mereka melakukan itu karena tidak ingin menghabiskan waktu hanya termangu di rumah.

Mereka masih mau memberi makan atau memberi uang kepada para cucu dan cicitnya dari uang hasil keringat mereka sendiri. Keadaan ini bukan saja memberikan motivasi berjuang hidup kepada generasi muda, pun menggerakan ekonomi perkotaan dan pedesaan yang semakin diserbu oleh pihak asing apabila tidak dilindungi. Rakyat pasti tidak berdaya. Mereka yang tersinggir hanya bisa berusaha bangkit lagi dan mencari jalan untuk tetap bertahan. Mereka lalu mendekat dan merapat ke pasar modern dan menjadi mitra.

Ekspansi Bisnis Asing

2011 adalah tahun kebangkitan ekspansi bisnis hypermarket dan pasar modern asing. Setelah pada 2010, usaha ekspansi ini agak tersendat karena keadaan ekonomi dunia yang belum mendukung. Sekarang, setelah daya beli masyarakat, terutama Amerika, semakin membaik, usaha itu bangkit lagi. Laporan yang menyatakan bahwa ada jutaan keluarga Indonesia yang daya belinya mendekati nol, ternyata tidak membuat para investor asing tersebut menghentikan niatnya.

Mereka masih sangat yakin bahwa ekonomi perkotaan sangat berbeda dengan ekonomi pedesaan. Bahwa sebagian besar uang beredar di perkotaan adalah salah satu faktor yang menguatkan untuk berekspansi. Apalagi, mal dijadikan sebagai tempat wisata. Bagi masyarakat kota, keberadaan mal bukan hanya tempat belanja. Mal sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Bincang bisnis, diskusi seru, ajang mejeng, tempat main anak-anak, semua bisa dilakukan di mal. Itulah salah satu efek dari kehidupan perkotaan yang penuh tekanan. Banyak orang yang terkena dampak belanja emosional. Mungkin juga sudah ada yang terkena sindrom shopaholic.

Menghilangkan stres dengan jalan-jalan di mal sambil cuci mata dan belanja-belanja adalah salah satu cara yang banyak dipilih oleh masyarakat perkotaan. Tidak heran kalau peredaran uang di mal dan pasar-pasar modern tersebut cukup tinggi. Harga barang pun cukup bersaing dan kadang memang jauh lebih murah dibanding membelinya di pasar tradisional atau warung-warung pinggir jalan. Cara mantan bupati Bantul melindungi masyarakatnya dari serbuan pasar modern perlu ditiru.

Namun, berapa lama perlindungan itu bisa dilakukan? Masa pemerintahan seorang bupati terbatas. Strateginya adalah dengan membuat para pedagang tradisional mengubah pola pikir dan pola berdagangnya.
Misalnya, menyusun barang dagangan dengan lebih rapi, memberi harga pada barang dagangan, memberikan pelayanan yang lebih baik, buka lebih pagi dan tutup lebih malam dari pasar modern. Buatlah toko atau warung mirip dengan semi toko modern.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pengelolaan Pendapatan Nasional dengan APBN
  • Macam-Macam Inflasi: Inflasi di Seputar Kita
  • Proses Menuju Era Globalisasi Ekonomi
  • Perekonomian Eropa Dilihat dari Sepak Bola
  • Definisi Pemberitahuan Impor Barang
  • Masalah Perekonomian di Indonesia
  • Ekonomi Internasional: Fenomena Ekonomi Cina
  • Serba-serbi Seputar Neraca Perdagangan
  • Pengaruh Inflasi Terhadap IHSG
  • Masalah Pembangunan Ekonomi - Apa Kabar MDG?
  • Pasar Oligopoli Tidak Bervariasi
  • Beberapa Contoh Varian Teori Ekonomi
  • Persiapan Menghadapi Globalisasi dalam Bidang Ekonomi
  • Berniaga dalam Pandangan Ilmu Ekonomi dan Islam
  • Masalah Pengangguran di Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA