Ekstra Kurikuler
Di Indonesia, kegiatan ekstra kurikuler di dunia pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, bukanlah suatu hal yang asing. Kegiatan ekstra kurikuler ini telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Ekstrakulikuler merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam belajar kurikulum standar.
Kegiatan di luar jam sekolah bertujuan mengembangkan bakat, kepribadian, kemampuan peserta didik di berbagai bidang. Selain itu, ekstrakulikuler ini diselenggarakan secara swadaya oleh pihak sekolah dan para peserta didik.
Kegiatan ekstra kurikuler ini ada di setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di tingkat sekolah dasar, jenis ekstrakulikuler yang paling umum dilakukan yaitu pramuka.
Pada tingkat sekolah menengah, baik SMP maupun SMU, kegiatan ini lebih berkembang dan tidak hanya pramuka. Kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler di tingkat ini mencakup kegiatan olahraga, kesenian, kesehatan, keamanan sekolah, dan lain sebagainya.
Para peserta didiknya pun tak hanya mengikuti satu ekstrakulikuler sebab banyak juga yang mengikuti dua atau lebih ekstrakulikuler. Kegiatan ekstrakulikuler di tingkat sekolah menengah ini dikoordinasikan oleh pihak sekolah masing-masing serta dibimbing oleh para guru ataupun tenaga yang dikelola pihak sekolah.
Di tingkat perguruan tinggi atau universitas, kegiatan ekstrakulikuler ini semakin beragam. di sini, berkembang juga unit-unit kegiatan mahasiswa seperti pecinta alam, seni dan paduan suara, olahraga, keagamaan, dan unit kegiatan lainnya. Selain itu, pengelolaannya pun sudah bersifat otonom. Artinya, mahasiswa-lah yang mengelola secara mandiri unit-unit kegiatan tersebut.
Contoh Ekstra Kurikuler
Ada banyak jenis kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan di setiap sekolah dan tentu saja setiap sekolah berbeda-beda. Perbedaan ini sangat wajar sebab memang ada perbedaan minat serta kebutuhan peserta didik, perbedaan sarana prasarana, dan perebdaan potensi sekolah juga potensi daerah masing-masing.
Nah, berikut ini beberapa contoh kegiatan ekstrakulikuler yang ada di Indonesia.
Olahraga
- Bola basket
- Bola voli
- Futsal
- Sepak bola
- Bulu tangkis
- Renang
- Flag football
Beladiri
- Judo
- Karate
- Pencak silat
- Pecinta alam
- Sepak takraw
- Tarung Derajat
- Taekwondo
Keagamaan (Pendalaman Agama)
- Kerohanian Islam
- Kerohanian Kristen
Kesenian/Apresiasi/Musik
- Drum band
- Jurnalis
- Pemandu sorak
- Paduan suara
- Tari (tari modern dan tari tradisonal)
- Teater
- Vokal grup
Ekstra Kulikuker Membantu Anak Menemukan Bakatnya
Saat anak sudah memasuki masa sekolah, minat serta bakat mereka pun mulai terlihat. Tapi bila mereka lebih suka bermain game daripada melakukan kegiatan lainnya, bagaimana cara menggali potensi minat dan bakatnya?
Salah satu caranya adalah memotivasi si anak untuk terlibat di kegiatan ekstrakulikuler sekolah. Terlibat di dalam kegiatan ekstrakulikuler ini akan banyak memberikan manfaat bagi kehidupan anak, baik kehidupan saat ini ataupun di masa yang akan datang.
Sebuah riset memperlihatkan bahwa anak yang ikut kegiatan ekstrakulikuler cenderung memperoleh niolai bagus, manajemen waktunya sangat baik, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, terhindar dari alkohol, dan terhindar dari narkoba.
Selain itu, kegiatan ini juga ternyata memengaruhii kemampuan kognitif seoarng anak di masa yang akan datang. Bila buah hati Anda mengikuti kegitan ekstrakulikuler saat masa sekolahnya, ingatannya akan masih sangat bagus di usia 75 tahun.
Memotivasi anak agar terlibat dalam aktivitas ekstrakulikuler dapat membantunya mencari jati diri. Dari kegiatan inilah, si anak dapat mengetahui dirinya sendiri dan apa yang ingin dilakukan. Intinya, si anak akan menemukan sesuatu yang disukai dan bidang apa yang disukainya.
Kegiatan ekstra kurikuler setidaknya memberikan tiga hal yang sangat bermanfaat untuk anak, yakni aktivitas, aspirasi, serta yang terakhir adalah prestasi. Namun, ada hal-hal lainnya yang wajib diperhatikan sebelum memasukkan anak dalam kegiatan ekstrakulikuler. Ini dia ulasannya.
Mencoba Dua Kegiatan
Sebagai orangtua, kita memang dapat membantu anak untuk menemukan bakatnya dengan cara memotivasi mereka mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Tapi, pertanyaannya adalah berapa banyak dan aktivitas apa yang disukai?
Nah, cobalah terlebih dahulu memasukkan anak ke dalam dua jenis kegiatan. Untuk anak perempuan, Anda bisa mengajaknya ikut ekstrakulikuler piano dan balet. Sementara itu, untuk anak laki-laki misalnya gitar dan sepak bola.
Mengapa hanya memberikan dua pilihan? Jika terlalu banyak tanggung jawab yang dibebankan, si anak akan menjadi prustasi. Jadi, cobalah berikan dua kegiatan ekstrakulikuler saja untuk si anak. Hal ini tentunya akan sangat efektif untuk mengetahui kegiatan mana yang lebih disukai di antara dua kegiatan yang dilakukannya tersebut.
Memberi Waktu Cukup Banyak
Seorang anak yang sudah mengetahui bakat dan minatnya sejak kecil dipastikan mampu menjadi orang yang ahli di bidang tersebut saat dewasa nanti. Tapi, jumlah anak-anak yang seperti ini hanya sekitar 20 persen. Sementara itu, sekitar 25 persen anak-anak berhasil menemukan bakat terpendamnya setelah terbuai arus di sekitarnya. Sisanya atau sekitar 50 sampai 60 persen, masih sibuk mencari apa minatnya dan belum juga menemukan minat tersebut hingga memasuki usia remaja.
Remaja yang masih juga belum mengetahui bakat dan minatnya akan cenderung menjadi seorang pemimpi dan menjadi penggemar amatir. Pemimpi di sini artinya adalah orang-orang yang memiliki angan-angan terlalu tinggi, tetapi tak berusaha meraih angan-angan tersebut. Sementara itu, penggemar amatir yaitu orang-orang yang terus mencoba setiap kegiatan hingga dirinya menemukan apa yang menjadi bakat dan minatnya.
Pada dasarnya, anak-anak tipe pemimpi dan penggemar amatir ini merupakan anak-anak jago yang mempraktikkan sesuatu seperti apa yang diharapkan, mengerjakan PR, dan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Pada akhirnya, anak-anak tersebut pun akan menemukan bakatnya, tetapi dengan waktu yang lebih lama. Anak-anak muda zaman modern seperti saat ini memang diberikan banyak kesempatan dan pilihan. Dalam hal ini, orangtua memiliki tugas membantu anak-anak tersebut mengasah bakatnya.
Akhir-akhir ini, sebagian orangtua menjadi prustasi saat buah hatinya meninggalkan begitu saja kegiatan ekstrakulikuler yang sudah diikutinya beberapa saat. Hal ini memang sangat wajar terjadi. Seharusnya, para orangtua tak usah khawatir bila anaknya bersikap seperti itu. Pada intinya, seorang anak tak hanya memkai waktu untuk menemukan apa yang diinginkan, tetapi perlu juga memakai waktu untuk mencari tahu apa yang tak diinginkannya.
Coba Lagi
Menurut para ahli, belajar itu terdiri atas tiga tahapan. Tahap pertama diebut Inkompetensi Bawah Sadar, yaitu ketika anak tidak tahu sedikit pun apa yang mereka tidak tahu. Tahap kedua disebut Inkompetensi Sadar, yaitu saat anak sadar apa yang dilakukan cukup sulit, tetapi dia tetap bertahan. Tahap yang ketiga disebut Kompetensi Sadar, yaitu ketika anak melakukan usaha untuk mempelajari kegiatan tertentu.
Berkaitan dengan hal tersebut, rasa takut dan ketidakmampuan harus dapat diatasi. Sejumlah anak yang merasa perfeksionis akan menjadi frustasi saat dirinya tak bisa melakukan sebuah kegiatan dengan baik sehingga lebih memilih berhenti.
Sementara itu, antara tahap kedua dan ketiga biasanya muncul jeda yang disebut dengan periode terbengkalai. Di periode ini, si anak akan meninggalkan kegiatannya untuk sementara waktu dengan sejumlah alasan. Ketika mulai lagi melakukan kegiatan tersebut, maka dukunglah anak tersebut sebab pada waktu itulah dirinya sudah siap mengerjakan kegiatan tadi dengan lebih serius.
Mencari Celah
Sebagai orangtua, kita terkadang harus berhenti memotivasi anak mengerjakan kegiatan yang sepertinya tak terlalu disukai. Untuk mengatasi hal ini, cobalah mencari celah dengan cara mengamati sekaligus mendengar apa yang dia sukai. Kita dapat mengamati tontonan kesukaannya di televisi atau bertanya tentang aktivitas apa yang akan dikerjakan untuk menghabiskan liburan.
Hal-hal yang kecil pun dapat mengarhkan anak kita pada apa yang sebenarnya dia sukai. Contohnya, anak yang rajin membantu orangtuanya memasak mungkin saja mempunyai minat terhadap dunia tata boga. Bahkan, bila anak suka membongkar mesin motor, mungkin dirinya tertarik dengan dunia otomotif.
Itulah ulasan seputar kegitan ekstra kurikuler dan pengaruhnya bagi anak. Semoga bermanfaat!

