Mengenal Faktor-Faktor Komunikasi
Secara sederhana faktor-faktor komunikasi sebenarnya terdiri atas: komunikator, pesan, dan komunikan. Belakangan diberi tambahan yakni media. Tanpa tiga faktor tersebut di luar media (sarana atau saluran) maka tidak akan terjadi sebuah komunikasi.
Persoalannya terkadang oleh para ahli dinyatakan bahwa media pun adalah pesan (message) itu sendiri. Maksudnya, jika Anda ingin mendapatkan feedback yang sesuai pilihlah media yang sesuai dengan pesan yang ingin Anda sampaikan.
Komunikasi dan ilmu komunikasi sekilas tampak mudah-mudah saja. Padahal kalau kita kaji kembali tidaklah demikian. Komunikasi memang secara harfiah dan fitrahnya bersifat kleptik, di persimpangan jalan. Lahir dari rahim disiplin psikologi, disiplin sosiologi, disiplin antropologi, linguitik dan sebagainya.
Jadi, jika kita berusaha memahami komunikasi secara holistik, utuh dan tidak parsial, maka akan kita temukan komunikasi “tercampur” dengan teori-teori dari disiplin ilmu yang lain, bahkan filsafat pun turut menjadi akar dari kajian komunikasi.
Faktor-Faktor Komunikasi
- Komunikator. Pelaku atau penyampai komunikasi. Dalam hal ini sebagai subjek yang berperan lebih aktif dan kreatif. Komunikator dapat pula disebut sebagai sumber komunikasi. Dalam komunikasi kredibilitas komunikator termasuk diperhitungkan. Sebab, komunikan mempercayai komunikator yang memiliki kredibilitas seperti kompetensi, pengalaman, dan terlatih.
- Pesan (message). Adanya pesan yang disampaikan baik verbal dan non verbal (persinggungan, penciuman, perasaan, tulisan, perbuatan). Karena, komunikasi bukan hanya berbicara maka diam pun dianggap sebagai sebuah pesan komunikasi.
Makna diam antara lain: Diam itu marah, menolak bicara, diam berarti takut, takut salah, diam itu bosan, tidak tertarik, diam itu merenung, kosentrasi, diam berarti menghormati, diam sebagai keadaan yang memalukan, dan seterusnya. Bahasa Non Verbal bisa menimbulkan pesan dan penafsiran yang bermacam-macam daripada bahasa verbal.
Menurut Rothwell, ada tiga perbedaan mendasar antara verbal dan nonverbal: Non verbal suatu proses yang berkesinambungan; Non verbal lebih bisa dipercaya daripada verbal; Non verbal lebih efektif daripada pesan verbal, menyangkut perasaan seseorang, sikap.
- Komunikan. Komunikan dalam hal ini adalah penerima pesan (audiens) dan bisa ditujukan untuk komunikasi kelompok (komunitas), komunikasi personal (individu), komunikasi massa (massif semisal jejaring sosial). Dan sudah banyak orang yang mendulang sukses di era facebook dan twitter.
- Media. Dalam komunikasi media terbagi ke dalam dua bentuk: media umum seperti telepon, iklan dan media massa seperti surat kabar cetak dan online. Penempatan media sebagai penyebab faktor terjadinya komunikasi lebih ditekankan kepada media (komunikasi) massa.
Komunikasi massa dihasilkan dari suatu sumber yang mampu menyebarkan kepada audiens yang luas dan tidak terbatas. Komunikasi melalui media massa modern yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio, tv, internet yang ditunjukan kepada khalayak heterogen, terdiri atas orang yang berasal dari segala kalangan.
Anonim, yang tidak saling mengenal. Large, sangat luas, banyak dan tidak terbatas dan tidak saling berinteraksi. Di negara demokrasi media massa mempunyai kemampuan untuk memobilisasi masyarakat untuk berbagai keperluan mulai dari sosial politik sampai olah-raga.
Hambatan Komunikasi
- Pendengar mendengar pesan dengan cara berbeda dari apa yang dikatakan pembicara.
- Pesan dari pembicara tidak dipahami sepenuhnya.
- Terjadi kesenjangan antara yang dikatakan dengan yang diterima.
- Kurang konsentrasi.
- Perbedaan FOR (field of reference) dan FOE (field of experience).
Ciri Pesan Komunikasi yang Efektif
- Memberikan informasi
- Mendidik
- Menghibur
- Mempengaruhi
Apakah semua hal bisa disebut komunikasi? Tidak. Yang didefinisikan sebagai komunikasi hanya mencakup proses pengiriman dan penerimaan pesan yang diniatkan (intensional). Beberapa definisi menyertakan akurasi atau a statement of success dari proses komunikasi. Misal, “pertukaran verbal dari suatu pemikiran atau gagasan” (John B. Hoben, 1954).
Terakhir, sebagian ahli ada juga yang menyatakan: Haruskah komunikasi bersifat intensional? Dan haruskah komunikasi diterima?






