logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Masalah Sosial

Faktor Penyebab Pengangguran


Ilustrasi faktor penyebab pengangguran 

Sekolah di sebuah universitas terkemuka tidak menjadi jaminan bagi lulusannya untuk mendapatkan pekerjaan. Meski tidak mutlak, tapi kenyataannya banyak lulusan satu universitas dengan predikat cumlaude atau indeks prestasi kumulatif (IPK) diatas 3,5 tetap saja susah untuk menghasilkan uang. Kadang ada yang rela bekerja dibawah standar mereka sendiri (bergaji seadanya) meskipun tidak sesuai dengan keinginan, bahkan sama sekali tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. Apa sebenarnya faktor penyebab pengangguran yang sering kali terjadi di Indonesia.

Lapangan Kerja Kurang

Hingga saat ini, banyak sarjana mendapat predikat baru setelah lulus yakni sarjana pengangguran, dan inilah yang paling ditakuti oleh para sarjana tersebut setelah lulus kuliah. Bukan saja anak kuliahan yang seperti itu, tetapi inipun terjadi di tingkat sekolah kejuruan. Sekolah kejuruan yang sempat digembor-gemborkan untuk langsung bekerja ternyata tidak semuanya berjalan lancar. Salah satu hal yang menyebabkan pengangguran adalah kurangnya lapangan kerja.

Tidak terlalu banyaknya masyarakat yang ingin menjadi pengusaha menyebabkan semakin banyak orang yang mencari kerja. Mereka berduyun-duyun mempelajari bagaimana membuat surat lamaran kerja dan bagaimana memperindah resume. Lihatlah ketika ada job fair di suatu kota. Pihak penyelanggara job fair itu pasti akan meraup keuntungan yang cukup besar dari uang masuk ke arena. Hal ini karena sudah dipastikan ribuan pencari kerja akan memperebutkan lowongan pekerjaan yang hanya berjumlah ratusan saja.

Sistem wawancara kerja secara langsung juga menarik para pencari kerja. Mereka rela antri dan rela berdesakan dengan para pencari kerja lainnya demi mendapatkan kesempatan untuk wawancara dengan salah satu atau beberapa perusahaan yang membuka lowongan kerja pada saat itu. Padahal lowongan pekerjaan yang tersedia paling-paling setingkat operator dan kalaupun ada setingkat manajer, biasanya masih harus melalui serangkaian tes yang lebih banyak lagi.

Untuk mengisi lowongan pada top manajemennya, pihak perusahaan lebih senang menggunakan jasa perusahaan Head Hunter yang memang berbisnis dijalur pencarian pribadi-pribadi hebat dan berpengalaman dibidangnya. Gaji yang diberikan pun sudah mencapai puluhan hingga ratusan juta. Kalau lowongan pekerjaan yang ada di job fair, gaji yang ditawarkan biasanya sebatas UMR atau kalau beruntung bisa mendapatkan gaji dengan fasilitas sejumlah 3-4 juta rupiah. Tentu saja untuk lowongan pekerjaan dengan gaji seperti itu cukup jarang.

Demi mendapatkan para pekerja yang benar-benar bagus dan tidak melalui kolusi dan nepotisme, beberapa perusahaan skala besar, biasanya mengadakan saringan masuk menjadi pekerja di sana dengan cara mengumumkannya di internet dan tesnya pun secara online. Untuk para pelamar yang berhasil masuk ke tahapan berikutnya saja yang akan diberi kesempatan mengikuti tes secara tatap muka. Lowongan yang tersedia juga tidak banyak. Paling hanya sejumlah puluhan orang saja.

Ekonomi dunia yang sedang dalam masa kurang baik juga membuat banyak perusahaan mengurangi jumlah karyawan mereka. Bahkan di wilayah Eropa, tingkat pengangguran telah mencapai angka 25%. Di Amerika sendiri, tingkat pengangguran sempat mencapai 9%. Tingginya tingkat pengangguran di negara-negara yang selama ini menjadi tumpuan ekspor, mau tidak mau lapangan pekerjaan banyak yang berkurang. Ingin mencoba berbisnis pun, ternyata bukan perkara mudah.

Semangat saja belum cukup membuat seseorang berhasil mengalahkan semua rintangan yang menghadangnya. Semua orang bercita-cita mendirikan sebuah perusahaan dan dapat menampung para pencari kerja. Namun yang terjadi adalah bahwa memang tidak mudah menjadi seorang pelaku usaha. Hal ini juga yang menjadi salah satu kendala bagi banyaknya para pebisnis pemula yang akhirnya banting stir menjadi karyawan lagi setelah mengalami kerugian yang cukup besar.

Kompetensi yang Kurang

Faktor penyebab pengangguran sendiri sering diciptakan oleh dirinya masing-masing. Penyebabnya pun bisa secara di sengaja ataupun tidak. Lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan pribadi yang kuat yang bisa bersaing. Lingkungan juga menjadi hal yang membuat banyak pribadi menjadi lemah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Kalau lingkungan membentuknya menjadi seseorang yang berkopetensi tinggi, ia akan terbiasa bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik.

Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan orang-orang berpikiran mudah menyerah pada keadaan dan tidak senang bekerja keras, yang penting asal sudah dikerjakan, maka pribadi yang terlahir dari lingkungan seperti ini adalah orang-orang yang mudah menyerah dan tidak tahan banting.

Selain lingkungan, faktor apa saja yang sering atau mungkin muncul dari diri kita yang menyebabkan terciptanya pengangguran dan tidak adanya lapangan kerja?

Malas

Cetakan Negara yang sudah menjamur yang diadopsi dari sistem kapitalisme menyebabkan kebanyakan orang menjadi manusia yang instan tanpa mau bekerja keras. Hal ini menjadi orang malas untuk melakukan sesuatu karena sering melakukan hal yang tidak masuk akal. Mereka maunya hidup senang dan langsung menjadi kaya tanpa berpikir bahwa orang-orang yang terkenal dengan kekayaannya itu tidur hanya 4 jam sehari. Sedangkan mereka yang hanya bisa bermimpi menjadi kata itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur.

Yang mereka lakukan akhirnya perbuatan yang akan menjerumuskan mereka ke lubang kejahatan dan dosa yang nista. Lihat saja banyak yang menginginkan kaya dengan cara berjudi, orang tersebut bisa saja kaya dalam semalam, tapi selanjutnya tidak ada yang tahu. Hal lain yang mendorong kemalasan juga adalah sistem masyarakat yang materialis dan politik yang cenderung sekuler. Mereka meninggalkan tuntunan agama. Padahal agama telah mengajarkan bahwa orang alim dan bertaqwa itu tidak akan menjadi miskin.

Jika kita menyadari dan mau bekerja keras, banyak sebenarnya celah yang bisa kita manfaatkan baik itu melalui kreativitas yang kita punya ataupun kemauan yang kuat. Buang kemalasan dari sekarang karena akan menjerumuskan kita ke tempat pengangguran yang paling dalam. Mulailah mendekati orang-orang yang mempunyai perusahaan. Bila perlu tidak perlu meminta bayaran. Biarkan orang melihat kompetensi kita terlebih dahulu. Selanjutnya, mulailah menghargai diri dengan nilai rupiah yang tidak terlalu tinggi.

Dengan jalan itu, gerbang mendapatkan pekerjaan itu akan mudah didapatkan. Sealin itu, kejujuran dan kesabaran akan menjadi kunci yang tak bisa dilupakan dalam mendapatkan pekerjaan. Tidak mudah mendapatkan orang jujur yang mau bekerja keras. Ingatlah bahwa kemalasan itu sangat dekat dengan ketidakjujuran dan kepalsuan. Orang malas sangat pandai mengarang cerita agar dia tampak seperti orang yang bekerja keras. Ia akan menjadi seorang pembohong kelas wahid.

Fenomena inilah yang membuat banyak orang tidak mau mempekerjakan orang yang malas. Mereka, orang yang malas itu,  lebih kreatif ketika memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Kemalasan itu sangat erat kaitannya dengan egois. Jadi, kalau sudah dicap sebagai pemalas, akan sangat sulit mendapatkan kesempatan melakukan hal yang besar yang akan memberikan pengaruh yang luar biasa pada manusia dan kemanusiaan. Berhati-hatilah dengan kemalasan. Lakukan sesuatu agar tidak dicap sebagai seorang pemalas.

Cacat atau Umur

Ini juga yang dihasilkan sistem kapitalis karena orang yang cacat dianggap tidak produktif untuk menghasilkan sesuatu. Seperti diketahui sekarang ini dalam dunia kerja sudah layanknya hukum rimba. Faktor umur pun sering menjadi alasan untuk tidak mempekerjakan seseorang, karena yang sudah uzur kadang kreativitasnya akan semakin berkurang. Bisa dikatakan semakin tua semakin sempit pula harapan kita untuk bekerja, meskipun tidak mutlak. 

Rendahnya Pendidikan dan Keterampilan yang Dimiliki

Di Indonesia, tingkat pendidikan bisa dibilang rendah. Hampir sekitar di atas 50 % angkatan kerja di Indonesia adalah lulusan dari sekolah wajar 9 tahun (SD dan SMP) dengan pendidikan yang rendah sangat sulit untuk mereka mendapatkan pekerjaan yang layak. Dampaknya dengan rendahnya pendidikan maka kemampuan yang dipunyainya terbatas. Persoalan ini bukan saja menjadi tugas individu, tetapi harus menjadi pemikiran bagi kita semua bagaimana meningkatkan keterampilan baik dengan sekolah ataupun kursus singkat yang bisa menambah keterampilan.

Sistem pendidikan pun harus secepatnya direvisi, karena kebanyakan tidak difokuskan terhadap persoalan yang praktis. Sistem pembelajaran harus lebih menjurus terhadap kebutuhan dunia kerja. Bukan hanya sebatas sekolah dan mencari ilmu yang pada akhirnya hanya akan menjadikan orang-orang pengangguran intelek. Faktor penyebab pengangguran itu harus segera dienyahkan dari sisi setiap orang Indonesia.

 

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sekilas Tentang Lagu Anak Jalanan
  • Menangani Kasus Kekerasan TKI secara Tuntas
  • Menelisik Akar Masalah TKI Bermasalah
  • Catatan Penting Permasalahan TKI
  • Dampak Interaksi Manusia dan Komputer di Zaman Modern
  • Kekerasan pada TKI di Luar Negeri
  • Jablay? No Way!
  • Bokep Jilbab - Bentuk Bobroknya Martabat Manusia
  • Sistem Pendidikan Islam Solusi Mengatasi Tauran Pelajar
  • Faktor-faktor Penyebab Penyiksaan TKI
  • Kelompok yang Rentan Mengalami Pelanggaran HAM Indonesia
  • Bicara Bonek Surabaya
  • Dilematis Kondisi Saat Merelokasi atau Menghapus Lokasi PSK
  • Pelacur: Fenomena Sosial yang Lahir karena Permasalahan Ekonomi
  • Solusi dan Dampak Pengangguran di Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA