Fiksi
Menulis fiksi merupakan salah satu aktivitas menulis yang banyak dilakukan. Ada banyak jenis tulisan fiksi yang mungkin sering Anda baca. Sebagai contoh sebut saja cerpen atau novel. Kedua jenis bacaan tersebut merupakan hasil penciptaan seorang penulis yang memiliki imajinasi dan kemampuan merangkai kata tinggi. Ya, hanya penulis demikianlah yang mampu membuat cerita fiksi yang seksi.
Namun, apakah hanya mereka yang mampu melahirkan sebuah tulisan fiksi yang seksi? Jawabannya, tidak. Ini karena Anda pun bisa membuat tulisan fiksi seksi yang enak dibaca dan memiliki isi. Selama ada kemauan tinggi untuk belajar dan melatih kemampuan menulis, selama itu pula tidak ada kemustahilan.
Nah, berikut ini, penulis akan menyajikan beberapa hal penting yang harus diketahui ketika Anda hendak membuat sebuah tulisan fiksi. Apa saja yang termasuk ke dalam hal penting tersebut? Berikut pembahasannya.
Menuliskan Adegan
Menulis adegan adalah salah satu bagian dari proses menulis fiksi yang isinya melulu menulis. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan saat memasukki bagian ini selain menulis. Ya, ketika menuliskan adegan, Anda harus menuliskan apapun yang ingin Anda tulis. Semuanya. Jangan biarkan ada satu ide pun yang tidak tertulis.
Setiap adegan sebaiknya ditulis terpisah. Untuk setiap adegan yang sudah ditulis, bukan mustahil akan memunculkan alur dan jalan cerita dengan sendirinya. Adegan-adegan ini nantinya mungkin tidak akan semua terpakai dalam cerita, namun tetap akan berguna.
Apa yang harus dituliskan ketika hendak menulis adegan? Banyak hal. Apapun bisa Anda tulis. Misalnya, bayangkanlah ketika Anda mengendarai motor dan terpaksa menepi karen hujan. bayangkan dan ingat baik-baik bagaimana suasana kala itu, bagaimana reaksi orang-orang yang sama-sama berteduh dengan Anda, bagaimana dialog-dialog yang terjadi di sana, dan hal lainnya yang bisa diamati ketika Anda berteduh.
Tulis atau ketiklah semuanya. Jika mengetiknya langsung di komputer, sebaiknya monitor Anda matikan agar imajinasi Anda semakin kuat. Jangan pikirkan bahwa ide, gagasan, dan kalimat yang Anda tulis akan berantakan. Biarkan mengalir saja. Dengan banyaknya bahan yang ingin ditulis, Anda akan mengesampingkan keinginan mengedit, membaca ulang dan mengkritisi tulisan sendiri. Pada tahap ini, tugas Anda adalah menulis sebanyak mungkin gagasan. Selesai tahap ini, berarti draft pertama sudah siap.
Setelah draft pertama selesai, langkah selanjutnya adalah mengatur dan mengurutkan adegan tersebut supaya bahan tersebut tidak berantakan. Pada tahan ini, biasanya Anda akan dibuat bingung untuk mengurutkan adegan yang telah dibuat. Untuk itu, Anda bisa menamai setiap adegan tersebut sesuai keinginan dan simpan dalam struktur cerita. Misal, penomoran adegan, bab, dan klimaks. Pemberian nama ini bisa dilakukan saat memasuki tahap membangun cerita.
Anda dapat menggunakan teknik brainstorming, saat merasa ide tak kunjung datang. Teknik ini dilakukan sdengan menuliskan satu kata dalam kertas, dilanjutkan dengan kata lain, lanjutkan dengan kata yang lain lagi, dan begitu seterusnya. Jangan batasi diri Anda. Berantakan? Wajar, karena memang demikianlah maksud dari teknik ini. Setelah kertas terisi penuh oleh catatan, biasanya Anda akan mendapatkan gambaran tentang sebuah adegan.
Pada awalnya, beberapa adegan akan tampak kacau dan tidak ada kecocokan dengan adegan sebelum dan sesudahnya. Bahkan, beberapa adegan mungkin akan bertentangan dengan akhir cerita. Namun, hal tersebut justru akan memberikan ide yang lebih segar untuk alur, setting, karakter cerita, dan isi cerita tersebut.
Membangun Cerita
Inti dari tahap membangun cerita adalah membuat urutan adegan atau sekuen. Pada tahap ini, Anda akan mulai membuat garis besar cerita untuk menentukan alur atau plot yang akan dibuat. Pada tahap ini, biasanya Anda sudah memiliki sekitar 20-50 adegan, atau bisa saja lebih. Ketika membangun cerita, tulis kembali daftar adegan yang sudah dibuat hingga benar-benar cocok. Jika ada nama adegan yang belum tertulis namun, keberadaannya sangat penting untuk menghubungkan antaradegan, maka tulis pula nama adegan tersebut.
Setelah itu, pisahkan karakter-karakter yang Anda gunakan dan berikan peran cerita kepada setiap karakter. Tentukan tokoh mana yang akan dijadikan tokoh utama atau sang protagonis. Biasanya tokoh utama dan sang protagonis adalah orang yang sama, meskipun tidak menutup kemungkinan jika sang protagonis ini berbeda dengan tokoh utama. Ketika tengah mengatur kembali adegan, berikanlah jeda satu halaman untuk memasukkan adegan penghubung yang belum ditulis. Ketika semuanya beres, Anda bisa mulai menuliskan draft pertama dari tiap adegan tersebut.
Struktur Cerita
Dalam struktur cerita, setidaknya terdapat 3 hal utama yang harus dilakukan. Pertama adalah menentukan karakterisasi adegan. Kedua memberikan intensitas dan mood untuk setiap adegan. Terakhir Anda harus menentukan karakterisasi cerita.
1. Karakterisasi Adegan
Karakterisasi adegan merupakan tahap selanjutnya yang harus dilakukan setelah Anda memiliki draft adegan beserta urutannya. Pada tahap ini, Anda akan mulai membuat struktur cerita. Karakterisasi adegan ini sangat bergantung kepada draft adegan yang sudah dibuat karena adegan lebih lanjut bisa menyesuaikan dengan draft yang sudah ada.
2. Intensitas dan Mood
Pemberian rating atas setiap adegan perlu Anda lakukan. Penilaian bisa didasarkan kepada kejadian yang terjadi pada masing-masing adegan, atau bisa juga penilaian berdasarkan menarik tidaknya adegan tersebut bagi pembaca. Pemberian penilaian bisa dimulai dari angka 1 untuk adegan nilai terendah hingga 5 untuk nilai tertinggi.
Nilai-nilai tersebut harus diseimbangkan dengan mengatur alur mana yang harus dipertajam atau didramatisasi hingga menarik untuk pembaca. Lalu mengenai mood, dalam sebuah cerita fiksi biasanya terdapat 5 macam mood yang seringkali digunakan. Pertama mood romantis, komikal, tegang, santai, dan mengancam. Pandai-pandailah menempatkan mood yang tepat untuk setiap adegan.
Karakterisasi Cerita
Pada tahap ini, Anda akan mulai menentukan hal-hal yang menjadi unsur utama atau unsur umum dalam sebuah cerita. Pada tahap ini Anda akan mulai menentukan tema cerita, tujuan cerita, dan penyelesaian.
1. Tema
Tema merupakan hal penting dan sangat menentukan sebuah cerita. Berawal dari tema ini Anda bisa mengembangkan cerita ke tahap lanjut, tetapi tidak sampai keluar jalur. Beberapa tema yang seringkali dipilih oleh penulis cerita fiksi, antara lain kebebasan, percintaan, kematian, pertentangan yang baik dan yang jahat, kedewasaan, dan banyak lagi yang lainnya. Tema yang hendak diangkat sebaiknya disesuaikan dengan cerita apa yang Anda inginkan.
2. Tujuan
Mulai tuliskan tujuan yang hendak Anda berikan untuk sang protagonais. Apakah sang protagonist dalam cerita akan mendapatkan apa yang diinginkannya atau justru sebaliknya. Tujuan ini harus ditentukan dari awal.
3. Penyelesaian
Bagai sebagian besar pembaca dan penyuka cerita fiksi, cerita yang menarik adalah yang berakhir dengan penuh kejutan. Untuk itu, buat penyelesaian yang sedemikian rupa sehingga tidak mudah ditebak oleh pembaca.
Pengembangan Karakter
Pengembangan karakter dibuat dengan tujuan membangun potensi cerita yang maksimum. Untuk itu, harus ada beberapa karakter yang dikembangkan. Adapun pengembangan karakter yang biasa dilakukan ketika menulis fiksi, antara lain biografi karakter, atribut karakter, deskripsi tempat, dan hubungan tempat dengan karakter.
Biografi karakter dapat Anda kembangkan dengan menjelaskan secara singkat tentang latar belakang, kepribadian, dan hubungan si tokoh dengan tokoh lainnya. Atribut karakter yang harus dijelaskan antara lain fisik, emosi, sosial, dan intelektual di tokoh. Deskripsi tempat harus benar-benar digambarkan dengan detail, sehingga pembaca bisa merasakan betul tempat tersebut walau hanya dengan membayangkan deskripsinya saja.
Sementara itu hubungan tempat dengan karakter harus bisa Anda munculkan dengan kuat. Misalnya, karakter A putus cinta dengan karakter B di sebuah tempat. Tempat yang dimaksud di sini sebisa mungkin harus dijelaskan dengan detail sehingga pembaca bisa merasakan sinergi yang begitu kuat setiap kali menemukan tempat itu di dalam cerita.
Nah, itulah beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika Anda hendak menuli sebuah cerita fiksi. Anda sudah paham, bukan? So, selamat mencoba dan menulislah tanpa pernah merasa dibatasi.

