Film Aneh: Film Horor atau Mesum?
Kita patut bersyukur karena industri perfilman Indonesia sudah mulai bangkit dan berkembang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya rumah produksi yang tak henti-hentinya mengeluarkan sebuah film baru. Mereka bersaing dengan mengusung banyak ide, namun tanpa isu yang jelas. Mungkin hanya sedikit film Indonesia yang membawa gagasan yang baik dengan pesan moral yang utuh. Selebihnya, adalah film-film aneh dengan judul-judul aneh, bahkan kadang sangat tidak bermoral.
Murni Hiburan
Film-film seperti ini murni hanya untuk memberikan hiburan belaka tanpa memberikan sumbangsih apa pun dalam wawasan penontonnya. Memang, tujuan pembuatan film adalah memberikan sebuah hiburan bagi penontonnya. Namun, di balik itu semua seharusnya sebuah film memberikan pesan moral yang berarti bagi menonton sehingga menjadi sebuah media untuk menyampaikan nasihat. Film akan diapresiasi penontonnya dari berbagai kalangan sosial, usia, dan strata pendidikan, jadi sebaik film-film itu memberikan gagasan yang baik pada penontonnya. Bukan memberikan dampak buruk bagi yang mengapresiasinya.
Contoh kecil dari film aneh Indonesia adalah dengan judul Hantu Puncak Datang Bulan garapan sutradara Steady Rimba yang diperankan oleh Andy Soraya, Trio Macan, Tesa Mariska, Ferly Putra, Ridky Mocil, Andreano Philips. Menilik judulnya sudah aneh, apalagi menonton filmnya.
Film ini mengisahkan tentang rumah kosong yang lama tak berpenghuni kemudian dijadikan rumah kos-kosan. Rumah ini ditinggalkan pemiliknya karena sempat terjadi peristiwa pembunuhan anak pemilik rumah, Putri, oleh kekasihnya. Ceritanya, kekasih Putri minta melakukan hubungan badan, namun Putri menolak karena dia sedang datang bulan.
Dari ide ini pun sudah memberikan sugesti negatif bagi remaja yang menontonya. Bahwa hubungan badan dalam pacaran itu sah, Putri menolak karena dia sedang datang bulan. Coba kalau tidak, mungkin sudah terjadi. Lalu, pacarnya marah dan memukul Putri hingga jatuh dari lantai dua dan mati. Kemudian, pacarnya mati juga kena setrum.
Mereka menjadi hantu yang meneror pemuda dan pemudi yang indekos di rumah itu. Tentu saja, terornya adalah teror mesum. Dalam film horor porno dan aneh ini pun banyak adegan yang bikin celana pria menjadi sempit. Anehnya, fim-film yang seperti selalu lolos sensor dari lembaga sensor film Indonesia.
Tokoh Agama
Hal yang lebih memberikan sentimen negatif pada film ini adalah datangnya seorang ustad yang mengusir hantu-hantu tersebut. Seolah ayat-ayat suci Al-Quran itu hanya dipakai untuk mengusir hantu, bukan untuk memberikan didikan moral pada tabiat-tabiat pemuda-pemudi yang indekos dalam film itu. Apa ini pesan moral yang ingin disampaikan sang sutradara pada masyarakat, bahwa ayat-ayat suci Al-Quran bisa digunakan untuk mengusir hantu penasaran? Naif sekali jika hal itu dijadikan pesan moral dalam film yang tidak bermoral itu.
Belum lagi film-film yang sejenis, seperti Kuntilanak Datang Bulan, Dendam Pocong Mupeng, Kuntilanak Keramas, Suster Keramas, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Kuntilanak Perawan, Rayuan Arwah Penasaran, dan masih banyak film-film horor aneh yang porno beredar di tanah air yang bisa menyesatkan penontonnya, terutama anak-anak yang masih polos. Mereka sangat mudah tersugesti dengan apa pun yang di luar dirinya.
Indonesia memang negara demokrasi, kita dibebaskan untuk berkarya apa pun tanpa dibatasi. Tetapi, Indonesia bukan negara liberal yang menjadikan kebebasan individu dasar pijakan hak asasi manusia.
Kita punya undang-undang yang mengatur semua itu dan kita negara beragama yang percaya akan dosa. Jadi, buatlah film yang baik dengan judul-judul yang sedikit bermoral. Bukan membuat film-film aneh yang porno yang bisa merusak mental generasi muda bangsa. Sayang, membuat film itu biayanya sangat mahal, tapi tidak memberi faedah yang positif bagi kita semua, juga yang membuat film sendiri.






