Horor Indonesia, Menakuti Tanpa Bercerita
Pernah menonton film horor Indonesia? Pastinya pernah dong. Horor Indonesia selalu penuh dengan hantu-hantu lokal, seperti pocong, sundel bolong, tuyul, dan yang paling sering digunakan adalah kuntilanak. Namun, belakangan hantu suster yang berjalan ngesot jadi trendmark hantu baru di Indonesia.
Film-film horor mulai menjamur karena para produser film horor yakin bisa mengantongi angka sampai lima ratus ribu penonton. Angka tersebut bisa mengganti biaya produksi, bahkan, mendapatkan banyak keuntungan. Faktanya, itu benar.
Mistik
Orang Indonesia sangat suka segala hal yang berbau mistik. Itulah sebabnya, segala sesuatu, entah itu cerita horor, foto berhantu, maupun film horor, banyak diminati. Seakan-akan cerita berbau mistik menimbulkan daya medan magnet yang menarik banyak peminat. Tren film horor terus meroket, dan tetap ada walau ceritanya semakin kesini semakin tidak jelas mana ujung dan mana pangkal. Cerita sering tidak berkaitan dengan judul. Misalnya, film "Terowongan Casablanca". Filmnya sendiri bercerita tentang dendam seorang wanita yang dibunuh oleh pacarnya karena hamil dan menjadi kuntilanak. Lalu, dia membalas dendam di Terowongan Casablanca. Padahal, perempuan itu tidak dibunuh di terowongan tersebut. Cerita dipaksakan agar bisa sesuai dengan judul.
Ditambah lagi, sekarang ini film horor dijadikan sebagai ajang mengumbar seks. Banyak sekali pemain yang seakan-akan dibuat telanjang, padahal kemunculan si pemain yang telanjang tidak berhubungan dengan cerita. Bahkan, kalaupun pemain tersebut tidak telanjang, cerita tetap akan bergulir dengan baik.
Penonton sendiri sudah cukup senang kalau melihat kemunculan mendadak hantu favorit mereka, dan menjerit-jerit kaget, walau sempat timbul juga pertanyaan, kenapa kok mendadak muncul? Cerita film horor tidak dijaga, alur kacau balau, keluar jalur logika. Namun, tidak masalah, yang penting penonton kaget.
Memang ada beberapa film horor yang lumayan bagus karena cerita lebih terjaga, contohnya "Jailangkung" dan "Kuntilanak". Walaupun tetap saja ada beberapa hal yang ganjil dan tidak masuk akal, tetapi film tersebut masih jauh lebih baik daripada cerita horor yang berantakan.
Kisah di film horor lain cuma dijadikan latar untuk memunculkan hantu-hantu dadakan. Padahal, kalau cerita kuat, kemunculan hantu pun akan mampu membuat suasana yang mencekam. Penonton puas, rasa kaget dan ngerinya tertuntaskan, ditambah film tersebut akan mereka puji karena bagus dan menegangkan.
Film-film horor buatan Tailand dan Jepang patut diacungi jempol. Film-film yang mereka buat memiliki alur kuat sehingga ketegangan film sangat terasa, contohnya film Alone, Sutter, dan Ring yang menjadi legenda di kalangan mania film horor. Film tersebut sukses bukan karena kemunculan hantu yang mendadak, tetapi karena dibalut oleh alur yang kuat.
Harusnya, orang-orang Indonesia belajar dari orang luar sehingga film horor kita bisa go internasional dan diakui sebagai film yang baik.






