Sekilas Mengenai Inspirasi dan Film Film Inspiratif
Ilustrasi film inspiratif
Bagi penggemar film (apapun genre-nya) tentu dengan mudah menilai sebuah film itu berkualitas atau tidak. Sudut pandang berkualitas dalam dunia perfilman kemungkinkan berbeda dengan sudut pandang orang awam. Seringkali kita mengatakan bahwa film ini jelek atau bagus hanya dari standar kita sebagai pemirsa yang hanya dilihat dari siapa yang membintanginya, yang membuat tertawa atau bahkan yang hanya menyuguhkan kesan vulgar.
Beberapa waktu terakhir ini kita disadarkan oleh kehadiran tontonan karya anak negeri yang akhirnya menjadi film inspiratif bagi banyak kalangan. Beberapa contoh film yang merupakan karya terbaik putra Indonesia adalah film Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, KCB, Sang Pemimpi, Emak Ingin Naik Haji, Alangkah Lucunya (Negeri ini), Indonesia Tanah Air Beta, dan yang masih baru adalah Sang Pencerah. Pantas untuk diakui bahwa film-film tersebut memiliki pesan yang sangat berkualitas untuk bangsa kita yang sedang dalam kondisi ”miskin” ini. Akhirnya, film tersebut menjadi inspirasi bagi semua elemen sesuai misi yang terkandung di dalamnya.
Mengapa Orang Butuh Terinspirasi
Jika ada sesuatu yang membuat kagum, lantas mengilhami suatu hasrat untuk menyatakan kekaguman atau mirip menjadi seperti keajaiban, kekaguman, atau apresiasi yang mendalam. Berbagai mata pelajaran, dari situasi dan peristiwa ke objek nyata yang sebenarnya, dapat menginspirasi kekaguman bagi orang-orang. Juga, hal-hal yang menginspirasi kekaguman dapat mempengaruhi semua indera, bukan hanya pandangan semata. Jadi, seseorang dapat mendengar sesuatu yang mengilhami kagum, seperti karya film, atau bisa mencicipi sesuatu yang mengilhami rasa kagum yang bisa dihadirkan dari kemegahan, sisi yang jarang orang melihatnya.
Dengan melalui film idiom inspirasi akan menghadirkan maknanya sesuai dalam namanya, yakni inspirasi sebagaimana yang bisa diperlihatkan. Ketika sesuatu adalah kekaguman inspirasi, itu mengilhami kagum. Definisi yang berlaku umum kagum adalah emosi terdiri dari heran, takjub, dan penghormatan atau hormat. Jadi, ketika seseorang mengalami sesuatu yang kagum, ia mengalami sesuatu yang telah mengilhami salah satu atau lebih dari berbagai emosi dan menyatakan menjadi yang mendefinisikan kagum. Tentu saja, apa yang menginspirasi kekaguman untuk satu orang mungkin tidak menginspirasi kekaguman bagi orang lain.
Film Ironis pun Bisa Menginspirasi
Orang butuh terispirasi karena orang ingin menghindari hal buruk. Lalu bagaimana bila film menyajikan sesuatu yang buruk seperti rasisme apakah itu film inspirasional juga? Ya bila filmnya merupakan film anti rasisme.
Tidak ada koboi berkulit hitam, karena kebanyakan mereka terlihat dan berperan sebagai budak belian. Film-film komersial yang diproduksi Hollywood. Bintang kulit hitam Hollywood dari zaman film bisu, sampai kepada era bicara, selalu diperlihatkan figuran minor yang diberikan lines vocal satu sampai dua patah kata saja. Namun semenjak kehadiran nama-nama pemain teater kulit hitam seperti Sammy Davis Jr, Sidney Poitier, pada era film emosional yang berwarna dan bersuara tajam (Technicolor-dolby surround) pada 40-50-an. Para produser kulit putih mulai memperhatikan peran-peran bagus bagi orang kulit berwarna. Mengalami puncaknya dalam film Sidney Poitier A Patch of Blue (1965). Yang menceritakan kisah gadis kulit putih buta, yang jatuh cinta pada orang kulit hitam. Film yang jujur, sensitive mencongkel rasisme tanpa memberikan rasa sakit kepada para penontonnya. Film tersebut merupakan lanjutan dari kisah sentimentasi para sineas Hollywood dalam memandang rasisme hitam vs putih. Entah dari sudut pandang kulit hitam sebagai antagonis seperti dalam film To Kill A Mocking Bird (1962) yang menceritakan kisah pemerkosaan yang dilakukan oleh pria kulit hitam terhadap anak gadis kulit putih, dan diharus di bela oleh pembela yang berkulit putih. (www.imdb.com)
Selanjutnya film dengan tema Oscar yang berat dan sensitive hadir menyemarakan rasisme dalam film. Seperti In the Heat of the Night (1967), Missisipi Burning(1988), Monster Ball (2001), atau Dark Blue (2002), setiap film memberikan pembacaan berbeda terhadap rasisme. Bahkan dalam film remaja Higher Learning, gesekan itu berlanjut pada dunia akademis yang netral. Tidak ada peran ‘baik-baik saja’ sebagaimana yang diperlihatkan dalam film produksi TV. Film Hollywood lebih jujur memandang rasisme sebagai keberadaan yang perlu diperhatikan. Dan justru melalui penampilan rasisme dalam film yang digambarkan sebagai hal yang menjijikan orang bisa berpikir kritis dan tidak ingin menjadi bagian dari rasisme. Itulah inspirasinya.,
Aspek Film Berkualitas
Beberapa aspek yang membuat sebuah film dikatakan berkualitas/bagus adalah:
- Alur cerita
- Humor cerdas yang ditawarkan
- Pesan yang disampaikan
- Filosofi yang digunakan
- Visual efeknya, dan lainnya
Tentunya semakin lengkap aspek yang dipenuhi oleh sebuah film, maka kualitasnya akan semakin bisa dibanggakan. Namun seringkali kita melihat sebuah film yang mempunyai isi cerita dan pesan luar biasa bagusnya, hanya disajikan dengan efek visual yang biasa atau tanpa humor cerdas yang lebih mudah dicerna. Demikian sebaliknya, sebuah film hadir dengan efek visual yang memukau tetapi terkadang tidak ada pesan berkualitas yang tersampaikan.
Film Avatar dalam waktu enam minggu saja dari segi income tercatat sebagai film paling sukses penjualannya sepanjang masa, US$1,841 miliar (Rp 18 triliun). Film animasi Computer generated imagery ini mengalahkan rekor terlaris sepanjang sejarah yang tak terkalahkan selama 13 tahun yaitu film Titanic. Apakah Avatar bisa disebut sebagai film berkualitas? Tergantung kita melihatnya dari sisi mana.
Film Berkualitas untuk Menyatukan Umat?
Penggemar Film India (Bolliwood) tentunya sangat tahu dengan sebuah film India yang berjudul Three Idiot. Sebuah film yang digarap dengan luar biasa ini telah menyedot perhatian semua pihak, mempunyai filosofi yang sangat dalam tentang pendidikan dan masa depan. Alur penceritaan film ini juga sangat mengagumkan dengan tampilan kisah yang menegangkan dan juga membuat kita tertawa lebar. Banyak pesan tersampaikan tanpa nuansa menggurui dengan kalimat yang kaku.
Selain itu yang tidak kalah menarik dari Three Idiot adalah My Name is Khan. Film ini sempat menggeser keberadaan Avatar yang merajai dunia perfilman selama beberapa minggu, hanya karena My Name is Khan merupakan sebuah film yang fenomenal. Bukan karena dibintangi oleh Shahrukh Khan, tetapi pesan moral disampaikan sangat baik untuk kita sebagai umat beragama. My Name is Khan menjadi film inspiratif yang memukau untuk terciptanya kerukunan antar umat beragama di dunia.
Ada kalimat menarik dalam film ini: Dunia dahulu dibagi antara Before Christ atau sebelum masehi dan Anno Domini - setelah masehi, tetapi kini dunia dibagi menjadi sebelum 9/11 dan sesudah 9/11. Sejak kejadian serangan ke WTC pada 9/11 dunia menjadi berbeda jauh dari sebelumnya. Rasa curiga, kebencian dan prasangka menghantui dunia, dan Khan adalah salah satu korbannya.
Inti kisah perjalanan Khan yang autis adalah untuk menemui presiden Amerika dan mengatakan "My Name is Khan and I'm not a terrorist!" dan dalam perjalanan inilah seribu kisah kerukunan antar umat beragama terpapar dengan bagus. Ada sebuah toleransi dan rasa cinta yang bersifat universal.
Nah, jika kita penggemar film tentunya tahu film apa saja yang layak disebut sebagai film berkualitas. Tentunya tidak berhenti dengan hanya menyebutnya sebagai film inspiratif jika setelah menonton tidak ada perubahan yang signifikan pada diri Anda. Sebuah pesan mulia hanya akan berhenti sekadar menjadi pesan mulia, jika Anda tidak mewujudkan pesan mulia itu dalam tindakan nyata. Bagaimana?

