Matinya Kreatifitas Film Lokal
Ilustrasi film lokal
Jika Anda adalah penggemar film, maka tidak ada salahnya Anda coba menengok kondisi film lokal Indonesia. Memang secara perlahan-lahan film produksi lokal mulai bangkit kembali dari tidur lamanya yang sangat pulas. Namun sayang, kebangkitan tersebut tidak dibarengi dengan kebangkitan kreativitas dan kualitas yang merata. Kalau Anda perhatikan lebih baik, film produk lokal kita dipenuhi dengan berbagai tema dan bentuk yang sangat statis. Mulai dari pocong ke pocong hingga ke drama yang dimaksudkan untuk menimbulkan kontroversial agar laku.
Film Produk Lokal di Kotak Televisi
Televisi merupakan sarana informasi yang saat ini telah mendunia. Melalui kotak ajaib inilah tabir dunia terbuka di hadapan kita. Begitu banyak program acara yang ditawarkan dalam televisi. Salah satu acara hiburan yang menarik adalah film. Berbagai macam film tersaji dan terprogram dengan baik di setiap stasiun televisi yang ada. Film-film itu cukup menghibur walaupun tidak sebagus dan sehebat film produk Hollywood. Terkadang akting para pemainnya tidak memuaskan. Namun, bagi orang-orang yang haus hiburan, film di televisi atau FTV ini bisa menjadi pilihan hiburan.
Kembali kepada topik film produk lokal, tampaknya tidak terlalu banyak variasi film produk lokal yang mendominasi dunia pertelevisian. Televisi kita hanya banyak dipenuhi dengan film dalam bentuk sinetron. Film-film yang cenderung menawarkan keindahan dunia yang terkadang sulit dimaknai dalam kehidupan nyata masyarakat kita. Setiap rumah produksi berlomba-lomba memproduksi sinetron dengan alasan yang singkat dan jelas, karena profit semata.
Temanya tidak jauh dari percintaan. Kalaupun ada yang mengulas sesuatu yang dimaksudkan untuk memotivasi, ternyata tidak terlalu jauh dari peristiwa yang tentang kemiskinan yang dibuat seolah begitu menderita. Padahal sebenarnya tidak harus terlalu meratapi kemiskinan. Bahwa kemiskinan itu merupakan sesuatu yang terkadang membuat aktivitas menjadi terbatas karena tidak mempunyai dana, pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan.
Selain sinetron, tema film produk lokal yang beredar di televisi kita juga sering mengangkat cerita tentang cinta. Memang cinta merupakan tema yang universal, tapi apakah tidak ada tema lain yang cukup menarik untuk diangkat. Mungkinkah kehidupan masyarakat yang nyata bisa diangkat ke dalam layar kaca. Kembali lagi ke alasan awal, kata mereka film seperti ini tidak akan laku. Ternyata ada juga yang menontonnya walaupun memang tidak terlalu diminati.
Konsumen televisi bukan hanya orang tua saja. Namun sayangnya film produk lokal dengan tema anak-anak yang cocok dengan usia anak-anak hanya bisa dihitung dengan jari. Anak-anak kita telah kenyang dengan tayangan-tayangan yang sebenarnya bukan konsumsi untuk usia mereka. Tapi apa boleh buat, itulah yang tersedia di dalam kotak yang bernama televisi itu. Untuk itulah seharusnya orangtua harus menerapkan diet televisi.
Diet televisi ini akan sangat efektif kalau orangtua menyediakan berbagai kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak mereka. Anak-anak hanya boleh menonton maksimal 10 jam dalam satu minggu. Lebih dari itu, artinya anak-anak telah terlalu sering menonton televisi. Tema film seperti Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi, memang sangat mengkhawatirkan. Siapa yang mau berspekulasi setelah mengeluarkan uang begitu banyak ternyata uang itu tidak kembali.
Untungnya kedua film tersebut laku dipasaran dan malah dianggap sebagai film yang bagus dan menjadi bentuk pembuka gerbang kebangkitan film nasional. Film lain yang cocok ditonton anak-anak adalah Jendela Rumah Kita. Walaupun mungkin ada pakaian dari pemain atau ada adegan yang terlalu dewasa untuk anak-anak, film satu ini tetap menjadi salah satu tontonan yang cukup baik. Memang tidak sepopuler Petualangan Sherina atau Laskar Pelangi, namun film ini cukup menghibur.
Film Emak Pingin Naik Haji dan Surat kecil Untuk Tuhan yang berdasarkan kisah nyata. Film Senandung Denias juga bagus tapi ternyata jumlah penonton untuk ketiga film ini tidak sebanyak jumlah penonton film Habibie dan Ainun. Memang tidak mudah untuk membuat film yang bagus dan juga disenangi oleh masyarakat. Ada banyak hal yang terkadang menjadi faktor x mengapa sebuah film bisa begitu dikenal dan sangat laku sehingga dianggap sebagai suatu simbol kebangkitan perfilman nasional.
Tidak banyak orang yang bisa seperti Mira Lesmana dan Riri Reza. Pasangan keriting ini memang luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang begitu berkomitmen dengan perfilman Indonesia. Mereka begitu setia dan sangat ingin melihat perfilman Indonesia mendapatkan kedudukan yang baik di mata masyarakat dan juga warga dunia. Garin Nugroho pun seperti itu. Berbagai penghargaan telah diraihnya termasuk dari Tokyo film festival.
Baru-baru ini film The Raid meraih perhatian lebih dari dalam dan dari luar negeri. Ini membuktikan sebenarnya perfilman Indonesia ini tidalah sangat jelek. Hanya saja mengapa masih ada film yang memamerkan tubuh wanita seperti dalam film yang berbau pocong, hantu, kuntilanak, dan sebagainya. Seolah para pemain film wanita Indonesia ini berebut ingin memamerkan tubuh indah mereka. Seakan kalau tidak memamerkan keseksian, mereka tidak puas. Bahkan mereka telah mulai berani telanjang.
Luar biasa sekali keberanian yang ditunjukkan oleh pemain film wanita tersebut. Mereka tidak peduli lagi dengan dosa yang akan mereka dapatkan. Yang mereka katakan berkaitan dengan peran yang dimainkan adalah sebagai tuntutan dari skenario. Inilah realita yang sangat mengerikan. Begitu banyak anak muda negeri ini dengan penampilan menarik ingin menjadi bintang film yang menonjolkan lekuk tubuh. Aneka tema yang diarahkan menonjolkan keindahan fisik ini menghiasi perfilman tanah air.
Film Produk Lokal di Layar Lebar
Selain televisi, ada juga film produk lokal yang diproduksi untuk layar lebar alias bioskop. Tidak jauh berbeda dengan televisi, film produk lokal yang diputar di bioskop pun miskin kreativitas. Tema-tema tentang masa remaja, percintaan dan cerita hantu yang paling sering diangkat. Belum lagi film-film dengan judul yang agak eksentrik ikut memberi rapor merah untuk film di layar lebar. Yang dicari hanya keuntungan finansial semata dan tidak ada unsur pendidikan sama sekali.
Walau demikian, kita patut berbangga karena ada beberapa film produk lokal yang cukup berkualitas. Coba tengoklah film Nagabonar, Laskar Pelangi dan King yang benar-benar menyorot kondisi nyata rakyat kita. Film-film yang bisa menjadi inspirasi bagi bangsa kita walaupun disisipi sentilan-sentilan kecil untuk kondisi bangsa ini. Semua demi perbaikan bangsa. Paling tidak bangsa ini masih bisa berbangga bahwa masih ada pembuat film yang peduli dengan keselamatan moral anak bangsa.
Menonton film produk lokal sebenarnya sangat menyenangkan. Kita harus mencintai produk dalam negeri termasuk film. Kita hanya bisa berharap semoga insan perfilman Indonesia bisa mengembangkan kreatifitas mereka dan berbuat lebih untuk perkembangan film lokal Indonesia.
Mimpi Besar
Pasti banyak orang Indonesia yang bermimpi besar agar bangsa ini bisa memiliki insan film yang benar-benar ingin memajukan perfilman tanah air dengan mengangkat tema yang baik. Memang tidak mudah membuat film yang bisa menyentuh semua lapisan masyarakat tanpa ada selingan yang akan merusak pemandangan mata, jiwa, dan raga, tetepi mendatangkan banyak keuntungan. Begitu banyak strategi yang harus digunakan agar film yang bagus itu bisa diketahui oleh masyarakat luas.
Ketika film Ayat-Ayat Cinta, Kala Cinta Bertasbih, diluncurkan, peminatnya luar biasa. Namun, ternyata orang Indonesia itu mudah bosan. Tema seperti ini kini bagai lenyap begitu saja. Film Emak Ingin Naik Haji pun tidak terlalu sukses. Film yang masih mendapatkan perhatian yang cukup luas malah yang yang tetap bertemakan pocong dan dunia lainnya. Penampilan artis seperti Dewi Perssik, Nika Mirzani, Julia Perez, dan artis yang berani telanjang lainnya, malah sangat diharapkan.
Ada pemerintah daerah yang berusaha menggaet insan film nasional, namun sekali lagi, filmnya tidak terlalu meledak. Film Genting Sriwijaya yang diproduksi oleh pemerintah Sumatera Selatan bekerja sama dengan Hanung, ternyata tidak bisa berbicara banyak. Film Mengejar Angin juga seperti itu. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Miliaran rupiah telah dikucurkan.
Sekali lagi bahwa bangsa ini tidak tertarik dengan tema film yang seperti itu. Bahkan tidak sedikit film indie yang bagus yang diputar secara terbatas. Nyatanya film itu tidak juga bisa menarik perhatian masyarakat.

