logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Artikel Umum Film    Film Melahirkan

3 Idiots - Ketika Film Melahirkan Revolusi Pendidikan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Ketika hobi Anda menonton film, sebagian orang mungkin menganggap bahwa itu adalah hobi yang tidak membawa manfaat apapun. Nyatanya, film melahirkan sesuatu hal baru yang tidak akan didapatkan ketika Anda menikmati hal lain. Film melahirkan sebuah pelajaran tentang hidup melalui media audio dan visual.

Selain melahirkan pelajaran-pelajaran baru, yang paling sederhana film melahirkan hal lainnya yang juga cukup bermanfaat. Film melahirkan sebuah penyegaran bagi otak Anda. Setelah lelah dan jenuh dengan berbagai aktivitas, menonton film bisa menjadi salah satu sarana refreshing yang terbilang cukup murah.

Film Melahirkan Sebuah Cara Pandang Baru

Anda sudah menonton satu film India berjudul 3 Idiots? Sejak membaca judul film ini, sebuah bayangan melayang di benak, film komedi India yang kosong makna. Bagaimana tidak? Dari judulnya saja, 3 Idiots, penonton seolah tak bisa menangguk manfaat apapun. Namun, menghakimi sebelum membuktikan langsung memang tidaklah bijak. Nyatanya, ada banyak judul film melahirkan perubahan sistem dan visi hidup masyarakat.

Dalam film India ini, dijamin Anda tidak akan melihat film wanita yang kesakitan ketika tengah melahirkan. Tidak terpengaruh dari asal negara sebuah film tersebut, sebuah, film melahirkan banyak hal, salah satunya adalah film dari industri perfilman India ini.

Sepintas, tak ditemui tontonan istimewa di beberapa menit pertama, kecuali panorama sepanjang jalan menuju Shimla. Seorang tokoh lalu muncul tergesa-gesa hingga lupa tak mengenakan celana. Satu adegan yang makin menguatkan dugaan bahwa film ini memanglah kacangan. Sayang, tampaknya adegan-adegan berikutnya tak rela dikatakan demikian. Film melahirkan sebuah persepsi baru di mata masyarakat, begitupun dengan film ini.

3 Idiots: Film Melahirkan Sebuah Kekaguman

Film melahirkan banyak kekaguman. Sebuah pelajaran tentang persahabatan disuguhkan oleh tokoh-tokoh dalam film ini. Alkisah, Rancho, Farhan, dan Raju, adalah tiga mahasiswa baru di Fakultas Teknik Imperial College of Engineering (ICE), kampus teknik terbaik di India. Mereka tinggal sekamar di asrama. Karakter dan latar belakang berbeda justru mengikat ketiganya dalam persahabatan sejati.

Kekonyolan yang dilakukan membuat nama “Tiga Idiot” tersandang untuk mereka. Rancho berusaha meruntuhkan sistem pendidikan kampus yang kaku dan tertutup dari pembaruan. Dengan polos, Pak Viru, rektor ICE, diberinya julukan “virus”. Rancho dan kedua sahabatnya bahkan berani menentang cara pandang umum tentang makna pendidikan, cerdas, dan sukses. Dengan gaya kocak tapi logis, semua itu mereka goyahkan. Dalam cerita ini Anda dapat merasakan bahwa sebuah film melahirkan hal-hal konyol yang mengagumkan disetiap ceritanya.

Ketika semua mahasiswa teknik ICE berlomba-lomba meraih nilai dan ranking tinggi —kendati dilakukan dengan menjadi penjilat—, Rancho hanya tersenyum santai sembari geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir mayoritas kawannya bercita-cita sebagai teknisi di perusahaan Amerika. Hanya satu cita-cita itu yang mereka kejar. Cita-cita lain lewat begitu saja.

Puncak kegusaran Rancho tak terbendung tatkala menyaksikan seorang kakak tingkatnya mati bunuh diri. Bukan karena putus cinta, melainkan stres berat saat tahu karya inovatifnya ditolak mentah-mentah sang rektor. Film melahirkan juga apa yang disebut “sindiran” terhadap peraturan, dan “sentilan” terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat.

Selama ini, Pak Viru terkenal tak kompromi terhadap kesulitan mahasiswanya. Ia tak mau tahu masalah apapun yang membuat mahasiswanya tidak lulus. Jika orang yang semestinya jadi panutan saja cuek dan kejam, pendidikan macam apa yang diharapkan.

3 Idiots: Ketika Film Melahirkan Revolusi Pendidikan

Apakah film melahirkan sebuah pertanyaan? Apakah sebuah film melahirkan revolusi pemikiran? Jawabannya tentu saja, iya. Tentu jika film tersebut bukan sebuah film kacangan yang benar-benar ditujukan hanya untuk kepentingan komersil, hanya untuk menarik minat para penonton tanpa berbalik memberikan kontribusi selain kesenangan ataupun hiburan.

Harus diakui, masih berderet film lain yang lebih baik daripada 3 Idiots. Tidak dipungkiri, film ini jitu membuat kita termangu dalam sebuah tanya, “Kapan sistem pendidikan Indonesia akan berubah?” Parahnya, pertanyaan itu terlontar dengan hati mengaduh, “Duh, kita masih punya banyak sekolah yang begitu! Kok, banyak yang nggak sadar, sih?”

Film 3 Idiots mencoba membuka mata setiap orang bahwa sekolah bisa menjadi candu berbahaya. Persis seperti tuduhan Paulo Freire terhadap institusi pendidikan yang abai memanusiakan peserta didiknya. Film 3 Idiots bisa juga dikatakan sebagai sebuah film kritikan. Film melahirkan dan menyuguhkan gambaran sebuah fenomena di dunia pendidikan.

Dalam lembaga pendidikan semacam itu, apa-apa dinilai dari angka rapor. Apa-apa diputuskan berdasarkan selembar ijazah semata. Cerdas dan bodoh dibedakan hanya dengan nilai dan peringkat semata.  Sementara itu, kreativitas, pola pikir, dan keutuhan pribadi siswa tak diberi kesempatan luas untuk berkembang. Jangankan berkarya, ilmu memadai saja kerap tak bisa dipenuhi sekolah.

Padahal, segala yang ditemukan di lingkungan adalah sumber ilmu bermutu.
Lebih malang lagi, semua murid “dituntut” memiliki ketergantungan terhadap sekolah; guru dan buku paket menjadi satu-satunya sumber belajar. Masih mending bila penjelasan diberikan secara sederhana dan bisa diterima logika siswa.

Jika penjelasan itu rumit dan berputar-putar ala textbook, apa yang akan ditangkap otak mereka? Bagaimana bisa melahirkan manusia mandiri yang terdidik seutuhnya jika sistem sekolahnya penuh “candu” begitu. Film melahirkan sebuah persepsi baru tentang dunia pendidikan, khususnya bagi masyarakat India.

Dengan suguhan cerita cerdas, Rajkumar Hirani, sang sutradara, sengaja menghadirkan kritik atas realitas dunia pendidikan. Dalam dialog antara Rancho dan Pak Viru, tertangkap fakta bahwa angka bunuh diri pelajar India adalah yang tertinggi di dunia. Film melahirkan banyak hal. Film 3 Idiots ini melahirkan fakta yang mencengangkan tentang dunia pendidikan India dari dialog-dialog yang tercipta antara tokoh.

Pemikiran-pemikiran yang kritis dari aktor yang berperan sebagai pelajar dalam film ini menciptakan sebuah revolusi baru bagi dunia pendidikan. Dengan analisis tajam, Rancho beradu pendapat bahwa realitas itu terjadi karena pendidikan India memperlakukan peserta didiknya bagaikan mesin. Seluruh proses belajar bermuara pada sebatas meraih pekerjaan dan kesuksesan materi. Ujungnya, peserta didik akan merasa gagal ketika pilihan hidupnya jatuh pada bidang selain teknik.

Sungguh, cita-cita pribadi pun telah “dicetak” agar tak melirik bidang lain yang tak menjanjikan kekayaan dan karir cemerlang. Lihat saja Farhan yang begitu menggebu menjadi fotografer. Keinginannya itu ditentang habis oleh sang ayah meski bakat Farhan telah terpoles bagus.

Lain halnya dengan Rancho. Ia yang berhasil menggondol predikat lulusan ICE terbaik, ternyata memilih mendirikan sekolah untuk anak-anak dusun. Di sana, bocah-bocah lugu itu diajari bagaimana menciptakan teknologi sederhana yang tepat guna. Tak ada pias wajah ketakutan pada diri mereka. Pun tak dijumpai tekanan yang membuat kerdil jiwa.

Proses belajar dilakukan dengan cara menyenangkan, layaknya bermain saja. Semua itu merupakan pencapaian hebat, sekaligus tak biasa, bagi seorang alumni jenius fakultas teknik. Sulit rasanya menemukan sosok sepeduli dan semandiri Rancho, yang berani berbeda dalam menentukan pilihan hidupnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Mayoritas warga bangsa ini masih terjebak sengkarut masalah pendidikan yang belum menyentuh substansi pendidikan itu sendiri.

Sebagai contoh, kerusakan gedung sekolah, buku ajar dan fasilitas belajar-mengajar tak memadai, dan keterbatasan dana. Sementara pembenahan mendasar sistem pendidikan —bagaimana pendidikan mampu memanusiakan peserta didik— tetap saja terabaikan.

Ah, revolusi pendidikan memang tak bisa lagi menunggu lama untuk segera diwujudkan! Kenyataannya memang film melahirkan anggapan yang baik ataupun buruk. Film diciptakan untuk melahirkan hal-hal baru dalam masyarakat. Harus diakui bahwa sebuah film melahirkan persepsi yang berbeda untuk setiap orangnya.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Ruang Film: Eat Pray Love, Sangat Romantis
  • Film Putri Duyung dan Legendanya
  • Rekomendasi Film Bagus: Inception
  • Resensi Film: Salt, Agen Rahasia Sejati
  • Ganool.com - Situs Lokal Gudang Film Gratis Hollywood dan Asia
  • Film Baru 2010 Yang Masih Seru
  • Poster Film - Daya Pikat Estetik Sebuah Film
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA