logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Resensi

Mengupas Film Merah Putih


Ilustrasi film merah putih
Film merah putih merupakan film yang berlatar belakang perang kemerdekaan Indonesia. Film ini diproduseri bersama antara Hasyim Djojohadikusumo dan Rob Allyn serta Jeremy Stewart. Film ini bercerita tentang perjuangan pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai macam suku bangsa. Film yang mencerminkan betapa tanpa persatuan dan kesatuan serta tujuan yang sama, kemerdekaan dan kedamaian itu tidak akan bisa ditegakan. Bhenika Tunggal Ika ini harusnya menjadi suatu senjata dan bukannya halangan.

Antara Fakta Sejarah dan Imajinasi

Film berjudul Merah Putih ini dimulai dengan adegan dokumenter yang berkisah tentang menyerahnya Jepang dari sekutu. Kisah tersebut dilanjutkan secara medley dengan tayangan agresi militer Belanda ke II pada tahun 1947, dengan mengambil setting di Jawa Tengah. Selanjutnya, mengalirlah jalan cerita yang sesungguhnya dari film dengan teknologi setara film Hollywood ini. Penonton diajak melihat betapa hebatnya perjuangan bangsa ini dalam merebut haknya untuk menghirup udara kemerdekaan.

Kalau kini banyak anak bangsa yang merasa tidak harus membanggakan bangsa sendiri karena merasa kecewa dengan wajah bangsa ini, seharusnya menonton film ini. Jangan hanya melihat kejelekan yang terjadi pada saat ini. Hari ini adalah hasil dari perjuangan hari kemarin. Dalam perjuangan itu pasti akan ditemui orang-orang yang apatis, pragmatis, dan oportunis. Mereka ini selalu ada dalam setiap gerakan dan langkah dalam meraih tujuan bersama.

Ketika orang banyak menghujat Suharto, sebaiknya mempertimbangkan apa yang telah Suharto lakukan untuk bangsa ini. Bahwa ternyata kehidupan yang menyenangkan pada masa pemerintahan Suharto ternyata seperti hidup dalam mimpi, nyatanya mimpi itu indah. Harga bahan pokok murah, sekolah mudah, harkat dan martabat bangsa dihargai dan dihormati oleh bangsa lain. Suharto memang mempunyai kharisma yang tak bisa dipungkiri. Ia banyak memberikan pengajaran pada rakyatnya.

Terlepas pada apa yang telah dilakukannya termasuk dalam hal korupsi, kolusi, dan nepotisme, Suharto pernah juga membuat bangsa ini merasa damai dan aman serta terlindungi ketika ia membuat gerakan atau operasi petrus (penembak misterius). Operasi ini ditujukan untuk menumpas kejahatan yang meresakan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa rakyat sangat resah ketika begitu banyak preman yang semakin berani mengganggu masyarakat.

Lalu Suharto melancarkan operasi petrus ini. Setiap preman yang dianggap membahayakan, langsung ditembak mati. Jenazahnya ditinggal di jalanan dan di atas tubuhnya diberi uang serta catatan agar mayat tersebut dikubur secara layak. Suharto mengakui hal ini karena ia tak mau ada yang berbuat keji kepada rakyatnya. Tentu saja rakyat senang dan merasa terlindungi. Rakyat tak perlu memanggil Superman untuk melindungi mereka.

Bagaimana dengan sekarang? Calon hakim agung pun malah ada yang mengatakan bahwa korban perkosaan itu juga menikmati kejahatan yang menimpahnya. Bagaimana mau menjatuhkan hukuman mati kalau pemahamannya sudah seperti itu. Orang yang telah membunuh itu memang patut dibunuh. Darah dibalas darah. Itulah keadilan. Dengan catatan bahwa niatnya memang membunuh secara terencana. Gambaran mencoba untuk melindungi rakyat inilah yang juga tergambar dalam film yang berjudul Merah Putih tersebut.

Di setiap dada rakyat ini seharusnya ada merah putih yang menjadi semangat membangun bangsa dan negara. Saat malas melakukan apa-apa, lalu teringat bahwa ada merah putih yang harus dibela. Kalau tidak memberikan yang terbaik, hasilnya pun tidak baik. Hasil yang tidak baik artinya membiarkan diri terpuruk terus-menerus sehingga bangsa lain bisa saja menginjak-injak bangsa ini. Mereka datang ke sini, digaji lebih tinggi, dan berusaha memanfaatkan kekayaan bangsa ini.

Lalu apa yang terjadi pada bangsa ini. Selalu silau melihat bule yang tinggi, putih. Padahal mereka adalah manusia juga. Kalau mereka bisa, mengapa bangsa ini tidak bisa melakukan hal yang lebih baik. Tidak perlu silau dengan bangsa kulit putih. Belum tentu mereka memang jauh lebih hebat dan lebih pintar dibandingkan orang Indonesia. Hanya saja memang bangsa ini masih harus belajar banyak bagaimana mengelola potensinya dan bagaimana menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Menonton film satu ini, anak muda terutama, diajak untuk mempunyai sikap. Sikap yang menjadi cerminan pembangunan karakter yang hebat. Karakter ini didapatkan dari tata kelola pendidikan yang luar biasa menempatkan bangsa sebagai salah satu motivasi berbuat terbaik. Ketika rasa nasionalisme tinggi, maka perjuangan menegakan kedaulatan bangsa juga tinggi. Lihatlah orang Cina yang belajar mati-matian untuk mengerti tentang kehidupan. Mereka melakukan yang terbaik agar jalan menuju sukses itu cukup mudah.

Ketika waktu lebih banyak dihabiskan untuk berleha-leha, maka sama dengan membiarkan diri menjadi budak dihari tua. Tidak ada ilmu, artinya tidak tahu harus bagaimana memanfaatkan waktu. Padahal waktu ini sangat penting dan tidak akan kembali. Tidak berinvestasi dengan baik mengenai waktu, maka sama dengan membunuh karakter sendiri secara perlahan. Tidak mudah untuk memahami bagaiman memanfaatkan waktu. Untuk itulah, rajin mendatangi orang-orang yang dianggap berilmu bisa menjadi salah satu langkah tepat.

Alur Cerita

Tersebutlah tiga pemuda dengan latar belakang berbeda yang turut mendaftar sebagai tentara pejuang. Ketiga pemuda yang diperankan oleh Lukman Sardi (guru madrasah), Donny Alamsyah (anak kuli yang ayahnya mati oleh Belanda) dan Darius Sinathrya (pemuda terpelajar), saling bersaing menjadi tentara Indonesia.Ketiga pemuda yang berperan sebagai tokoh sentral tersebut saling terlibat hubungan. Khususnya, persaingan antara Thomas (Donny Alamsyah) dan Marius (Darius Sinathrya).

Sedangkan Ahmad (Lukman Sardi) adalah tokoh yang bisa menengahi pertikaian kedua orang tersebut. Pertikaian ini sebenarnya tidak harus terjadi kalau bisa menerima perbedaan dan menghargai apa yang diyakini oleh orang lain. Namun, rasa benci itu terkadang memang sangat menguasai hati manusia sehingga merasa tidak tahan melihat tingkah laku orang lain yang berbeda dengan pandangan hidup diri sendiri.


Pada saat ini hal yang digambarkan dalam film ini, masih juga bisa ditemui. Bahwa bangsa ini berbeda-beda seharusnya dipahami dengan memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri. Namun dengan satu syarat. Syaratnya adalah setiap individu memahami apa yang ada pada budaya dan kebiasaan orang lain sehingga ia tidak akan mengganggu. Tidak saling mengusik inilah yang membuat dunia ini damai.

Konflik Cerita

Konflik yang dimunculkan oleh kedua orang tersebut (Thomas dan Marius), sangat beragam. Mulai berlatar belakang suku dan juga agama. Thomas bukan orang Jawa, dikisahkan selalu berada di pihak yang ditindas oleh Marius yang berlatar belakang memiliki keturunan ningrat. Bumbu percintaan pun sedikit dimasukkan ke dalam film ini.

Bagaimana Ahmad harus memilih untuk menjaga istrinya yang sedang hamil, atau harus maju berperang.Pilihan kedua akhirnya menjadi keputusan bapak guru tersebut. Namun, sesuai dengan tema sebagai film perjuangan, maka dalam perpisahan tersebut tidak diumbar air mata. Hanya nuansa kesedihan yang ditonjolkan melalui musik tema yang digarap apik oleh Thoersi Ageswara. Seorang tentara harus memiliki tugas negara. Istri tentara tahu sekali kondisi itu.

Hingga saat ini pun, para istri tentara dididik untuk tabah, sabar, dan mandiri. Mereka harus rela tidak didampingi oleh suami ketika harus maju ke maden perang membela negara. Mereka harus bisa hidup prihatin dan ikhlas saat diberitahu kalau suaminya gugur di medan juang.

Keseimbangan cerita nampak jelas terlihat ketika porsi perjuangan dan porsi drama mendapat jatah yang sama. Sehingga dalam film yang berdurasi 110 menit ini, tidak monoton menyajikan dar der dor peperangan saja. Meskipun adegan pertempuran yang disajikan pun cukup menawarkan tampilan yang menawan ala film Hollywood seperti Mission Impossible.

Hal ini tak lain karena adanya berbagai macam efek yang muncul seperti tembakan, ledakan bom dan lain-lain menggunakan tenaga ahli dari Amerika, yang pernah menggarap film-film box office seperti Saving private Ryan, Mission Impossible dan lain-lain.

Layak Ditonton

Satu hal yang mengganggu dalam film merah putih ini, yaitu ending cerita yang seakan mengambang, memberi kesan menggantung. Hanya jika memahami bahwa setelah film ini akan dibuat sekuelnya, tentu penonton akan segera memahaminya. Itulah mengapa, film yang dibuat dengan dana Rp. 60 Miliar ini sangat layak untuk disaksikan. Bukan hanya ketika menjelang 17 Agustus, namun setiap saat layak disaksikan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Contoh Resensi Novel THE SWORDLESS SAMURAI
  • Kumpulan Skenario yang Kurang Diminati
  • Sinema-sinema Pilihan Wajib Tonton di 2012
  • Variasai Genre Film Seri Hollywood yang Mendunia
  • The Holiday, Film untuk Obat Patah Hati
  • Jadwal Film Bioskop 21: Eat, Pray, Love
  • Pilih Download Film Indonesia Baru Atau Nonton di Bioskop?
  • Laskar Pelangi Film Penuh Inspirasi
  • Film Dokumenter dalam Kumpulan Film Indonesia
  • Film Kerajaan Yunani
  • Film Garuda di Dadaku
  • Perkembangan Film Indonesia Terbaru
  • Film Terbaru Hollywood - Diburu dan Ditunggu
  • Film Terbaru Bioskop yang Paling Ditunggu di Indonesia
  • Cerita Radit dan Jani
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA