logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Artikel Umum Film    Film Motivasi

My Name is Khan, Bingkai Inspiratif Film Motivasi

Oleh: AnneAhira.com Content Team

“Namaku Khan. Dan, aku bukan teroris.”

Berulang-ulang kalimat itu terucap dari bibir yang bergetar dalam takut, pilu, dan cemas. Berkali-kali pula, kata-kata itu meluncur deras dalam perjalanan panjang, pada lembaran buku diary, demi bertemu Presiden Amerika.

Dia, lelaki yang mengucapnya, bukanlah sosok sangar lagi sadis. Dia hanyalah seorang suami dan ayah yang ingin mengadukan segala deritanya. Derita akibat predikat “teroris” yang dilekatkan mayoritas orang di negerinya. Derita yang telah merenggut paksa nyawa Sameer, putra kecilnya. Lantaran ia seorang muslim. Lantaran ia bernama Khan.

Namun, siapa yang peduli kepadanya? Islam dan terorisme—terutama selepas tragedi peledakan World Trade Centre atau lebih dikenal sebagai Tragedi 9/11—dianggap sebagai dua hal serupa. Dan, konsep jihad adalah mata rantai yang menjebloskan Khan tanpa pilihan lain, kecuali dicap sebagai teroris. Dia bahkan harus merasakan ruang interogasi untuk para kriminal kejam, sebelum akhirnya dipenjara.

Karan Johar—sutradara India kawakan—berhasil membidik semua itu dalam sinematografi menawan sebuah film motivasi tentang indahnya pluralisme. Dan, Shah Rukh Khan begitu lihai menghidupkan motivasi ini dalam karakter Rizvan Khan; penyandang sindrom asperger. Sindrom yang mengindikasikan autisme tersebut membuat Khan begitu membenci warna kuning, suara tajam, dan orang asing. Di tengah pluralisme Negeri Paman Sam, sosoknya hadir sebagai golongan minoritas. Semua serba mencemaskan baginya, kendati otaknya luar biasa cerdas.

Ketika Cinta dan Benci Berbatas Tipis

Terlahir di kampung kumuh di pedesaan India, Rizvan Khan terbiasa menyaksikan ocehan kasar dalam perseteruan antara kaum muslim dan penganut Hindu. Nyaris saja makian-makian mereka menguasai relung pikiran lelaki kecil itu. Beruntung, bocah itu memiliki ibu yang begitu pengasih. Ammi—begitu Rizvan memanggil ibunya—bergegas mengambil sehelai kertas dan sebuah pensil. Digambarnya dua orang: seorang membawa pedang dan satu lagi tak bersenjata. Sekali lagi, ammi menggambar dua orang. Kali ini, seorang tampak menggenggam permen lolipop, sedangkan seorang lagi seolah menerima permen itu.

Dengan cerdas, Rizvan mampu menangkap maksud gambaran itu, yang kemudian ditegaskan sang ibu, “Ada dua macam orang di dunia ini. Orang baik yang melakukan perbuatan baik. Dan, orang jahat yang melakukan perbuatan jahat. Hanya itu perbedaan di antara manusia.”

Semenjak itulah, Rizvan Khan tumbuh sebagai anak yang penyayang dan peduli, meski tak mampu mengekspresikan perasaannya dalam kata-kata. Cemas, sedih, takut, dan gelisah dia tunjukkan dengan kebiasaannya memainkan batu-batu kerikil. Di kala berpikir, jemarinya asyik memelintir rambut di kepalanya. Perjumpaan dengan Mandira—seorang penata rambut di sebuah salon—tak disangka mampu mengubah Rizvan dari pemuda kaku menjadi lelaki dewasa yang cukup humoris. Bisa ditebak, dia jatuh hati pada pandangan pertama, ketika suara tawa Mandira menimbulkan getaran perasaan aneh di hati Rizvan.

Tak lama setelah perjumpaan pertama, kedua insan lain jenis itu pun menikah. Tak mudah memang jalan mereka untuk menyatukan cintanya. Zahir, adik Rizvan, menentang rencana pernikahan mereka. Alasannya klise: karena janda beranak satu itu beragama Hindu. Namun, Rizvan tak menyerah begitu saja. Salesman produk kosmetik herbal itu tetap berpegang teguh pada prinsipnya bahwa Islam dan Hindu bukanlah pembeda bagi manusia. Baginya, manusia dibedakan atas dasar baik dan buruknya segumpal darah bernama hati.

Perkawinan tersebut akhirnya berlangsung meriah, sejak itu pula Rizvan telah menunaikan janjinya kepada almarhum ammi—menemukan kebahagiaan hidupnya. Ya, bersama Mandira adalah kebahagiaan yang selama ini dicari Rizvan. Namun, siapa sangka jalinan cinta mereka terbentur peristiwa terorisme di Gedung WTC? Buntut tragedi itu menyeret keluarga baru Rizvan ke jurang yang sulit dilewati.

Mula-mula kematian Sam atau Sameer, anak Mandira yang begitu akrab dengan Rizvan. Sebuah pengeroyokan bermotif rasial, lantaran Sam mewarisi nama Khan di belakang namanya, harus berujung pada kematian bocah lelaki yang hobi main sepak bola itu. Dengan amarah, kekecewaan, dan penyesalan memuncak, Mandira menyalahkan Rizvan.

Sebuah kalimat bernada benci pun dilontarkan sang istri terkasih bahwa dia tak ingin Rizvan pulang sebelum suaminya itu menemui Presiden Amerika dan berkata: “Namaku Khan. Dan, aku bukan teroris.”

Bagai berdiri di titian sehelai rambut, permintaan Mandira adalah sesuatu yang sangat berat untuk diwujudkan. Tapi, mau tak mau, Rizvan harus memenuhi pinta Mandira, demi menebus perasaan bersalahnya. Kota demi kota menjadi saksi atas segala kesungguhan lelaki autis itu. Setiap kesempatan yang bisa mempertemukannya dengan presiden akan dikejarnya. Namun, beberapa kali pula dia gagal. Di saat yang sama, ada banyak orang yang terpaksa memangkas identitas keislamannya, karena berbagai tekanan dan intimidasi yang menyerang mereka.

Sementara itu, tanpa ada kejelasan siapa pelakunya, kasus kematian Sam dibiarkan berlarut-larut, hingga akhirnya dipetieskan begitu saja oleh pihak kepolisian. Dan, Mandira harus berjuang seorang diri untuk mendiang anak tunggalnya. Dengan terus memupuk kebencian pada nama Khan, perempuan cantik itu tak putus asa mencari keadilan.

Episode Penuh Haru

Dalam alur melingkar nan memikat, My Name is Khan terus melaju dengan menitikberatkan pada tokoh sentral Rizvan Khan. Perjalanannya untuk menemui presiden bisa disimak seperti mengikuti episode perjuangan hidup yang mengharukan. Walau begitu, Rizvan tak ingin kehilangan jati dirinya sebagai pemeluk Islam yang taat.

Di sebuah masjid, ketika hendak menenangkan diri, Rizvan menjumpai sekelompok orang yang tengah didoktrin seorang perekrut teroris. Rizvan tak tinggal diam. Dia membantah semua ucapan sang teroris dengan berdalih bahwa jalan Islam adalah kasih sayang, bukan kebencian dan perang. Langkah selanjutnya, dia melaporkan keberadaan Faisal Rehman—si perekrut teroris—kepada FBI. Sayang, tak ada tanggapan positif dari FBI.

Ketika kesempatan bagus bertemu presiden akhirnya datang, Rizvan justru dibuat terpuruk dengan tuduhan sebagai seorang teroris. Padahal, itu terjadi hanya karena orang-orang salah dengar.

“Namaku Khan. Dan, aku teroris.”

Kata-kata itu yang mampir di gendang telinga mereka, sesaat setelah Rizvan berteriak di antara kerumunan padat massa. Nahas, pasukan pengawal presiden pun bergerak cepat untuk “melumpuhkan” Khan, seiring dengan kepanikan orang-orang yang tercipta seketika. Sebuah pukulan telak mengantarkan Rizvan menuju serangkaian interogasi di ruangan rahasia. Berbagai siksaan fisik dan psikis harus rela diterimanya, tanpa dia tahu kesalahannya. Parahnya, semua itu mesti dihadapinya sendiri tanpa bantuan satu pun pengacara.

Karena bantuan dua orang jurnalis muda, usailah penderitaan Rizvan Khan. Dia dibebaskan. Terlebih, setelah Faisal Rehman berhasil ditangkap berkat telepon Khan kepada FBI, beberapa waktu lalu. Pembebasan ini ternyata bukanlah penghujung dari darma bakti Rizvan bagi kemanusiaan. Pada sebuah bencana akibat badai molly di kawasan Wilhemina, Georgia, pria itu melarutkan diri. Menolong Mama Jenny, Joel, dan penduduk yang terjebak banjir. Mereka adalah para sahabat yang sudi menampung dan menerima Khan, tanpa syarat apa pun.

Upaya Khan terbukti mampu menginspirasi masyarakat Amerika, termasuk Mandira dan kerabat dekatnya, untuk berbondong-bondong menyelamatkan warga Wilhemina. Kini, semua mata terbuka bahwa keluarga itu tak hanya terbentuk karena hubungan sedarah. Masih ada cinta kasih yang memberikan ruh dalam setiap hubungan antarmanusia. Dan, itu tak boleh disingkirkan begitu saja, hanya karena perbedaan agama atau ras.

Terorisme dan Semangat Pluralisme

Berkaca pada film motivasi tentang indahnya pluralisme itu, kita dibuat tertegun. Bagaimana dengan kita yang hidup di Indonesia? Masihkah prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjiwai setiap langkah kita? Sedangkan berderet aksi terorisme seakan enggan usai mengobok-obok integritas dan harga diri bangsa?

Jika ditinjau lebih jauh, setiap tindak menyebarkan teror bisa dikategorikan sebagai aksi terorisme. Tindak kejahatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa pun, dan tak terkait dengan ajaran agama mana pun. Jiwa kerdil yang tak puas atau kecewa atas kondisi plural manusia merupakan salah satu muara mencuatnya terorisme. Dalam keadaan “gelap mata” karena doktrin keliru, para teroris bertindak seraya mengaku tengah berjuang di jalan Tuhan. Dampaknya, tak hanya kemuliaan agama yang akan ternoda. Semangat pluralisme Indonesia pun terluka penuh coreng-moreng.

Satu tanya yang selayaknya mengganggu benak kita adalah, “Ada apa dan siapa di balik semua kasus terorisme di negeri ini? Mungkinkah ada keterlibatan pihak asing yang ingin melihat bangsa Indonesia menjadi runtuh? Kepentingan apa yang mereka usung, sehingga begitu tega meniupkan isu terorisme sembari menuding Islam sebagai biang teroris?”

Jika pun kita tak kuasa menguak jawabnya, maka ingatlah bahwa terorisme itu sesungguhnya bermula dari diri sendiri. Karena itu, sesakilah jantung-hati Anda dengan cinta kasih terhadap sesama.

Tips Menyikapi Kehidupan yang Plural

Untuk menjadi seorang pluralis yang tetap berpegang teguh pada prinsip hakiki, hendaknya Anda mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

  • Menerima dan menghargai kekurangan diri sendiri, agar dapat menghargai orang lain.
  • Menghormati kehadiran dan peran orang lain, sekecil apa pun.
  • Menghindari bersikap eksklusif di mana saja memijakkan kaki.
  • Mau berbagi dengan sesama dalam kesetaraan nilai manusia.
  • Memiliki kepedulian atas segala yang ada di lingkungan sekitar.
  • Menjaga kerukunan antarumat beragama.
  • Bersikap bijak terhadap setiap perbedaan yang ada, kendati itu berseberangan dengan pemikiran atau pendapat sendiri.
  • Menjalin komunikasi yang baik dengan sesama, agar tiada salah paham. Jika terjadi selisih pendapat atau konflik, komunikasi yang baik akan menjadi jembatan bagi penyelesaian masalah secara arif.
  • Berlapang dada, tidak egois, dan mau memaafkan kesalahan sesama.
  • Meyakini bahwa setiap manusia itu sederajat, tanpa memandang perbedaan agama, ras, suku, dan latar belakang sosial ekonominya.
  • Menjalankan ibadah agama masing-masing dengan benar, dan penuh toleransi terhadap setiap perbedaan tata cara beribadah.
  • Meyakini bahwa inti dari ajaran agama adalah menyebarkan cinta kasih dan berbuat baik kepada seisi alam raya.

Selamat membangun toleransi terhadap kondisi plural di sekitar Anda! Dan, percayalah bahwa hidup ini bukan sekadar mengalir dengan materi semata. Masih ada hati dan jiwa yang juga harus dihidupi dengan memberikan kasih sayang untuk sesama.

Dengan demikian, kita akan mengerti bahwa ada begitu banyak hal yang dapat ditanggung atau diselesaikan dalam kebersamaan yang indah, meski perbedaan sungguh tak bisa dihindari.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Kelebihan Menonton di Biokop 21
  • 7 Alasan Wanita Tidak Menyukai Film Bokep
  • Unik dan Romantisnya Film Saus Kacang
  • Power Ranger, Candu bagi Anak-Anak
  • Sinema-sinema Pilihan Wajib Tonton di 2012
  • Mengasah Akting di Ruang Film
  • Selamatkan Kenangan Lama di Klise Film
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA