Film Perang Indonesia Belum Jadi Pilihan
Film Indonesia
Film Indonesia mulai menggeliat sepuluh tahun belakangan ini. Diluar kualitas yang mengiringi film-film buatan anak negeri, prestasi ini patut diacungi jempol, namun sayangnya genre film yang beredar masih seragam. Genre film action yang lebih dikhususkan pada Film Perang Indonesia masih sangat jarang ditemukan.
Dalam memasukkan sebuah film sebagai genre film perang, biasanya ada tiga hal yang mengikutinya, seperti setting tempat, waktu, dan cerita. Film perang Indonesia, biasanya bersetting waktu dengan mengambil moment perang perebutan kemerdekaan, atau mengambil inspirasi dari sejarah peperangan zaman kerajaan. Begitu pun tempat dan cerita yang terinspirasi dari momen-momen sejenis. Sebut saja film Naga Bonar, Janur kuning, Fatahillah, dan Merah Putih.
Film Perang Indonesia
Terbatasnya film perang Indonesia yang beredar di pasaran bisa jadi disebabkan karena kualitas film yang tidak terlalu bagus sehingga penonton lebih memilih jenis film yang lain, disamping karakter pasar yang lebih suka film-film pop daripada genre film perang. Kualitas film perang Indonesia seringkali dipertanyakan oleh penonton sebelum menjatuhkan pilihan film mana yang akan ditonton.
Kualitas special effect (baca:efek khusus) dalam scene peperangan merupakan salah satu unsur terpenting dalam pembuatan film perang. Jika spesial efek dalam sebuah film perang tidak terasa, maka bisa dibilang film ini tidak layak tonton. Sayangnya, sudah bukan menjadi rahasia lagi jika sineas Indonesia masih lemah dalam kualitas efek khusus,perlu ada tandem dari pihak luar untuk membantu upgrade kualitas efek khusus dari sebuah film perang.
Langkah berani sudah dilakukan Merah Putih II yang menggandeng ahli efek khusus dari mancanegara. Adam Howarth (ahli efek khusus dalam Saving Private Ryan, Black Hawk Down). Dengan langkah berani ini, Merah Putih II menjadi salah satu film perang Indonesia yang cukup bisa menarik hati penonton. Namun konskuensinya, produser film merogoh lebih banyak koceknya untuk mendatangkan ahli efek khusus dari tim internasional.
Sineas muda Indonesia sepertinya masih punya banyak PR untuk menghidupkan kembali film perang Indonesia. Didukung dengan peningkatan kualitas, tentunya diperlukan edukasi bagi penonton untuk memasukkan film perang Indonesia sebagai salah satu daftar layak tonton demi meningkatan rasa nasionalisme. Dengan lebih banyak genre film Indonesia yang beredar dipasaran maka akan semakin banyak pilihan film bagi penonton. Selamat berjuang!






