Brutal dan Sadisnya Film Pocong
Pocong adalah karakter horor yang sangat 'akrab' dan tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sosok yang sama terkenalnya dengan Kuntilanak ini, sudah sering sekali muncul dalam berbagai jenis film atau tayangan televisi.
Namun, film Pocong yang disutradarai Rudi Sujarwo dan dirilis tahun 2006, malah dicekal dan dilarang beredar. Ini menjadi satu-satunya tayangan berkarakter utama pocong, yang dilarang di Indonesia.
Penyebab Lembaga Sensor Film mencekal habis-habisan film ini karena film Pocong versi Rudi Sujarwo bernuansa sangat sadis dan banyak mengandung unsur SARA. Film yang dibintangi Dwi Sasono dan Kinaryosih ini juga menampilkan adegan pemerkosaan yang brutal dan tidak layak tonton. Tentu saja pencekalan film ini membuat produser filmnya sangat kecewa karena dana yang dikeluarkan tidak sedikit. Untuk menyiasatinya, dirilislah film Pocong 2.
Perjuangan Melawan Gunting Sensor
Akhirnya Rudi Sujarwo mau juga berkompromi dan mengurangi sedikit idealisme filmnya untuk melawan gunting sensor. Usahanya membuahkan hasil. Film Pocong 2 berhasil dirilis 28 Desember 2006. Tentu judul film Pocong 2 terasa sedikit aneh mengingat prekuel-nya tidak pernah beredar. Tapi toh film yang didistribusikan Sinemart dan berdurasi 90 menit ini cukup laris di pasaran.
Di Pocong 2, Kinaryosih tidak lagi bermain dan posisinya digantikan Revalina S. Temat. Film ini juga dibintangi Ringgo Agus Rahman, Henidar Amroe, dan Risty Tagor. Dwi Sasono menjadi satu-satunya pemain dari film Pocong yang berakting di sekuelnya. Skenario film ini digarap sutradara dan penulis skenario Monty Tiwa, yang juga menggarap skenario film Pocong 1
Plot Cerita Pocong 2
Film Pocong 2 bercerita tentang dua wanita bernama Maya yang berprofesi sebagai asisten dosen, dan Andin, adik perempuannya. Mereka berdua bersama-sama menempati sebuah apartemen. Tapi hidup mereka tidak pernah tenang karena selalu diganggu pocong di apartemen itu.
Sesudah diselediki, belakangan diketahui kalau pocong itu adalah arwah Rahma, seorang gadis yang diperkosa di apartemen itu empat tahun yang lalu, dan dikubur hidup-hidup. Wisnu, kakak Rahma, selama ini meyakini bahwa adiknya tewas sewaktu apartemen mereka terbakar. Sesudah dia menemukan fakta itu, dia berusaha menuntut balas dan mencari siapa sesungguhnya pemerkosa adiknya.
Meski tetap brutal dan sadis, setidaknya film ini masih memegang adat-adat kesopanan yang lebih enak distonton. Dan menjelang akhir film, baru diketahui fakta yang tidak pernah disangka-sangka penonton.
Kalau Anda suka dengan twist ending ala film Sixth Sense atau The Others, lebih bagus kalau Anda tonton sendiri film ini. Karena memang tidak seru kalau Anda sudah mengetahui ending sebelum melihat filmnya sendiri, bukan?






