logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Filsafat

Membincang Filsafat Abad Pertengahan


Ilustrasi filsafat abad pertengahan

Apabila dunia filsafat kita bagi menjadi beberapa fase, setidaknya ada empat fase filsafat. Filsafat Klasik (Yunani), Filsafat Abad Pertengahan, Filsafat Modern, dan Filsafat Postmodern (Postmo).

Di antara empat fase ini, filsafat abad pertengahan kiranya memiliki karakteristik yang khas dibanding fase-fase lainnya. Karena, pada fase inilah, tradisi berpikir (filsafat) bersentuhan langsung dengan tradisi beragama (teologi).

Hiruk pikuk para filosof berpilin erat dengan semangat para pemuka agama. Hasilnya, di beberapa tempat dan masa, filsafat dapat berpadu harmonis dengan nilai-nilai agama. Saling berkontribusi positif dalam memperkaya wawasan intelektual manusia dan peradaban.

Tetapi, di lain tempat dan masa (juga masih dalam masa abad pertengahan), keduanya saling meniadakan. Bertikai dan berselisih satu sama lain. Jejak-jejaknya pun dapat kita lihat hingga sekarang. Paham sekuler yang memisahkan urusun dunia dengan akhirat (agama), jadi contoh nyata permusuhan filasafat kontra agama, atau sebaliknya.

Membaca Abad Pertengahan

Abad pertengahan di mulai ketika abad kegelapan berangsur dilupakan. Dinamakan abad kegelapan, karena penetrasi Kristen di Eropa Barat belumlah sempurna. Di dalam raja raja beragama kristen, etika kristen dipahami sambil lalu. Namun beranjak pada tahun 1000, di kenallah tokoh tokoh raja Utara beragama kristen yang benar benar taat dan tekun menerapkan teologi kristen, di antaranya adalah Canute, raja Inggris dan Denmark. Era abad pertengahan juga di buka dengan munculnya semacam kode etik menggarisbawahi etika yang telah ada bermunculan. Kode etik Chivarlic atau kode ksatria ini sekedar untuk menandingi kedisiplinan yang tumbuh di timur. Perlu di maklumi bahwa tentara dan ksatria Timur lebih berdisiplin, beradab, dan masing masing dari mereka bukan hanya sekedar pandai mengayun pedang, tapi juga luhung dalam pengetahuan dan wibawa. Hal inilah yang dikejar pula oleh para ksatria di Eropa.

Abad pertengahan juga ditandai dengan semakin jelasnya konsep Royal. Konsepnya kerajaan dengan perlindungan dari para Carl yang merupa menjadi Baron Feodal yang kekuasaannya lebih besar. Raja kini ditopang bukan oleh rakyat yang suatu waktu bisa dipanggil dalam perang. Melainkan di topang oleh para Baron yang berhak memiliki tentara sendiri. Baronial itu bahkan diperkenankan memiliki penasihat sendiri, istana, yang sama megahnya dengan milik raja. Segala sesuatunya berubah. Dan raja membagi bagi kekuasaannya secara facto. Dan baru pada masa Raja John II, kekuasaan raja di batasi secara de Jure dalam piagam Magna Charta.

Inipun sebenarnya mengacu kepada apa yang terjadi di Timur. Kekuasan raja di topang oleh para bangsawan dan budak budak yang memiliki kekuasaan yang setara dengan seorang raja. Jika dipahami mengenai filsafat abad pertengahan di masa itu, maka tema utamanya adalah mencoba menggali akar kebangsaan masing-masing. Saxon dan Angle menjadi Inggris, orang orang Goth dan Swabia menjadi Jermania, orang orang Batavia, dan Franks menjadi Perancis. Orang orang Visigoth menjadi Aragorn dan Castilia, orang orang Italia menjadi negara kota yang berkelahi dengan kekaisaran Jerman di bawah Charlemagne. Pada masa awal abad pertengahan, filsafat abad pertengahan di Eropa adalah karya karya mencari kebangsaan. Dan inilah yang dipraktikan pula di dalam karya Tristan dan Isolde, Nibelunglied, Canterbury Tales, Alexiad, dsb. Yang benar-benar mencoba memahami suatu bentuk bangsa.

Sama saja di Timur Jauh, tidak jauh berbeda dengan yang tumbuh di Eropa. Kehadiran filsafat kebangsaan muncul menghinggapi bangsa pengembara stepa, yang membawakan konsep ilmu belakangan, lebih baik aksi. Benar orang Cina membuat tembok besar untuk menghalangi orang orang ini. Namun, dengan adanya penyatuan para kepala suku pengembara oleh seorang yang bernama Jengis Khan, tembok besar itu tidak bisa lagi bisa menghalangi persatuan orang Stepa. Hampir 40 % peradaban di masa itu dilumat oleh pengendara emas, bangsa Mongol, Karakhitai, Merkit, dsb. Diantara yang 40 % itu, adalah Moskwa, Baghdad, Bulgaria, Khawarizm, dan hampir saja Polandia.

Filsafat Abad Pertengahan

Latar belakang dimulainya filsafat abad pertengahan adalah sikap ekstrem para pemuka agama Nasrani di dunia Barat (Eropa) pada 476-1492 M. Pada masa ini, para pemuka agama Nasrani (pihak gereja) membatasi aktivitas berpikir para filosof. Berdalih keimanan, segala potensi akal yang bertentangan dengan keyakinan para gerejawan, dibabat habis. Para filosof dianggap murtad, dihukum berat minimal di excomunication (dikucilkan) hingga paling berat hukuman mati. Walau tidak semua dianggap bid'ah. Pemikiran cemerlang di masa itu tetap bertahan di tengah ekspersi puritan. Beberapa karya besar menyelip, di antaranya karya Dante, Divine Comedy.

Akibatnya, beberapa lini ilmu pengetahuan terhambat dan nyaris tidak berkembang. Semuanya diatur oleh doktrin-doktrin gereja lewat penilaian konsili yang cenderung kolot, dan serba kaku. Sehingga, filsafat abad pertengahan sama saja dengan abad kegelapan. Masa saat peradaban manusia dikungkung oleh banyak ketidaktahuan.

Akan halnya, fakta sejarah ini relatif tidak berlaku di dunia Islam abad pertengahan (Timur Tengah, Samarkand, atau Spanyol). Berpusat di Spanyol, peradaban manusia tumbuh subur seiring dengan perkembangan filsafat yang pesat. Karya filsafat Yunani begitu melaju., Di sini, filsafat tidak dianggap sebagai ancaman. Bahkan, filsafat jadi sumbu utama dari maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan (science) dan teknologi. Bermitra harmonis dengan nilai-nilai agama, terutama dari pemahaman Mu'tazilah, yakni teologi rasional Islam.

Bagdad sebagai pusat peradaban kekhalifahan, yang dikenal sebagai negeri 1.001 malam, sebagai buah kesusasteraan yang tinggi, sempat dipuji karena keberadaan dari majils ilmu.. Bagdad pun dikenal memiliki perpustakaan terbesar di dunia pada saat itu. Lebih dari satu juta buku tersimpan.

Filsafat Skolastik

Karenanya, berdasarkan interaksi filsafat dengan agama (teologi), filsafat abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode. Yaitu: periode skolastik Islam dan skolastik Kristen.

Skolastik Muslim:Ciri utama dari skolastik Muslim adalah dikajinya kembali pemikiran para filosof klasik, seperti Socrates, Plato, dan terutama Aristoteles. Telaah-telaah pemikiran mereka, kemudian dikembangkan dan disesuaikan untuk menjawab tantangan pada masa itu.

Para ahli fikir skolastik Muslim di antaranya Al-Kindi, Al-Farabi, Ar-Razi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, dan lain-lain, hampir semuanya orang Persia. Di tangan para filosof skolastik muslim ini, sumbangan pemikiran dari para filosof sebelumnya (filosof klasik), dapat dipahami dan dikaji lebih mendalam.

Termasuk jadi bahan utama perkembangan filsafat di Eropa, yaitu berkontribusi dalam periode skolastik Kristen. Dan, memberikan spirit kebebasan berpikir para filosof, yang ikut belajar di majlis ilmu Islam.

Skolastik Kristen

Dalam perkembangannya, periode skolastik Kristen terbagi menjadi tiga masa. Yaitu, Skolastik Awal (abad 9 – 12 M), Skolastik Keemasan (abad 13–14 M), dan Skolastik Akhir (abad 14–15 M).

Setiap masa memiliki cirinya masing-masing. Skolastik awal ditandai dengan kebangkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi filsafat. Atau, setidaknya mengarahkan filsafat agar sesuai dengan doktrin-doktrin agama. Walaupun filsafat belum sepenuhnya lepas dari pemikiran teologi kristiani.

Masa skolastik keemasan, kajian pemikiran Aristoteles jadi ciri utama. Seiring dengan menjamurnya kajian pemikiran para filosof klasik (Yunani) di dunia Islam, filosof di Eropa juga ikut terpengaruh. Mereka turut serta memperdalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Tampak dari semakin banyaknya universitas pendidikan ilmu pengetahuan yang dibuka.

Pada skolastik akhir, terjadi stagnansi pemikiran filsafat. Menurunnya minat berfilsafat dan nyaris tidak ada pemikiran original yang terlahir. Sebagian besar pemikiran filsafat pada masa ini hanya mengikuti pemikiran-pemikiran para filosof sebelumnya.

Keadaan ini akhirnya menjadi salah satu sebab dimulainya pemikiran filsafat pada fase berikutnya, yaitu filsafat modern. Ditandai dengan munculnya renaissance sekitar abad XV dan XVI M. Yang bermaksud melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi secara paripurna.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Filsafat Alam Yunani Kuno
  • Mengenal Cabang-cabang Filsafat
  • Sejarah Pemikiran Dalam Beberapa Rentang Waktu
  • Konsep dan Fungsi Filsafat Ilmu
  • Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia
  • Filsafat Hukum Kaum Eksistensialis
  • Apa Itu Filsafat? Yuk, Cari Tahu!
  • Mengupas Arti Hidup Dalam Lintas Pemikiran
  • Mengenal Teori Filsafat
  • Pengertian Filsafat, Dulu dan Kini
  • Aliran Aliran Filsafat Pendidikan
  • Kumpulan Pemikiran Besar Tokoh Filsafat
  • Makna Filsafat Estetika
  • Filsafat Adalah Cinta Terhadap Kebenaran
  • Mata Hati - Mata Hakiki
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA