Filsafat Agama Islam: Filsafat Mencari Tuhan
Adakah filsafat agama Islam? Susah merinci hal tersebut karena bagaimana pun, semua muslim berpedoman pada Alquran dan Alhadits, sedangkan filsafat hanyalah rangkaian perkataan manusia yang cenderung merumitkan masalah sepele.
Terkait dengan filsafat Islam, kita bisa membaca Hayy bin Yaqdzon karya Ibnu Tufayl sebagai referensi; atau filsafat wahdatul wujud yang dianut oleh beberapa kalangan sufi.
Pengetahuan Apa pun Bersumber pada Tuhan
Islam menekankan bahwa pengetahuan semata-mata berasal dari Allah, baik pengetahuan ilahi (yang sekarang disebut pengetahuan metafisika) maupun pengetahuan sekular (yang sekarang disebut ilmu pengetahuan).
Berpedoman pada superioritas Allah dan kerendahan mahkluk, dalam Hayy bin Yaqdzon dijelaskan ada dua tipe pencari pengetahuan (Allah). Pencari pertama bernama Hayy bin Yaqdzon adalah orang yang mengandalkan batin.
Ia mendapatkan bimbingan langsung dari Allah sehingga mencapai pengetahuan utama. Pencari kedua adalah orang yang mengandalkan rasio. Ia harus mengandalkan diri sendiri demi mencapai pengetahuan utama.
Akhirnya, kedua pencari tersebut sama-sama mendapat pengetahuan utama meski menempuh cara yang berbeda. Dengan demikian, dalam konteks tertentu, Ibnu Tufayl menyiratkan bahwa pada akhirnya ilmu pengetahuan pun pasti mengarah pada Tuhan.
Filsafat Wahdatul Wujud
Filsafat Wahdatul Wujud lebih ekstrim lagi dalam pencapaian pengetahuan. Dalam filsafat ini, untuk mencapai “Pengetahuan” (Allah), seseorang harus menghancurkan diri sehingga tidak ada ruang yang tersisa bagi keakuan. Dengan demikian, barulah “pengetahuan” dapat menyingkapkan diri.
Dasar pencapaian ini adalah kata-kata Nabi Muhammad “Barang siapa telah melihatku, telah melihat Tuhan”. Akan tetapi, filsafat ini sering dianggap sebagai filsafat oang kafir karena “memungkinkan” adanya penyatuan makhluk dan khalik (pencipta).
Filsafat wahdatul wujud pernah menyebabkan dua orang “pelaku”-nya meninggal. Pertama, Husain bin Manshur (al-Hallaj) yang dengan lantang menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan (Ana Al-Haqq). Al-Hallaj dipotong hidup-hidup di depan umum, dibunuh, lalu jasadnya dibakar pada 922 M.
Kedua, Ayn Al-Qudat yang nasibnya sama seperti Al-Hallaj, dibunuh karena mengungkapkan ketersingkapan ketika ia hancur dan Tuhan menaungi hatinya.
Mencari Tuhan
Dari dua contoh filsafat dalam Islam tersebut, kita dapat melihat bagaimana pun sumber utama filsafat Islam adalah Tuhan. Memang ada beberapa aliran lain, seperti Isyraqiyah dari Suhrawardi.
Akan tetapi, aliran yang beragam tersebut hanyalah “cara” untuk menemukan Tuhan sebagai sumber pengetahuan; karena terdapat hadits Qudsy, “Aku adalah harta karun tersembunyi. Aku ingin dicari dan ditemukan”. Tugas muslim adalah mencapai-Nya, terlepas apa pun filsafat yang dipakainya.
Memperolok Filsafat
Terkait dengan filsafat, bahkan terdapat sosok Nasruddin Hoja yang menyindir para filsuf dalam guyonan berikut.
Seorang filsuf yang penasaran dengan Nasruddin mengajak Nasruddin untuk berjalan-jalan berkeliling kota. Setelah sekian lama mengobrol dan berdebat, akhirnya keduanya memutuskan untuk mencari tempat makan. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah makan terkemuka dan meminta masakan paling spesial untuk hari ini.
“Menunya adalah ikan bakar,” kata pelayan.
“Bawakan dua untuk kami!” jawab Nasruddin.
Beberapa menit kemudian, sang pelayan membawakan dua ikan bakar. Yang satu lebih besar daripada yang lain. Tanpa permisi, Nasruddin langsung mengambil ikan bakar yang lebih besar.
Sang filsuf, melihat cara Nasruddin yang tidak sopan, segera memarahi Nasruddin. Menurutnya, Nasruddin sangat egois, melanggar etika, dan perilakunya tidak sesuai dengan kecerdasan. Setelah diceramahi sekian lama, Nasruddin menyela.
“Sudah cukupkah, Tuan?” tanya Nasruddin.
“Anda benar-benar tidak sopan. Saya malu berteman dengan Anda. “Sebagai seorang yang bermoral, saya tidak akan berperilaku seperti Anda. Saya justru akan memilih ikan bakar yang lebih kecil!” jawab filsuf tersebut.
“Ini bagian Anda kalau begitu,” Nasruddin menyodorkan ikan bakar yang lebih kecil kepada filsuf tersebut.






