logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Filsafat

Filsafat Agama, Ketika Filsafat Terlepas dari Agama


Ilustrasi filsafat agama

Mendengar kata "filsafat" apalagi "filsafat agama", langsung terbayang tentang kata-kata yang sulit dicerna, membingungkan, menyulitkan, mengada-ada dan membicarakan hal-hal yang tidak jelas serta tidak mungkin saja.

Atau dapat juga dikenal sebagai keilmuan yang sulit dijangkau oleh kebanyakan orang, ilmu tinggi. Padahal tidaklah demikian. Filsafat sejajar dengan ilmu-ilmu yang lainnya. Meskipun pada dasarnya segala keilmuan merupakan anak dari filsafat.

Termasuk pula dengan agama. Filsafat terdapat dalam ilmu keagamaan. Dalam agama, filsafat digunakan untuk mengkaji keilmuan ajaran-ajaran Tuhan secara mendalam beserta juga dengan kitab-kitab-Nya. Namun, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, terjadi pemisahan antara filsafat dengan ilmu keagamaan.

Sebenarnya hal ini adalah sebuah kesalahan besar. Pemisahan antara filsafat dengan agama sama halnya dengan membangun bangunan tanpa pondasi, mudah rubuh.

Pemisahan inilah yang menyebabkan semakin banyak umat beragama yang kurang memahami agamanya. Sehingga banyak sekali terjadi pemakluman atas segala tingkah laku manusia atas dasar pemikiran-pemikiran logis manusia yang -katanya- tidak diatur dalam kepercayaan masing-masing.

Padahal agama itu sendiri adalah sebuah pedoman hidup di dunia. Mulai dari tata aturan beribadah hingga bermasyarakat serta berkehidupan rukun dengan alam.

Selain itu, filsafat agama juga berfungsi sebagai alat untuk membantu dalam berkerukunan kehidupan beragama. Mengapa? Karena filsafat memiliki peranan untuk membuka wawasan berpikir agar dapat bersikap lebih sophisticated, adil, dan apresiatif dalam meneliti berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh berbagai kelompok manusia.

"Pemisahan filsafat dengan agama membuat manusia modern mengalami kehampaan spiritual, krisis makna dan legitimasi hidup serta mengalami visi dan mengalami keterasingan (alienasi) terhadap dirinya sendiri" - Haidar Bagir

Sedemikian pentingnya filsafat dalam kehidupan beragama, sehingga Tuhan pun (dalam firman-Nya) menyarankan kepada manusia untuk terus berpikir. Arti berpikir di sini adalah mengkaji dan menganalisa atau berfilsafat atas segala apa yang terjadi di muka bumi ini.

Agar manusia dapat memahami dan memaknai hidup yang sesungguhnya. Karena agama bukan penghambat dalam menikmati hidup, justru agama membantu manusia untuk menikmati hidup tanpa harus merasakan kerugian yang berkepanjangan.

Maka, penting untuk mengkaji ulang kehidupan beragama manusia kekinian. Dengan semakin banyaknya penyimpangan-penyimpangan seperti tindak kriminalitas yang semakin tinggi, percekcokan antar umat beragama, perceraian hingga ketidakseimbangan alam yang mengakibatkan semakin sering terjadinya bencana alam di muka bumi ini (termasuk isu global warming).

Ini semua tidak lepas dari ulah manusia itu sendiri. Ulah manusia yang mengesampingkan agama dalam menjalani hidupnya. Ulah manusia yang memisahkan filsafat dalam menjalani keagamaannya.

Agama sebagai Objek Filsafat

Istilah filsafat dan agama mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait dengan pengalaman.

Filsafat membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya.

Perbedaan tersebut menimbulkan konflik berkepan-jangan antara orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama mempunyai fungsi yang sama kuat untuk kemajuan, keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Untuk menelusuri seluk-beluk filsafat dan agama  secara mendalam perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama dan filsafat  itu.

Agama dan filsafat adalah dua pokok persoalan yang berbeda. Agama banyak berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Dalam agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam).

Yang Kuasa itu disebut Tuhan atau Allah, sedangkan dalam agama ardi Yang Kuasa itu mempunyai sebutan yang bermacam-macam, antara lain Brahma, Wisnu dan Siwa dalam agama Hindu, Budha Gautama dalam agama Budha, dan sebagainya.

Semua itu merupakan bagian dari ajaran agama dan setiap ajaran  agama itulah yang menjadi  objek pembahasan filsafat agama. Filsafat seperti yang dikemukakan bertujuan menemukan kebenaran. Jika kebenaran yang sebenarnya itu mempunyai ciri sistematis, jadilah ia kebenaran filsafat.

Kata objek dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan sasaran atau sesuatu yang menjadi pelengkap dari suatu aktivitas. Apa saja yang menjadi sasaran dalam suatu aktivitas berarti hal itu menjadi objek dari aktivitas tersebut.

Jika seorang peneliti  melakukan penelitian tentang pola hidup masyarakat nelayan di A maka  semua pola hidup dan tingkah laku masyarakat nelayan tersebut  adalah menjadi objek penelitian. Dengan kata lain setiap nelayan yang ada di lokasi penelitian yang dilakukan itu jelas menjadi objek dari penelitian tersebut.

Isi filsafat itu ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Karena filsafat mempunyai pengertian yang berbeda sesuai dengan pandangan orang yang meninjaunya, akan besar kemungkinan objek dan lapangan pembicaraan filsafat itu akan berbeda pula.

Objek yang dipikirkan filosof adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, baik ada dalam kenyataan, maupun yang ada dalam fikiran dan bisa pula yang ada itu dalam kemungkinan.

Aristoteles mengemukakan bahwa objek filsafat adalah fisika, metafisika, etika, politik, biologi, bahasa. Al-Kindi mengemukakan bahwa objek filsafat itu adalah fisika, matematika dan ilmu ketuhanan.

Menurut al-Farabi, objek filsafat adalah semua yang maujud. Selain yang dikemukakan oleh para filosof di atas, menambahkan bahwa kepercayaan itu termasuk objek pembicaraan filsafat.

Agama adalah salah satu materi yang menjadi sasaran pembahasan filsafat. Dengan demikian, agama menjadi objek materia filsafat. Ilmu pengetahuan juga mempunyai objek materia yaitu materi yang empiris, tetapi objek materia filsafat adalah bagian yang abstraknya.

Dalam agama terdapat dua aspek yang berbeda yaitu aspek fisik dan aspek metafisik. Aspek metafisik adalah hal-hal yang berkaitan dengan yang gaib, seperti Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan hubungan manusia dengan-Nya, sedangkan aspek fisik adalah manusia sebagai pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat.

Kedua aspek tersebut (fisik dan metafisik) menjadi objek materia filsafat. Namun demikian objek filsafat agama banyak ditujukan kepada aspek metafisik daripada aspek pisik.

Aspek pisik itu sebenarnya sudah menjadi pem-bahasan ilmu seperti ilmu sosiologi, psikologi, ilmu biologi dan sebagainya. Ilmu dalam hal ini sudah memi-sahkan diri dari filsafat. 

Dengan demikian, agama ternyata termasuk objek materia filsafat yang tidak dapat diteliti oleh sain. Objek materia filsafat jelas lebih luas dari objek materi sain. Perbedaan itu sebenarnya disebabkan oleh sifat penyelidikan.

Penyelidikan filsafat yang dimaksud di sini adalah penyelidikan yang mendalam, atau keingintahuan filsafat adalah bagian yang terdalam. Yang menjadi penyelidikan filsafat agama adalah aspek yang terdalam dari agama itu sendiri. 

Cakupan Kajian Filsafat Agama

Terdapat berbagai batasan tentang filsafat agama dalam berbagai literatur. Harun Nasution (1973: 4) membedakan dua bentuk kajian filsafati tentang agama. Pertama, membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis dengan maksud untuk menyatakan kebenaran suatu ajaran agama atau minimal untuk menjelaskan bahwa ajaran agama bukanlah sesuatu yang mustahil dan bertentangan dengan logika.

Kedua, memikirkan dasar-dsar agama secara analitis dan kritis tanpa terikat pada ajaran agama tertentu dan tanpa terikat pula untuk membenarkan ajaran agama tertentu.

Aslam Hadi (1986: 8) juga mengidentifikasi ada dua bentuk kajian filsafati tentang agama. Pertama, filsafat agama membicarakan kepercayaan atau kebenaran agama.

Hal ini terjadi terutama pada abad pertengahn dan pada filsafat Islam serta filsafat India, tetapi tidak berbicara pada filsafat saat ini. Kedua, filsafat agama merupakan kajian terhadap hal-hal fundamental dari agama, inilah yang dijaki dalam filsafat agama dewasa ini.

Kattsof (1996: 444) membedakan antara filsafat keagamaan dengan filsafat agama. Filsafat keagamaan adalah suatu filsafat yang disusun berdasarkan ajaran dan kepercayaan agama tertentu sebagai pendirian-pendirian hakiki.

Sedangkan filsafat agama adalah suatu penyelidikan yang bersifat kritis tentang agama berdasarkan makna istilah-istilah, bahan bukti, dan prinsip-prinsip verifikasi.

Maksud filsafat agama di sini adalah filsafat dalam pengertian yang kedua menurut pendapat Harun Nasution, Aslam Hadi, maupun Kattsof. Filsafat agama pada pokoknya adalah pemikiran filsafati tentang agama, sama halnya filsafat seni adalah pemikiran filsafat tentang seni (Nolan, 1984: 413).

Perbedaan Filsafat Agama dan Teologi

Tema-tema pokok atau fundamental agama adalah juga merupakan objek kajian dalam teologi. Sementara, teologi adalah kajian yang sungguh-sungguh berbeda dengan filsafat agama. Untuk lebih memperjelas apa yang dimaksud dengan filsafat agama, kiranya perlu dijelaskan perbedaan filsafat agama dengan teologi.

Terdapat dua perbedaan pokok antara filsafat agama dengan teologi (Harun Nasution, 1973: 4). Pertama, filsafat agama tidak membahas dasar-dasar ajaran dari agama tertentu, tetapi dasar-dasar agama pada umumnya. Sementara, teologi membahas dasar-dasar ajaran agama tertentu.

Kedua, filsafat agama tidak terikat pada dasar-dasar agama tertentu, filsafat agama bermaksud menyatakan kebenaran atau ketidakbenaran dasar-dasar agama. Sementara teologi sudah memberikan penjelasan atau interpretasi tentang dasar-dasar agama, atau upaya mencari legalitas rasional atas ajaran agama tertentu.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Posmodernisme dan Filsafat Budaya
  • Membangun Pemikiran Positif
  • Keunikan Kalender Jawa
  • Filsafat Alam Yunani Kuno
  • Ilmu, Filsafat, dan Agama, Tiga Jalan Menuju Kebenaran
  • Positivisme dalam Sejarah Perkembangan Filsafat
  • Filsafat Aristoteles - ANNEAHIRA.COM
  • Pengaruh Inflasi Terhadap Harga
  • Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia
  • Filsafat Hidup: Uang dan Kebahagiaan
  • Cara Mudah Belajar Filsafat Administrasi
  • Sejarah dan Definisi Sistem Demokrasi
  • Filsafat Ilmu Pendidikan: Manusia Macam Apa yang Hendak Dibentuk?
  • Mengenal Cabang-cabang Filsafat
  • Filsafat Geografi dan Definisi Geografi
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA