logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Filsafat

Mengenal Filsafat Etika


Ilustrasi filsafat etika

Telinga kita tentu sering mendengar istilah filsafat etika atau lebih singkatnya etika. Ya, begitu banyak orang-orang menggunakan istilah ini dalam berbagai kesempatan. Misal dalam hal berumah tangga, bisnis, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Namun, apakah kita sudah mengetahui apa itu filsafat etika sebenarnya?

Nah, agar di kemudian hari kita tidak salah menggunakan istilah ini, penulis akan mengajak Anda dan pembaca lainnya untuk mengenal lebih dekat filsafat etika. Untuk memulai proses perkenalan ini, penulis akan mengajak Anda untuk mengamati cerita terlebih dahulu. Simak.

Alkisah, seorang gadis cantik tengah dilanda kebingungan. Betapa tidak, ia dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit. Kalau memilih pilihan pertama, ia tidak sampai hati mengabaikan pilihan kedua. Namun, seandainya ia memilih yang kedua, ia pun tidak tega untuk meninggalkan pilihan pertama.

Kedua pilihan tersebut sama baiknya, sama bermanfaatnya, nyaris sama bobotnya, namun bertolak belakang. Pilihan pertama, ia harus menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya. Lelaki ini tidak sembarangan, ia mapan, pintar, taat beragama, lumayan ganteng, dan berasal dari keluarga terhormat pula. Orangtua si gadis tidak memberi alternatif lain, selain ia harus menikah dengan pilihan mereka.

Padahal, pada saat yang bersamaan, si gadis sudah memiliki calon yang sangat dicintainya. Walau tidak semapan lelaki pertama, ia sudah merasa cocok dengan pilihannya tersebut. Bahkan, di antara mereka sudah terucap janji setia untuk segera melangkah ke pelaminan.

Pilihan manakah yang terbaik? Kedua-duanya terlihat baik. Menikah adalah kebaikan, bernilai ibadah malah, patuh kepada orangtua pun juga baik. Namun, pada sisi lain, memegang teguh janji yang sudah terucap tidak kalah pula kebaikannya. Sudah cukup dikatakan buruk ketika seorang kekasih mengkhianati kekasihnya!

Sejatinya, si gadis cantik dalam kisah ini, tengah mengalami permasalahan etika. Ia dituntut untuk memilih dua hal yang sama baiknya, sama etisnya, akan tetapi saling bertentangan sehingga salah satu di antaranya harus dikorbankan.

Dengan demikian, manakah yang terbaik? Apakah baik mengkhianati cinta demi berbakti kepada orangtua? Atau, mengorbankan perasaan orangtua demi membahagiakan sang kekasih?

Pada hakikatnya, sejak dahulu hingga sekarang,manusia senantiasa bertanya tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Betapa tidak, selama hidupnya ia selalu di hadapkan pada pilihan-pilihan etis yang seringkali tidak bisa dijawab oleh agama dan ilmu pengetahuan.

Inilah yang kemudian melahirkan sebuah aliran dalam filsafat yang disebut filsafat etika. Sederhananya, etika adalah sebuah aliran filsafat yang berusaha memecahkan persoalan tentang perbuatan yang baik dan yang buruk.

Dalam sejarah perkembangan ilmu, Filsafat etika merupakan aliran pertama dalam filsafat, dengam Socrates -sang mahaguru para filsuf- sebagai pelopornya. Ada dua pertanyaan penting yang mendasari filsafat etika, yaitu:

  1. Apa yang dimaksud hidup yang baik itu? What is the good life?
  2. Bagaimana kita bertingkah laku? How should we act?

Pada perkembangan selanjutnya, pembahasan dalam filsafat etika berkutat pada tiga "rukun iman" yang senantiasa ada dalam sebuah perbuatan, sebagai jawaban dari dua pertanyaan inti tersebut, yaitu:

  1. Pelaku atau orang yang melakukan tindakan (agent)
  2. Tindakan atau kelakuan (deontologis)
  3. Akibat dari perbuatan tersebut (effect)

Apa maksudnya? Anda tentu masih bingung dengan poin-poin yang disebutkan di atas, bukan? Tenang, apa yang Anda rasakan memang wajar, karena poin-poin tersebut memang belum diuraikan lebih jauh dan belum memiliki penjelasan sama sekali. Untuk itu, agar tidak membingungkan pembaca, penulis akan berusaha mengurai tiap poin tersebut dalam bahasan berikut.

Rukun Iman Pertama dalam Filsafat Etika - Agent

Menurut para penganut rukun yang pertama, sesuatu itu dikatakan baik dan benar kalau dilakukan oleh orang-orang yang baik. Jadi, baik dan buruk sangat ditentukan oleh pelaku atau subjek. Rukun pertama filsafat etika ini kemudian melahirkan aliran-aliran dalam etika, di antaranya legalisme (etika hukum), bahwa baik dan buruk ditentukan sepenuhnya oleh hukum.

Sebagai penduduk yang tinggal di negara hukum, tentu tidak sulit memahami rukum iman pertama filsafat etika ini. Kita bisa dengan mudah melihat sesuatu itu baik atau buruk berdasarkan atas melanggar atau tidaknya perbuatan tersebut kepada hukum. Misal, kita dapat dengan mudah menyebutkan bahwa pencurian adalah salah satuetika yang buruk karena jelas-jelas melanggar hukum.

Namun, jika melihat sesuatu berdasarkan pada rukun iman filsafat etika yang pertama ini, tentunya akan sulit menjelaskan mengenai etika yang dilakukan oleh (mantan) orang jahat yang mencoba berbuat baik. Akan selalu ada anggapan negatif yang menempel pada (mantan) orang jahat ketika berbuat baik sekalipun.

Rukun Iman Kedua dalam Filsafat Etika - Deontologis

Pandangan penganut rukun iman pertama dalamfilsafat etika berbeda dengan penganut rukun iman filsafat etika yang kedua. Menurut mereka, baik dan benar sangat didasarkan pada tindakan atau perbuatan itu sendiri, bahwa perbuatan yang baik itu sudah baik dari sananya, terlepas dari siapa pelakunya dan apa akibatnya.

Berlaku jujur itu adalah baik dan ia tidak bisa diganggu gugat. Menolong orang itu merupakan sebuah kebaikan, baik itu dilakukan oleh seorang pencuri maupun seorang kiai.

Rukun kedua filsafat etika ini kemudian melahirkan beberapa aliran etika, semacam virtue ethics yang menyatakan bahwa benar dan salah itu didasarkan pada perbuatan-perbuatan yang bisa membawa orang menjadi lebih baik.

Rukun Iman Ketiga dalam Filsafat Etika - Effect

Adapun menurut rukun iman dalam filsafat etika yang ketiga, baik dan benarnya suatu perbuatan didasarkan pada akibat yang ditimbulkannya. Suatu perbuatan dianggap baik apabila membawa akibat (konsekuensi) yang baik dan menguntungkan.

Sebaliknya, suatu perbuatan dianggap buruk apabila membawa akibat yang buruk dan tidak menguntungkan -baik bagi diri sendiri maupun orang banyak. Rukun etika yang ketiga ini melahirkan aliran-aliran semacam egoisme, emotivisme, hedonisme.

Ketiganya menekankan pada kebaikan, kepuasan diri, dan utilitarianism yang menyatakan bahwa suatu perbuatan disebut baik kalau membawamanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.

Kembali ke cerita tadi. Lantas, bagaimana seharusnya tindakan sigadis tersebut agar sesuai dengan filsafat etika? Masih bingung, bukan? Ya, memang, jika berkaca kepada keseluruhan rukun iman dalam filsafat etika di atas, perbuatan gadis yang memilih menuruti orangtuanya maupun mengikuti keinginannya untuk membahagiakan kekasih, keduanya tidaklah salah, namun tidak pula benar.

Akan menjadi etika yang baik dan benar jika si gadis merupakan penganut salah satu rukun filsafat etika. Ya, semua kembali kepadakepercayaan si gadis, jika ia menganut rukun filsafat etika kedua misalnya, maka perbuatan menikah itu baik, maka dengan siapapun si gadis itu menikah, ia telah melakukan sesuatu yang benar.

Pun jika ia menganut rukun iman filsafat etika yang pertama. Apapun yang dilakukannya tentu saja sudah benar, karena kebenaran itu terlahir darisikap atau pelakunya yang merupakan orang baik. Namun akan jadi berbeda jika ia menganut rukun iman filsafat etika yang ketiga. Apapun yang dilakukannya akan menjadi salah. Memilih menikah dengan pilihan orangtua tentu akan menyakiti perasaan kekasihnya, demikian juga sebaliknya.

Jadi, mengenai pilihan si gadis dalam cerita tersebut tentunya harus dikembalikan lagi pada si gadis itu sendiri dengan filsafat etika yang dianutnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pembaharuan Pemikiran Islam, Kembali pada Islam
  • Definisi Filsafat: Filsafat Bagi Dunia
  • Belajar Kehidupan Melalui Ilmu Hikmah
  • Makna Filsafat Estetika
  • Serba-Serbi Filsafat Pendidikan
  • Filsafat Agama Islam - Filsafat Mencari Tuhan
  • Tokoh dan Aliran Tentang Filsafat Manusia
  • Filsafat Idealisme Mbah Marijan
  • Perkembangan Pemikiran Islam
  • Cara Mudah Belajar Filsafat Administrasi
  • Aliran Aliran Filsafat Pendidikan
  • Pemikiran Islam Liberal: Islam Gaya Bebas
  • Keunikan Kalender Jawa
  • Ilmu Filsafat Menurut Para Ahli
  • Mengenal Cabang-cabang Filsafat
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA