Filsafat Idealisme Mbah Marijan
Filsafat idealisme adalah aliran filsafat yang mempercayai bahwa aspek rohani, baik berupa ide ataupun konsep tata nilai yang berkaitan dengan moralitas, sebagai hal penting yang memberi pengaruh dominan bagi keberadaan atau eksistensi sesuatu. Kepercayaan seperti itulah yang dipegang teguh oleh Mbah Marijan hingga akhir hayatnya.
Bukan bermaksud mbalelo kepada Sultan HB X ketika pada 2006 lalu Mbah Marijan menolak dawuh Sultan untuk segera turun dari lereng Gunung Merapi. Bukan pula bermaksud tidak menghargai pemerintah atau ilmu kegunungapian ketika Mbah Marijan tetap bergeming dan menolak anjuran mengungsi.
Sikap kukuhnya untuk tetap bertahan di lereng Gunung Merapi, beberapa hari lalu, juga bukan karena dia memiliki ilmu kesaktian khusus.
Memang, agak sulit untuk memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan dari sikap Mbah Marijan ini. Namun, apa sebenarnya yang melatari sikap keras Mbah Marijan?
Konsep Ksatria Mbah Marijan
Konsep ksatria selalu berkaitan dengan kemuliaan dan tanggung jawab. Hal inilah yang jadi landasan filsafat idealisme bagi setiap ksatria, termasuk Mbah Marijan.
Konsep ksatria dalam filsafat idealisme Mbah Marijan tercermin dari penghayatannya terhadap nilai-nilai kemuliaan dari seorang ksatria. Yaitu, menjalankan misinya dengan baik, berani, dan bertanggung jawab.
Sebagai seorang ksatria yang ditugaskan untuk menjaga Gunung Merapi, merupakan pantangan baginya untuk meninggalkan tanggung jawab, hanya karena takut mati.
Setiap orang yang memiliki jiwa ksatria akan memiliki pemahaman seperti ini. Menunaikan tugas kewajibannya sampai mati adalah suatu kemuliaan. Begitu pula sebaliknya, melarikan diri dari tugas dengan alasan apapun adalah tindakan pengecut yang hina. Setiap ksatria sejati selalu memiliki prinsip ini.
Maka, untuk dapat memahami sikap keras Mbah Marijan yang tidak mau ikut mengungsi dan tidak mau dievakuasi, harus dipandang dari perspektif ini. Mbah Marijan ingin tetap menjadi ksatria sejati sampai akhir hayatnya.
Sayang sekali, banyak orang yang tidak mampu memahami sasmita Mbah Marijan. Sikap kerasnya kemudian dikaitkan dengan hal klenik, terlebih melihat usianya yang telah uzur, namun kekuatan fisiknya masih cukup prima.
Akibatnya, banyak terjadi kesalahpahaman dalam menilai sikap keras Mbah Marijan. Segala penilaian terhadap sikap Mbah Marijan, yang berada diluar perspektif filsafat idealisme tentang konsep ksatria, akan berakibat fatal.
Itu terbukti nyata. Anak, istri, dan kerabat Mbah Marijan, bersedia untuk di evakuasi. Bahkan, rela meninggalkan Mbah Marijan seorang diri di rumahnya. Mengapa bisa begitu?
Karena mereka sangat memahami betul filosofi hidup Mbah Marijan yang seperti ini. Memaksa Mbah Marijan turun menyelamatkan diri, sama artinya dengan menyerang kehormatan dan harga dirinya sebagai ksatria.
Namun, bagi orang awam yang tidak cukup mengenal Mbah Marijan, boleh jadi akan menganggap Mbah Marijan angkuh. Mungkin juga malah menaruh belas kasihan. Kemudian, berusaha membujuk rayunya agar bersedia turun. Namun, kenyataan berkata lain, upaya itu justru berakibat fatal.
Ksatria Zuhud
Mbah Marijan seorang muslim yang taat. Sekalipun dia memiliki tugas untuk mengadakan upacara ritual di Gunung Merapi, pada kenyataannya dia tetaplah seorang muslim yang taat beribadah.
Mbah Marijan adalah seorang lelaki tua sederhana yang tidak terbuai dengan harta dan ketenarannya. Sekalipun sempat menjadi model iklan, itu tetap tidak mengurangi kesahajaannya.
Dia tidak hidup dalam kemewahan dan gelimang harta sebab sebagian honor yang didapatnya dari iklan telah disumbangkan untuk pembangunan tempat ibadah.
Pada saat ini, sudah jarang orang yang memiliki filsafat idealisme seperti yang dipunyai Mbah Marijan. Menjunjung tinggi kehormatan pekerjaannya sebagai sesuatu yang mulia dan menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, dengan risiko apapun.
Bagi tiap ksatria, menjalani misi hidup hingga paripurna tanpa ada cacat atau kesalahan adalah suatu keharusan. Setiap ksatria tidak boleh bersikap pengecut dan hina. Seorang ksatria harus berani mempertaruhkan hidupnya agar dapat menjalankan setiap tugas yang diembankan padanya dengan baik.
Adakah ksatria lain yang masih tersisa di Republik ini?






