Filsafat Ilmu Pengetahuan: Evolusi dan Sufi
Apakah filsafat ilmu pengetahuan atau filsafat dan ilmu pengetahuan adalah dua ilmu yang sama sekali bertentangan? Kadang, ada orang yang memaksakan filsafat agama masuk dalam ilmu pengetahuan. Misalnya, teori evolusi. Di internet, sebuah sajak Jalaluddin Ar-Rumi sering diklaim sebagai bukti bahwa umat Islam mempercayai teori evolusi. Sajak tersebut berbunyi berikut.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Dalam sajak di atas, seolah-olah Ar-Rumi, mistikus terbesar Islam yang menciptakan Masnawi, Qurannya orang Persia, mempercayai bahwa ada tahap-tahap perkembangan tertentu dalam kehidupan. Artinya, manusia dulunya berasal dari induk yang sama dengan induk yang melahirkan kera (meskipun evolusionis hingga kini belum bisa membuktikan adanya makhluk tersebut). Padahal, sajak Ar-Rumi secara lengkap berbunyi berikut.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan
Karena hanya dalam kekosongan itu
terdengar nyanyian mulia;
“Kepada Nya, kita semua akan kembali”
Ternyata, jika kita membaca sajak lengkap Jalaluddin Ar-Rumi, tampaklah jelas bahwa sajak tersebut berkisah tentang simbolisme perjalanan hidup manusia dari “ketiadaan” (yang disimbolkan oleh mineral) menuju “kesempurnaan” (menjadi “sesuatu yang melebihi malaikat” atau dalam tataran umat beragama dapat disebut sebagai “menghuni surga”).
Sama sekali tidak ada kisah evolusi (makhluk induk melahirkan kera dan manusia dalam berjuta tahun). Sementara sajak Ar-Rumi digunakan untuk menjelaskan “filsafat ketuhanan”, orang menerjemahkannya secara literal dalam bentuk baku ilmu pengetahuan.
Jika kita menyadari, sebenarnya banyak hal-hal yang berbau “filsafat agama” yang dipaksakan diteliti dari sudut pandang ilmu pengetahuan, setidaknya logika; padahal logika tidak mungkin bisa menjangkau pengetahuan sepenuhnya.
Misalnya, kalimat Nabi, “siapa yang telah melihatku, maka ia telah melihat Tuhan” dan “siapa yang mengenal dirinya sendiri, berarti mengenal Tuhan” tidak mungkin dianggap sebagai ucapan yang artinya Tuhan ada banyak atau manusia sebenarnya adalah Tuhan. Yang bisa memecahkan hal ini adalah intuisi, lawan utama ilmu pengetahuan sekular dan logika.






