Flu Burung
Ilustrasi flu burung
Beberapa tahun lalu, Indonesia sempat dihebohkan dengan mewabahnya penyakit flu burung. Tak hanya di Indonesia, masyarakat dunia pun sempat ketar-ketir dibuatnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus H5N1 ini memiliki dampak yang mengerikan. Sebagaimana umumnya penyakit flu, penyebaran flu burung tak boleh dianggap sebelah mata.
Bayangkan saja, penyakit AIDS rata-rata membunuh 50 juta jiwa dalam jangka waktu 25 tahun. Adapun penyakit karena flu yang mewabah atau pandemik, seperti flu burung, dapat membunuh 50 juta jiwa hanya dalam waktu 25 minggu. Luar biasa mengerikan, bukan?
Akan tetapi, kita tak boleh bersikap dan bertindak berlebihan atau panik. Kenal dan paham bagaimana “sosok” penyakit yang ditularkan lewat unggas ini, tentu jadi solusi terbaik. Dengan pencegahan yang tepat, penyakit flu burung tak akan berubah menjadi pandemik menakutkan.
Kenal Lebih Dekat Flu Burung
Semua orang pasti tahu bahwa kontak langsung dengan suatu sumber penyakit akan membuat orang tersebut terjangkiti. Itu pun berlaku pada penyakit flu burung. Unggas yang terdiri atas burung, ayam, dan bebek, merupakan media yang sangat efektif dalam menularkan penyakit flu burung.
Oleh karena itu, menghindari kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi adalah cara awal agar terhindar dari penyakit flu burung dan tidak berdekatan dengan kandang yang telah terinfeksi virus H5N1. Termasuk, menghindari atau tidak mengonsumsi segala jenis produk hasil unggas. Misalnya, daging, telur, dan yang lainnya.
Tindakan yang cepat dan tepat pun harus dilakukan. Yaitu, ketika mengetahui ada unggas mati karena terkena flu burung, bangkai unggas itu harus segera dimusnahkan. Jangan ditunda-tunda. Memusnahkannya pun tidak asal saja. Para ahli kesehatan menyarankan bangkai unggas tersebut dibakar.
Ketika dibakar, usahakan agar asap atau material lain tidak tersebar ke tempat lain. Harus terjadi pembakaran sempurna atau bersih. Jika tidak, asap atau material sisa pembakaran masih berpotensi menyebarkan virus H5N1 atau flu burung lewat udara.
Cara lain yang dianggap lebih efekif adalah mengubur bangkai unggas ke dalam tanah. Perlu diperhatikan, bangkai harus dikubur dalam-dalam. Jangan sampai aroma bangkai masih tercium atau mudah digali oleh binatang liar.
Pada beberapa kasus, flu burung dapat menular lewat perantara manusia. Namun, ini sangat kecil kemungkinannya. Sangat jarang terjadi karena virus H5N1 punya karakter berbeda dengan virus H1N1 penyebab flu babi yang sangat efektif menular lewat manusia. Meskipun begitu, tetap waspada ketika berada dekat pasien flu burung. Apalagi, ketika tubuh sedang tidak fit.
Ciri Unggas yang Terkena Flu Burung
Mengenal ciri-ciri unggas yang terinfeksi dan mati karena flu burung kiranya sangatlah perlu. Penyakit flu burung awalnya menular ke sesama unggas. Kemudian, flu burung menular kepada manusia melalui kotoran atau produk hasil olahan unggas. Oleh karena itu, jika ada seekor saja unggas yang terkena flu burung, bisa dipastikan lingkungan sekitarnya, seperti kandang dan peralatan unggas, pakan dan minuman unggas, termasuk pekerja di peternakan tersebut, berisiko tinggi menularkan dan terkena flu burung.
Adapun ciri-ciri unggas yang terkena flu burung adalah seperti berikut ini. Jika ada salah satu saja ciri tersebut tampak pada unggas, segara lapor ke dinas kesehatan setempat. Jangan ambil risiko dengan melakukan tindakan tanpa saran atau sepengetahuan petugas kesehatan.
- Jengger dan pial unggas tampak bengkak dan kebiruan.
- Perdarahan yang rata pada kaki unggas berupa bintik-bintik merah (ptekhi) dan biasa disebut dengan kaki kerokan.
- Ada cairan di mata dan hidung serta timbul gangguan pernapasan pada unggas.
- Keluarnya cairan jernih hingga kental dari rongga mulut.
- Timbulnya diare berlebih.
- Cangkang telur lembek.
- Tingkat kematian unggas yang tinggi, mendekati 100% dalam 2 hari hingga 1 minggu.
Gejala dan Pengobatan Flu Burung
Lalu, bagaimana cara mengetahui manusia terkena penyakit flu burung ini? Karena flu burung memiliki gejala yang hampir mirip dengan gejala flu biasa, kecermatan dalam membedakannya sangatlah perlu.
Apabila seseorang merasakan batuk, pilek, dan demam yang tidak kunjung turun hingga lebih dari tiga hari, disarankan untuk segera mengunjungi dokter atau rumah sakit terdekat. Apalagi, jika penderita dalam beberapa waktu sebelumnya diketahui pernah melakukan kontak dengan unggas, risiko terkena flu burung (suspect flu burung) sangatlah tinggi.
Untuk pengobatan flu burung, jangan pernah menggunakan obat-obatan pasar. Penderita flu burung atau suspect harus segera mendapat perawatan intensif dari rumah sakit atau dokter ahli. Tak ada cara lain yang lebih efektif mengobati flu burung selain cara tersebut.
Kasus Penyebaran Flu Burung
Di Indonesia, kasus flu burung yang dianggap kasus fatal pernah terjadi di Tangerang pada pertengahan 2005 sebanyak tiga kasus. Kasus flu burung ini berbeda dengan kasus flu burung lainnya di negara-negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Kasus flu burung di Tangerang ini disebut kasus yang unik karena korban tidak banyak berhubungan dengan unggas.
Program Pemerintah Mengatasi Flu Burung
Program pemerintah dalam mengendalikan flu burung di Indonesia didukung oleh bantuan dari USAID yang berperan penting secara menyeluruh. Bantuan biaya sebesar 42, 88 juta dolar sudah diberikan untuk mencegah dan mengendalikan wabah flu burung di Indonesia sejak 2005 lalu. Berikut program-program yang dijalankan oleh pemerintah.
1. Persiapan dan Pengendalian Flu Burung
Pemerintah membuat program pengendalian yang bersifat kemasyarakatan bernama Community-Based Avian Influenza Control (CBAIC). Program inilah yang mengawali dan mengkoordinasikan beragam kegiatan di sektor dan tingkatan pemerintahan. Salah satu contoh kegaitannya yaitu melatih para koordinator flu burung di desa-desa sehingga mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi gejala awal flu burung.
2. Mengawasi dan Menangani Flu Burung
Pemerintah membangun serta melaksanakan pengawasan unggas yang bersifat aktif. Cara yang dilakukan yaitu mengadakan pelatihan kepada para petugas kesehatan hewan. Selain itu, juga melengkapi mereka dengan keterampilan pengawasan dan pengendalian penyakit. Tidak lupa juga melengkapi mereka dengan peralatan yang sesuai dan memadai untuk melaksanakan aktivitas lapangan.
Pemerintah pun melakukan kerja sama dangan LSM-LSM lokal dalam memberikan informasi pencegahan, pengawasan, dan pelaporan penanggulangan flu burung ke desa-desa. Langkah lainnya adalah melatih para sukarelawan desa agar berperan aktif mencegah flu burung, yaitu dengan menyebarkan informasi berisi himbauan untuk mengubah kebiasaan dan perilaku yang berbahaya kepada masyarakat desa.
3. Mengawasi Perkembangan Influenza pada Manusia
Pemerintah berusaha agar pasein suspek flu burung memperoleh penanganan tepat dengan adanya konfirmasi dari kasus unggas yang bisa dideteksi dalam waktu 24 jam. Dalam hal ini, USAID menyetujui berdirinya NAMRU-2 di daerah-daerah untuk mengawasi perkembangan penyakit yang berbasis laboratorium, khususnya di daerah dengan risiko tinggi terjangkit flu burung.
4. Penyuluhan
Penyuluhan pemerintah ini dilakukan dengan cara menyampaikan berbagai pesan penting mengenai flu burung dan menyebarkannya melalui berbagai media, seperti media massa, poster, dan brosur. Dengan materi informasi dan edukasi tersebut, masyarakat akan mengubah gaya hidup untuk meminimalisir penyebaran flu burung dan resiko terkena flu burung.

