logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Pasti    Ilmu Gizi dan Kesehatan    Formalin

Hati-hati Formalin dalam Makanan!

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Formalin. Belakangan ini, kata tersebut menjadi kata yang cukup familiar di kalangan masyarakat. Penyebabnya adalah penggunaan zat tersebut yang tidak semestinya. Akhir-akhir ini, keberadaan formalin memang cukup menggemparkan. Terlebih jika dikaitkan dengan dunia kuliner.

Formalin - Benarkah sebagai Zat Pengawet?

Mendapati makanan atau minuman yang mudah busuk atau basi merupakan sebuah tantangan bagi produsen. Oleh karena itu, selain memberikan batas kadaluarsa, pengusaha menambahkan zat pengawet dalam makanan atau minuman untuk menambah keawetannya. Salah satu pengawet yang sering digunakan adalah formalin.

Lalu, apakah zat pengawet yang diberikan dalam makanan atau minuman tersebut aman bagi tubuh kita? Benarkah formalin bisa digunakan sebagai zat pengawet? 

Bahan pengawet makanan memang terbagi menjadi dua, selain yang alami, ada pula zat pengawet buatan yang biasa ditemui. Contoh bahan pengawet alami adalah lidah buaya dan zat kitosan dari cangkang hewan laut. Sementara itu, pengawet buatan yang biasa dijumpai dan diperbolehkan oleh Permenkes no. 722/1988, di antaranya adalah asam benzoat, kalium benzoat, natrium propionat, nisin, dan natrium nitrit. Lalu, bagaimana dengan formalin?

Bahan-bahan tersebut dapat ditera di zat-zat penyusun makanan atau minuman yang terdapat di dinding kemasan makanan atau minuman tersebut. Walaupun diperbolehkan, konsumsi yang melebihi ambang batas, akan berdampak negatif bagi tubuh dan kesehatan manusia, baik untuk pengawet alami maupun buatan. Jadi, sekalipun zat pengawet tersebut mendapat izin, penggunaan pada makanan tetap tidak boleh berlebihan. Bagaimana dengan penggunaan formalin itu sendiri?

Disamping pengawet alami maupun buatan yang beredar di sekitar kita, ada pula bahan pengawet berbahaya yang tidak diizinkan, namun seringkali ditemukan dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi. Di antaranya adalah formalin atau formaldehid.

Lantas, benarkah formalin bisa berperan sebagai pengawet makanan? Jawabannya adalah tidak! Zat tersebut sama sekali tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai bahan pengawet makanan maupun minuman, apapun bentuknya. Alasannya adalah karena zat tersebut memang bukan diciptakan untuk "bersinggungan" dengan makanan.

Formalin yang Salah Kaprah

Bagi Anda yang cukup banyak mengetahui tentang formalin, mendengar formalin dikaitakan dengan dunia kuliner pasti akan cukup kaget. Kenyataannya, hal itu memang terjadi di masyarakat. Formalin yang sejatinya digunakan sebagai pembasmi hama, dalam hal ini cairan desinfektan, tiba-tiba digunakan dalam pengolahan berbagai makanan.

Fungsi formalin yang sesungguhnya sebagai pembasmi hama hampir sama sekali tidak terdengar. Hal yang justru "dianggap" identik dengan formalin adalah fungsinya sebagai zat tambahan makanan yang tentu saja salah kaprah. Keidentikan seperti ini merupakan sebuah masalah yang harus segera diluruskan.

Zat ini sebenarnya tidak akan salah kaprah jika digunakan sesuai fungsinya sebagai pembasmi hama. Tetapi menjadi berbeda ketika zat ini justru digunakan sebagai zat pengawet makanan. Dalam hal ini, sama sekali tidak ada benang merah yang menghubungkan antara pembasmi hama dan pengawet makanan, bukan? Tentu saja, karena dua hal tersebut berada dalam "wilayah" yang berbeda.

Bisa Anda bayangkan, zat yang umumnya dan memang diciptakan untuk membasmi hama, tiba-tiba harus berada di dalam makanan yang Anda konsumsi. Risiko-risiko menyeramkan pasti akan mengancam kesehatan Anda.

Risiko kesehatan bisa jadi memang tidak langsung dirasakan sesaaat setelah Anda mengonsumsi makanan bercampur formalin tersebut. Bersyukur jika respon tubuh Anda cepat, Anda bisa langsung mual-mual dan masalah kesehatan bisa terdeteksi segera, tetapi bagaimana jika tubuh Anda memiliki sifat "menimbun"? Reaksi yang mengabarkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh kemungkinan akan terjadi dalam waktu yang lama dan penyakit sudah berpredikat parah. Jika sudah demikian, pengobatan yang harus ditempuh pun menjadi lebih mahal.

Hal ini harus menjadi perhatian lebih bagi Anda yang cenderung lebih banyak makan di luar rumah. Kesibukan pekerjaan serta waktu yang sempit, memungkinkan hal-hal yang sifatnya seperti itu tidak terperhatikan. Campuran formalin dalam makanan bisa dengan mudah masuk tanpa Anda sadari.

Masalah seperti ini sebenarnya bisa Anda hindari. Agak konvensional memang, tetapi akan lebih baik jika Anda membawa bekal dari rumah. Minta istri untuk menyiapkan bekal. Selain bisa menghemat, bahaya formalin juga tidak akan mengancam kesehatan Anda. Si zat yang salah kaprah itu bisa diminimalisir kehadirannya.

Ada beberapa pihak yang dirugikan dalam penggunaan formalin sebagai bahan campuran makanan ini. Pertama adalah tentu saja konsumen, dan yang ke dua adalah pedagang makanan yang tidak mencampurkan formalin dalam dagangannya. Ketika ada oknum pedagang yang bertindak jahat dengan mencampurkan formalin ke dalam dagangannya, secara otomatis, citra pedangan makanan berubah memburuk. Hal itu tentu saja menjadi masalah baru.

Bahaya Formalin

Formalin atau formaldehid memiliki nama lain (nama kimia) yang bermacam-macam, beberapa nama sinonimnya adalah formic aldehyde, methyl aldehyde, dan methyl oxide. Pada bidang medis, formalin biasanya digunakan untuk pengawet jenazah dan pembunuh kuman. Selain itu, formalin merupakan bahan campuran pembuatan pestisida, bahan pembersih lantai, dan pencegah korosi logam.

Kerasnya zat formalin ternyata tidak menyurutkan beberapa produsen makanan untuk menggunakannya sebagai bahan pengawet. Formalin yang bentuknya cair seringkali digunakan untuk pengawetan tahu, daging, ikan,  ataupun mie basah. Padahal mereka sebenarnya sudah cukup tahu, bahwa penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan sama sekali tidak baik bagi kesehatan dan tentu saja melanggar ketentuan.

Bahan-bahan makanan yang menggunakan formalin sebagai pengawet, biasanya, memiliki tekstur yang lebih bersih dan warna lebih putih, misalnya pada ayam. Tekstur yang lebih liat dan tidak mudah pecah pada tahu. Selain itu, bahan makanan tersebut memiliki aroma khas formalin dan mempunyai daya tahan yang lebih lama.

Dari ciri-ciri tersebut, Anda mungkin mulai bisa membedakan mana makanan yang berformalin dan mana yang tidak. Jangan tergiur dengan tampilan yang cantik, karena kemungkinan besar, makanan tersebut mengandung formalin yang berbahaya. Misalnya saat Anda harus memilih tahu. Tekan-tekan terlebih dahulu permukaan tahu, jika permukaannya sangat kenyal dan tidak mudah hancur, tahu tersebut bisa jadi telah terkontaminasi formalin.

Ketika formalin masuk ke sistem pencernaan manusia dan beredar di dalam darah, beberapa efek negatif akan timbul, baik dalam jangka waktu singkat maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, bila formalin dikonsumsi bersama makanan atau minuman, akan berakibat terasa terbakarnya mulut, kerongkongan, tenggorokan, dan perut. Perut akan merasa mual dan muntah-muntah.

Dalam jangka waktu yang lebih lama, akan timbul pendarahan, kejang hingga tidak sadarkan diri. Sementara dampak jangka panjang dari pengonsumsian makanan yang mengandung formalin, di antaranya adalah kerusakan alat-alat pencernaan, seperti lambung, hati, ginjal, limpa, otak, jantung, dan sistem saraf manusia. Apabila konsumsi dilanjutkan, akan berakibat pada kematian.

Risiko terparah dari konsumsi makanan berformalin dalam jangka waktu yang lama dan jumlah yang banyak benar-benar sangat mengerikan. Sebelum hal ini benar-benar mengancam kesehatan Anda dan keluarga, sangat bijak jika Anda menghindari hal tersebut. Caranya adalah dengan lebih teliti memilih makanan yang akan Anda konsumsi.

Bila Anda merasa mengkonsumsi formalin bersama makanan, segera netralisasi zat tersebut dengan karbon aktif bila tersedia dalam kotak obat Anda di rumah. Namun, bila tidak tersedia, segeralah ke rumah sakit terdekat.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Kandungan Apel dan Manfaatnya bagi Kesehatan
  • Kandungan Bawang Putih yang Berkhasiat
  • Macam-Macam Makanan - You Are What You Eat!
  • Kandungan Daun Pepaya dan Khasiatnya
  • Polemik Indomie, Zat Kimia pada Makanan, dan Solusinya
  • Makanan Manis dari Palembang
  • Zat Aditif pada Makanan dan Bahayanya bagi Kesehatan
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA