logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya

Peran dan Fungsi Budaya Lokal Sebagai Jati Diri Bangsa


Ilustrasi fungsi budaya

Di tengah gencarnya arus globalisasi yang menghajar kehidupan bangsa ini, budaya barat yang liberal telah menjadi nafas bagi sebagian besar anak muda bangsa kita. Saat ini semua tayangan dan cara berpikir bebas telah diserap genarasi muda kita tanpa filter yang baik. Sehingga yang muncul adalah tindakan anarkis yang didasarkan pada asas demokrasi dan moderat.

Benarkah hanya cara anarkis yang akan menyelesaikan masalah? Inilah ciri bangsa yang belum sepenuhnya dewasa yang masih berpikir bahwa demonstrasi adalah tindakan yang paling baik dalam menyampaikan aspirasi, baik pada pemerintah maupun pada masyarakat itu sendiri. Di sinilah peran dan fungsi budaya lokal sebagai alat untuk memahami pemikiran bangsa kita yang masih kanak-kanak.

Pemahaman Fungsi Budaya

Ketika kita belum beranjak dewasa karena belum paham betul dengan budaya sendiri, budaya asing dengan gencar menyerang. akibatnya kita menjadi kehilangan arah dan kehilangan jati diri bangsa. Dalam memahami budaya lokal, kita harus memahami corak setiap tradisi masyarakat yang plural.

Kita harus mengarahkan dan menambahkan keyakinan bahwa kearifan budaya lokal yang berkembang di suatu wilayah adalah ajaran yang benar. Sebab, kerap suatu tradisi lama dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman sehingga tradisi tersebut ditinggalkan penganutnya. Yang akhirnya budaya lokal itu lama-lama hilang dan berganti dengan kelompok masyarakat yang kehilangan jati diri.

Kita harus memahami bahwa aspek-aspek budaya lokal dari keyakinan masyarakat perlu ditingkatkan karena dengan aspek-aspek budaya lokal kita akan lebih toleran terhadap nilai-nilai budaya lokal tersebut. Dengan cara tersebut akan menghasilkan kebudayaan lokal yang kuat dan rasa cinta terhadap bangsa sendiri sehingga kita akan lebih mengenal diri sendiri daripada mengenal orang lain.

Bukankah begitu yang ilmu sosiologi ajarkan? Kenalilah diri sendiri sebelum mengenal orang lain, demikian pun dengan kehidupan berbangsa, kenalilah budaya sendiri dulu sebelum mengenal budaya orang lain.

Mengingat peran dan fungsi tersebut, kita sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memelihara jati diri bangsa harus melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat modern Indonesia untuk kembali mencintai kebudayaan lokal. Pembinaan budaya lokal ini harus dikemas dengan menarik sehingga masyarakat modern yang tinggal di perkotaan tidak berpikiran bahwa budaya lokal itu kampungan dan ortodok.

Pembinaan masyarakat modern yang cenderung liberal melalui pendekatan budaya lokal bisa disampaikan melalui pertuntukan kesenian. Para seniman lokal harus mampu menyampaikan misi-misi moral yang terkandung dalam budaya lokal. Konsep budaya lokal serta filsofi sebuah ajaran tradisional yang universal harus disampaikan dengan penuh kesadaran.

Tujuannya tentu saja agar masyarakat modern yang sudah hedonis, kapitalis, anarkis, dan kehilangan jati diri dapat menghormati dan memahami budaya lokal tempat dia berdiri. Pembinaan budaya lokal pada masyarakat modern melalui kesenian dipandang sebagai cara yang efektif dan efisien karena dapat diterima oleh semua kalangan, baik muda maupun tua.

Pesan yang terkandung dalam pertunjukan kesenian biasanya mengingatkan kita agar senantiasa mencintai kerarifan budaya dan memelihara kerukunan berbangsa dan bernegara, mengingat kerukunan menjadi masalah vital dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia.

Dalam wacana kehidupan budaya asing yang carut marut ini, kita harus meningkatkan kualitas kehidupan budaya lokal. Kembali mencintai budaya masing-masing. Menjadikan kerarifan lokal sebagai pondasi untuk mengenali jati diri.

Mengenal Rumah Adat, Mengenal Filosofi Budaya

Rumah adat di Indonesia merupakan salah satu pelengkap kebudayaan yang berfungsi untuk melindungi manusia secara jasmaniah. Rumah adat berfungsi untuk melindungi manusia dalam berbagai kondisi lingkungan dan cuaca.

Namun, ada filosofi lain yang tersimpan dari adanya rumah adat tersebut. salah satunya adalah bagaimana kita menegnal filosofi tradisional yang dimiliki oleh satu kelompok sosial tertentu.

Berbagai aspek secara filosofis dimunculkan melalui bentuk rumah, bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah adat tersebut, serta menjadikan rumah tersebut sebagai tempat bernaung untuk beberapa pihak. Misalnya saja, di tataran tanah Jawa, rumah adat Jawa terkesan sangat luas, terbuka, dan tidak bersekat. Hal tersebut merupakan bentuk citraan mengenai masyarakat Jawa yang memiliki prinsip hidup legowo, terbuka terhadap berbagai hal yang positif, serta tidak memiliki dinding atau batas antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.

Lantas pada masyarakat Sunda, terdapat istilah kawasan lelaki dan kawasan perempuan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai sekat di dalam rumah yang berfungsi menandakan wilayah kelaki-lakian dengan wilayah keperempuanan. Wilayah ini diciptakan untuk memberi batasan terhadap laki-laki dan perempuan mengenai apa saja kewajiban dan hak yang harus dipenuhi oleh keduanya.

Selain itu, ada juga hal lain yang berpengaruh terhadap citraan dan filosofi masyarakat adat di Indonesia. Sebagai contoh, kita bisa melihat hal tersebut dari bahan baku bangunan yang digunakan untuk membangun rumah. Ada yang menggunakan bahan baku batu, kayu, anyaman, bambu, dan bahan lain yang berasal dari alam.

Hal tersebut merupakan simbol mengenai filosofi alam bahwa manusia boleh saja mempergunakan segala sumber daya alam yang ada di sekitarnya asalkan dilakukan dengan wajar dan sesuai dengan keperluan. Bukan dengan cara eksploitasi seperti yang dilakukan masyarakat modern sekarang ini.

Hal berikutnya yang juga menjadi salah satu simbol makna filosofis dalam kehidupan adat istiadat adalah penempatan rumah adat. Ada yang memberikan kode etik tertentu sehingga rumah adat tersebut hanya bisa diisi oleh satu kepala keluarga saja. Tapi, ada juga rumah adat yang justru menjadi media penyatuan antara satu kepala keluarga dengan kepala keluarga yang lain. Hal tersebut membuktikan bahwa ada perbedaan cara pandang antara satu adat istiadat dengan adat istiadat yang lain mengenai penyatuan keluarga.

Peradaban dan Budaya

Jika dilihat secara sekilas, tidak ada perbedaan antara peradaban dengan budaya. Keduanya nampak sama dan memiliki arah yang sama. Padahal, kedua hal tersebut memiliki perbedaan yang signifikan dan berlawanan. Jika kedua hal tersebut terus didikotomikan, akan memunculkan konflik yang berimbas pada krisis budaya.

Budaya merupakan sebuah pengalaman memahami dan mengidentifikasi diri lewat berbagai hal yang sudah ditempuh. Sementara itu, peradaban adalah kebudayaan semu yang muncul untuk mengakulturasi budaya dengan pengalaman lain di luar kebudayaan. Munculnya peradaban memberikan dampak yang baik seklaigus buruk terhadap masyarakat budaya.

Di satu sisi, peradaban memberikan pemahaman lain mengenai kemajuan ilmu dan teknologi terhadap masyarakat Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, peradaban justru malah menghancurkan budaya itu sendiri. Dengan munculnya berbagai peradaban, manusia menjadi lupa akan akar budayanya sendiri. Kebanyakan dari mereka lupa bahwa mereka dibesarkan oleh budaya, bukan oleh peradaban.

Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia seyogyanya mampu menyaring dengan baik berbagai budaya yang datang. Pemilihan berbagai budaya sangat berpengaruh terhadap bagaimana cara seseorang memandang kehidupan. Kebudayaan sebagai sebuah pengalaman hidup seharusnya mampu membuktikan peran dan fungsinya sebagai jati diri bangsa.

Dengan kebudayaan yang kuat, maka akar budaya dan jati diri pun akan menjadi kuat pula. Berbeda dengan bangsa yang tidak memiliki akar budaya yang kuat, mereka akan mudah seklai ditempa peradaban hingga budaya lokal mereka menjadi hancur dan tidak lagi menyisakan citraan identitas suatu bangsa.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sejarah Nusantara dan Kejayaan Kerajaan Nusantara
  • Ketika Gegar Budaya Merusak Bahagia
  • Toleransi, Pencetus Asimilasi Budaya
  • Mengenal & Memahami 7 Unsur Kebudayaan
  • Pengertian Bangsa � Kelompok Manusia Berbudaya
  • Ucapan Selamat Idul Fitri
  • Menyoal Papua Ingin Merdeka
  • Sejarah Budaya Eropa
  • Baju Adat Papua dan Koteka
  • Perkembangan Kebudayaan dan Tata Nilai Budaya
  • Teks Pidato Bahasa Cirebon Versus Teks Bahasa Muara Enim
  • Kubah Masjid - Desain yang Terinspirasi dari Bangsa Mediterania
  • Budaya Daerah Dan Kaum Muda
  • Macam-Macam Batik dan Teknik Pembuatannya
  • Wujud dan Pengaruh Kebudayaan di Lima Benua
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA