Baca Kepribadian Seseorang Berdasarkan Gambar Abstrak
Ilustrasi gambar abstrak
Mendengar istilah gambar abstrak, pasti kita akan mengingat sejumlah lukisan maestro terkenal, seperti almarhum Affandi. Lukisan abstrak yang dimilikinya seakan sanggup membuat seorang penikmat menjadi tenggelam mengartikan apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan. Ada pula yang hanya melihat sekilas dan kemudian berlalu. Karena tidak mau pusing menanggapi keinginan mereka untuk mengerti apa yang dimaksudkan dengan gambar abstrak tersebut.
Gambar Abstrak - Beberapa Aliran Dalam Melukis
Para pelukis memang memiliki beberapa aliran, di antanya adalah sebagai berikut.
1. Aliran Realisme dan Naturalisme
Aliran ini memiliki gaya lukisan yang sangat alami. Menggambar objek yang ada di alam nyata. Hasilnya sesuai dengan apa yang digambarnya. Katakanlah ada Basuki Abdullah dengan lukisan kudanya yang gagah berlari. Ada juga Da Vinci dengan Monalisa-nya yang membuat banyak orang mengagumi kecantikannya.
2. Aliran Surrealisme
Memiliki gaya lukisan yang terlihat alami, namun sebenarnya janggal jika diamati. Aliran ini suka mengungkapkan bentuk-bentuk benda yang seringkali dilihat oleh pelukisnya dalam mimpi. Akhirnya, yang nampak adalah bentuk janggal atau yang tidak seharusnya ditemui di alam nyata. Misalnya saja, lukisan percakapan anjing, makan malam keluarga monyet, dan semacamnya.
3. Aliran Kubisme
Menggunakan bentuk-bentuk geometri dalam mengungkapkan sebuah gambar yang dimaksudkan oleh sang pelukis. Lukisan matematika ini akhirnya menemui bentuk yang unik dan menarik perhatian bagi penikmatnya. Ada Pablo Picasso yang setia dengan aliran Kubismenya.
4. Aliran Romantisme
Aliran ini mirip sekali dengan aliran naturalisme, hanya saja lukisan memang disajikan dengan lebih indah. Jauh lebih indah dari aslinya. Menceritakan tentang kehidupan yang sebenarnya, penuh warna, dan keindahan alam menopang di belakangnya. Ada Basuki Abdullah yang setia dengan aliran romantisme di Indonesia.
5. Aliran Ekspresionisme
Lukisan aliran ini digambarkan penuh dengan gejolak emosi. Gambaran yang seharusnya menarik dibuat sedemikian rupa sehingga kadangkala kita tak paham maksudnya. Aliran inilah yang menghasilkan gambar abstrak pada ranah seni lukis. Emosi yang ditanamkan di dalam gambar kebanyakan bukan emosi bahagia. Tetapi wujud dari tekanan atau protes jiwa terhadap hal-hal yang terjadi di sekeliling sang pelukis.
Gambar Abstrak - Kepribadian dan Gambar
Membaca kepribadian seseorang memang tidak mudah. Jangankan untuk melihat secara utuh pribadi seseorang dalam sebuah psikotes, bagi yang sudah bergaul lama seperti suami-istri saja kadangkala masih kesulitan memahami seutuhnya pribadi pasangan masing-masing. Hal ini karena setiap orang penuh misteri.
Ada hal-hal yang sengaja disembunyikan dari ranah publik. Disembunyikan dari orang lain untuk melindungi diri mereka, atau mungkin justru untuk mencelakakan orang lain. Siapa yang tahu? Karena setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya masing-masing.
Lalu, bagaimana bisa psikotes meminta seseorang untuk menggambar sesuatu dan mengartikan kepribadian mereka dari sana? Tentu saja bisa, meskipun tidak seutuhnya bisa dibaca. Goresan tangan pada gambar abstrak yang dibuat oleh seseorang merupakan luapan emosi dan pemikiran yang terpendam di dalam diri mereka. Tanpa sadar ketika menggambar, seseorang merasa memiliki dunianya sendiri. Hal inilah yang dialami oleh sebagian besar pelukis.
Lalu, haruskan menjadi seorang pelukis untuk dapat membuat gambar abstrak yang bagus? Psikotes bukan tentang bagus atau tidaknya gambar yang dibuat. Bukan pula tentang nilai menggambar abstrak yang semestinya hanya bisa diberikan oleh maestroi seni lukis. Namun, psikotes mencoba menggali sisi kepribadian seseorang yang tidak nampak di permukaan apabila bertemu dan bercakap-cakap.
Beberapa jenis psikotes yang mencoba mengetahui sisi kepribadian seseorang dari gambar abstrak buatan mereka, antara lain:
1. BAUM (menggambar pohon)
Psikotes ini meminta para testee (orang yang dites) untuk menggambar pohon berkayu atau berkambium. Tujuan menggambar pohon ini untuk melihat goresan tangan pada gambar abstrak yang terkadang dibuat oleh mereka. Meskipun sama-sama menggambar pohon mangga, namun antara satu orang dengan yang lainnya akan berbeda penampakannya. Ada yang pohonnya lebat, ada yang buahnya lebat, ada yang batangnya kokoh, dan ada yang tinggi menjulang.
Mana yang benar? Tentu tidak ada yang benar dan salah dalam psikotes jenis ini. Yang ada, nantinya tester (penguji) akan menilai kepribadian seseorang dari goresan yang dituangkan mereka. Goresan berupa gambar abstrak pada batang pohon yang dibuat, atau mungkin penampakan akar yang sangat menonjol. Semua memiliki arti yang telah dipahami benar oleh seorang psikolog tentunya.
2. DAP (menggambar manusia)
Psikotes menggambar manusia, tak kalah menariknya dengan menggambar pohon. Bagi seseorang yang tidak hobbi menggambar, mengambar manusia adalah hal yang paling menakutkan. Bagaimana tidak, kadangkala gambar manusia yang dibuat justru menyerupai robot atau bahkan satu makhluk yang tak pernah kita lihat di alam nyata.
Ukuran tangan dan kaki yang tidak seimbang, penggambaran rambut yang terlalu kaku, dan berbagai gambar abstrak lain yang ditimbulkan dari sana. Namun sekali lagi, bukan itu yang dinilai dalam psikotes. Tak perduli semenarik apapun gambar manusia yang dibuat, tak perduli seaneh apapun gambar yang dibuat, semua tetap memiliki sisi pribadi masing-masing. Dan inilah sasaran utama psikotes, yaitu untuk mengetahui kepribadian seseorang.
3. HTP (menggambar rumah, pohon, dan manusia)
Sejalan dengan gambar manusia dan pohon, menggambar kedua jenis makhluk hidup ditambah dengan satu rumah juga membuat seseorang menggoreskan gambar abstrak mereka dalam secarik kertas yang disediakan. Komposisi dan kedekatan antara ketiga hal tersebut yang akan dinilai oleh psikolog dalam pencarian sedikit tentang kepribadian seorang testee.
Gambar abstrak dan Hasil Psikotes
Gambar abstrak bisa menunjukkan kepribadian seseorang? Hal ini kadangkala sulit dipahami, tetapi memang nyata adanya. Seseorang yang menggambar menuangkan apa yang ada dalam pikiran bawah sadarnya ke dalam lukisan. Gambaran tersebut bisa mengungkapkan emosi saat itu. Bisa emosi sedih, gembira, ataupun keraguan.
Selain itu, gambar abstrak juga menunjukkan sisi kepribadian seseorang yang paling mendalam. Karena goresan tinta tak bisa dimanipulasi, karena usapan pensil tak bisa ditutupi, dan karena seseorang akan menggambar dengan kesadaran yang tak pernah bisa dikontrolnya dengan logika.
Beberapa gambar abstrak dan goresannya yang bisa dijadikan sebagai salah satu faktor untuk melihat kepribadian seseorang antara lain:
1. Goresan garis tegas dan tebal
Goresan garis yang tegas menggambarkan sifat seseorang yang sudah terbentuk dengan ketegasannya. Tak mudah dipengaruhi oleh orang lain, dan bisa jadi terkesan kaku dan arogan. Namun nantinya, goresan garis yang tegas ini masih beriringan dengan ciri-ciri gambar abstrak lain yang dibuat mereka. Sehingga sebuah sikap tegas tersebut baik atau buruk tidaklah menjadi patokan yang absolut.
Pemilik garis tebal dan tegas ini biasanya sesuai untuk pekerjaan dengan level manajer ke atas. Tentu saja, nantinya akan disesuaikan pula dengan pendidikan dan hasil psikotes lain yang menandakan kemampuan mereka.
2. Goresan garis lemah dan tipis
Goresan garis yang lemah menandakan bahwa seseorang masih ragu terhadap apa yang dijalaninya selama ini. Sikapnya yang kadangkala suka menurut, membuat dirinya dikatakan sebagai si plin plan. Mau enaknya sendiri, bisa jadi juga ada dalam diri seseorang dengan gambar abstrak garis melemah.
Namun, justru garis melemah ini banyak diminati oleh perusahaan yang mencari pegawai-pegawai baru dengan level di bawah asisten manajer. Karena mereka masih bisa diatur, diberi tugas oleh perusahaan, dan akan melakukannya tanpa banyak bertanya.
3. Goresan garis berulang
Bertambah lagi, apabila gambar abstrak garis yang dibuat diulang-ulang, namun ternyata tak pernah berhasil untuk membuatnya tegas. Maka bisa dikatakan orang tersebut memiliki kepribadian yang masih terbawa emosi. Belum kukuh dan perlu pembelajaran dengan lingkungan sekitar. Apabila lingkungannya baik maka menjadi baiklah orang tersebut. Dan apabila lingkungan sekitarnya buruk, maka menjadi buruklah orang tersebut.

