Gangguan Jiwa Tidak Selalu Gila
Ilustrasi gangguan jiwa
Apa itu gangguan jiwa? Gangguan jiwa adalah keadaan di saat jiwa seseorang tidak dalam kondisi normal dan rentan terhadap kelainan perilaku seperti menangis tiada henti, tertawa sepanjang hari, menari di segala kondisi, menyanyi tanpa peduli situasi, dan masih banyak contoh lainnya.
Tapi, apa benar hanya sebatas itu maka seseorang diberi predikat gila karena mengalami gangguan kejiwaan yang berperilaku di luar kebiasaan normal? Lagipula, apa benar gangguan jiwa selalu identik dengan gila? Mari kita bahas satu per satu.
Sekilas tentang Gangguan Jiwa
Bagi masyarakat awam, gangguan jiwa sudah sangat identik dengan orang gila. Ya, setiap orang yang mengalami gangguan kejiwaan pasti dengan cepat disimpulkan sebagai orang gila. Sangat kental di ingatan banyak orang tentang olok-olok para bocah nakal ketika melihat ada orang gila berjalan keliling kampung. Dengan sepenuh hati mereka akan bertepuk tangan meriah mengiringi si orang gila sambil berteriak meledek.
Kemudian, mereka akan tertawa nyaring ketika melihat si orang gila berteriak-teriak sambil menggerutu gak jelas. Miris sekali memang membayangkan realita gangguan jiwa yang terjadi di lingkungan, tak terbayangkan kalau seandainya penderita gangguan jiwa itu adalah saudara kita.
Definisi gangguan mental itu sendiri sebenarnya memiliki makna yang luas. Berdasarkan kajian psikologi klinis oleh seorang psikolog Jerman mengatakan bahwa orang yang berakal sehat pun banyak yang mengalami ketidakwarasan. Ini karena bentuk gangguan jiwa itu tidak selalu berupa kelainan mental yang tidak bisa mengingat apa pun selain bertingkah aneh seperti orang hilang akal, seperti tertawa sepanjang waktu, menangis tiada henti, dan sejenisnya. Tapi juga ada bentuk gangguan mental ringan, yaitu gangguan jiwa yang masih dalam kategori normal dan lebih dikenal sebagai gangguan nekrotik atau neurotis dalam ilmu psikologi.
Sementara gangguan jiwa berat seperti yang kita sering lihat pada orang gila secara awam, gangguan jiwa ini disebut skizofrenik atauskizoprenia. Di dalam kondisi ini, si penderita telah sepenuhnya berada di dalam dunianya sendiri dan tidak memiliki interaksi normal dengan lingkungan. Penjelasan sederhana yang mudah dimengerti, yaitu si penderita ini udah out of control, atau sudah tidak malu lagi kalau telanjang di jalanan.
Sementara itu, bentuk gangguan jiwa yang ringan contohnya berupaparanoid atau mudah curiga dengan orang lain, hobi mencuri barang-barang (kleptomania), kelainan seksual terhadap anak-anak (pedofilia), memiliki tingkat kekhawatiran dan rasa cemas yang berlebihan (anxiety), ada lagi yang berupa rasa bangga yang berlebihan, contohnya jika berbicara merasa orang yang paling hebat (megalomania). Selain itu, ada juga yang berupa rasa takut yang di luar kontrol jika berada di tempat tinggi (fobia dengan ketinggian), fobia dengan gelap, bahkan ada yang lucunya lagi fobia dengan rambutan.
Penyebab Gangguan Jiwa
Sebagian anak kecil yang memiliki rasa penasaran yang tinggi pasti akan bertanya kepada orangtuanya atau saudara terdekat mengenai kenapa seseorang bisa menjadi gila. Secara umum, gangguan mental disebabkan oleh dua hal, yaitu karena faktor keturunan (genonip) dan lingkungan (fenotip).
Secara genotip, gangguan mental terjadi karena keturunan darah dari keluarga, bisa jadi keturunan langsung dari orangtua atau dari kakek-nenek. Seseorang berpeluang besar mengalami gangguan jiwa jika salah satu orangtuanya mengidap sakit jiwa. Sementara itu, dari faktor lingkungan secara umum disebabkan oleh tekanan hidup. Contohnya terjadi akibat masalah pribadi, gagalnya meraih impian dalam hal pendidikan atau pun cita-cita yang ingin dicapai, patah hati, kebangkrutan sebuah bisnis, kegagalan dalam karir, dan lain sebagainya.
Kenyataan ini menjadi faktor pemicu terjadinya gangguan mental terutama bagi orang yang imannya sangat rapuh. Benar sekali, seorang yang kurang iman akan mudah stres dan depresi lalu mengambil jalan pintas bunuh diri. Kenyataan ini kita dapati dalam kehidupan masyarakat modern yang tidak lepas dari persaingan dalam banyak bidang, seperti dalam dunia politik yang identik dengan sistem kapitalis, liberalis dan demokrasi. Itulah beberapa hal yang menjadi pemicu munculnya stres dan depresi sosial hingga berlanjut pada kegilaan pada segelintir pejabat.
Dalam dunia hiburan yang menomorsatukan popularitas dan persaingan, tidak sedikit artis yang mengalami stres dan depresi dalam memenuhi tuntutan untuk tampil sempurna di dalam segi penampilan, juga dalam hal pergaulan dan lifestyle. Namun, yang perlu diketahui bahwa satu hal yang membedakan gangguan mental dari faktor keturunan dengan faktor lingkungan yaitu gangguan jenis keturunan akan muncul pada usia tertentu dan gangguan ini sangat sulit disembuhkan.
Tetapi, gangguan yang disebabkan oleh faktor lingkungan pada umumnya bisa disembuhkan, yaitu dengan terapi dan perhatian penuh dari keluarga dan dengan mengingat Allah. Karena umumnya penderita gangguan karena faktor fenotip ini menimpa orang-orang yang sudah sangat rapuh imannya dan jauh dari mengingat Allah.
Pandangan Islam tentang Gangguan Jiwa
Tidak jauh berbeda dengan definisi dari segi psikologi, di dalam pandangan Islam, gangguan mental juga dinilai sebagai keadaan dimana seseorang atau penderita sudah tidak dapat berinteraksi dengan lingkungan. Berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali bin Abu Thalib, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Telah diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan: dari orang gila hingga sembuh, dari orang yang tidur hingga ia bangun, dari anak-anak hingga balig".
Hadis di atas menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami gangguan mental akan terlepas dari beban hukum dalam artian, perbuatannya tidak dicatat sebagai dosa karena apa yang ia perbuat itu dalam keadaan tidak sadar. Karena di dalam Islam, suatu perbuatan yang dilakukan dalam keadaan sadar maka akan mendapatkan balasan sesuai dengan jenis amalannya.
Untuk amalan baik dan kebajikan maka akan berbuah pahala, sedangkan untuk amalan buruk akan berbunga dosa. Jadi, kalau untuk kasus seseorang yang mengalami gangguan ringan sepertikleptomania yang suka mengutil barang-barang milik orang lain, perbuatannya tersebut dicatat sebagai dosa karena pelaku adalah seorang yang normal dan melakukan aksi mengutil tersebut dalam keadaan sadar.
Senada halnya dengan maraknya kasus korupsi yang banyak dipraktikkan oleh pejabat negeri. Hal ini sudah sangat jelas bukan bagian dari gangguan jiwa, tapi gangguan nurani alias menzalimi diri sendiri serta rakyat kecil yang mereka pimpin. Di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya:
"Demi jiwa dan kesempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah menghilangkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang melakukan prosestazkiyah (pembinaan takwa) dalam dirinya, sebaliknya merugilah orang-orang yang mengotori jiwa (mengikuti hawa nafsu dalam pembinaan jiwanya) atau tadsiyat al nafs."
(Q.S.Asy Syamsu: 7-10).
Berdasarkan ayat tersebut, Allah menekankan kepada kaum muslim agar mengisi jiwa dengan iman dan takwa. Karena di dalam Islam, pembinaan dan pengembangan jiwa yang benar akan mewujudkan kondisi kesehatan jiwa yang baik. Jiwa yang bersih dari hawa nafsu sejatinya akan terisi oleh iman dan takwa yang akan berbuah kesehatan secara mental. Iman dan takwa memiliki relevansi yang sangat erat dengan masalah kejiwaan.
Di dalam Islam, definisi psikologi itu adalah iman dan takwa yang merupakan kunci kesehatan mental yang sesungguhnya bagi manusia. Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita, apakah pernah ditemukan seorang yang beriman dan ibadahnya baik tapi gila?
Justru sebaliknya, seorang yang imannya rapuh dan jauh dari petunjuk Allah-lah yang lebih banyak mengalami tekanan mental serta kegilaan. Sudah sangat banyak contohnya yang bisa kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri, masalah ekonomi atau bisnis yang bangkrut menjadi penyebab umum munculnya depresi, stres, dan pada akhirnya berujung dengan gangguan kejiwaan karena tidak siap menerima takdir dan ujian hidup yang Allah berikan.
Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa mengingat Allah, semoga rahmat-Nya menjauhkan kita dari hal-hal buruk yang berdampak pada kesehatan mental. Hormatil dan bantulah penderita gangguan jiwa. Teguhkan iman dan takwa, itulah kuncinya.

