Film Garuda di Dadaku - Nasionalisme dalam Bentuk Baru
Dirilisnya Garuda di Dadaku mengiringi kebangkitan satu dekade jagat film nasional. Satu persatu rumah produksi bermunculan dan film karya anak bangsa pun mampu berbicara ajang festival film nasional dan internasional. Garuda di Dadaku menunjukan rasa nasionalisme melalui film genre olahraga dan nasionalisme.
Menarik sekali mengulas film Garuda di Dadaku, kebetulan atau tidak sewaktu launcing film ini, dinamika persepakbolaan tanah air sedang meningkat. Masyarakat Indonesia menaruh harapan besar terhadap Timnas besutan Alfred Reidl di tengah pengaruh tangan–tangan politikus opportunist yang ikut campur mencari perhatian massa.
Lepas dari itu, film Garuda di Dadaku merupakan sebuah misi pengharapan terhadap dunia sepak bola Indonesai agar lebih maju. Harapan mulia ini diterjemahkan benar dalam film Garuda di Dadaku.
Film Garuda di Dadaku di-launching pada 2009 lalu, disutradari oleh Ifa Isfansyah, sedangkan pemeran utamanya Aldo Tanzani, Emir Mahira, Marsa Aruan dipilih dari hasil penyaringan casting dan actor professional lainnya seperti, Ikranegara, Maudy Koesnaedi, dan Ari Sihasale.
Background pengambilan film Garuda di Dadaku di beberapa tempat di Jakarta, seperti Stadiun Utama Bung Karno, dan komplek Istana Olahraga Senayan, dan perkampungan di Jakarta.
Garuda di Dadaku - Mimpi Garuda Muda Menjadi Juara Sejati
Mengangkat sebuah kisah dari mimpi besar memang masih menjadi merek dagang film-film jenis seperti Garuda di Dadaku. Mimpi memiliki harapan besar bagi lakonnya. Ambil contoh Ikal dengan Laskar Pelanginya, yang terus berjuang mewujudikan mimpinya ingin kuliah di Perancis.
Begitupun juga dengan Si Guntur pemeran utama film King, dia begitu mengidolakan Liem Swie King, dan bermimpi kelak dapat berlatih di Pelatnas agar bisa mengikuti berbagai turnamen kelas Internasional. Demikian dengan mimpi Bayu si garuda muda, pada film Garuda di Dadaku. Mimpi Bayu anak kampung yang suka sekali bola, kelak ingin bermain di Timnas dan membela bangsanya.
Intinya jenis film drama bergenre baru ini, seperti Garuda di Dadaku, mengisahkan bagaimana perjalanan seseorang menjadi seorang juara sejati. Perjalanan tersebut harus melawati proses yang panjang dan melelahkan. Untuk menjadi seorang juara sejati butuh tempaan mental dan durabilitas agar tak mudah menyerah. Sang juara sejati tak akan menyepelekan lawan, dan tak mudah terpengaruh.
Garuda di Dadaku Nasionalisme Gaya Baru
Di tengah merosotnya takaran nasionalisme karena pengaruh modernitas yang bersifat hedonism dan konsumtif, di sisi lain dunia Sepak Bola tanah air tengah dihempas oleh badai kekisurahan internal PSSI maupun kasus suap yang menghantui setiap pertandingan. Film Garuda di Dadaku hadir sebagai pengisi rasa haus terhadap nasionalisme yang selama ini kering oleh pengaruh asing.
Melalui film Garuda di Dadaku ini rasa nasionalisme hadir pada harapan Bayu kecil dengan timnya yang bermimpi kelak dapat bermain di stadion Bung Karno kebanggaan rakyat Indonesia. Walau sifatnya mengibur ternyata Film Garuda di Dadaku memiliki makna yang besar terhadap kebangkitan nasionalisme melalui jagat Sepak Bola. Mengingat Sepak Bola merupakan olah raga yang diminat masyarakat Indonesia.
Garuda di Dadaku VS Genre Pocong Pop
Di tengah maraknya film Indonesia yang bertemakan horror, film Garuda di Dadaku datang membawa angin segar. Banyaknya film jenis "horror ababil" seperti ini cukup memuakkan terutama bagi masyarakat Indonesia yang merindukan tayangan berkualitas. Film Garuda di Dadaku dengan pemainnya yang belum ngetop, memberikan nuansa baru bagi dunia hiburan layar lebar tanah air.
Film Garuda di Dadaku cocok sebagai hiburan sehat bagi keluarga. Alur cerita yang sederhana, jauh dari hedonisme duniawi. Film Garuda Di Dadaku yang launcing 2009 lalu, berhasil mencuri minat pemirsa Indonesia.
Film Garuda di Dadaku dikategorikan sebagai film sukses dan masuk dalam berbagai nominasi FFI. Seperti nominasi untuk pemeran pria terbaik, nominasi skenario asli, tata musik terbaik. Termasuk juga nominasi film anak terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia.
Sinopsis Singkat Garuda di Dadaku
Film Garuda di Dadaku ini bermula dari seorang Bayu yang diperankan oleh Emir Mahira. Seorang anak kelas 6 SD yang tinggal di perkampungan sesak di Jakarta. Seperti anak SD lainnya, Bayu gemar sekali dengan sepak bola, setiap hari dia iseng men-drible bola menyusuri gang–gang perkampungan hingga ke lapangan sepak bola.
Teman Bayu yang bernama Heri mulai meyakinkan bahwa talenta bermain bola bisa membawanya ke ajang seleksi pemain nasional usia di bawah 13 tahun. Jika lulus seleksi, calon pemain sepak bola U 13 yang akan dilatih oleh mantan-mantan pemain nasional dan ikut kompetisi Piala Dunia sepak bola U 13. Persahabatan antara Bayu dan Heri juga diceritakan dengan apik dalam Garuda di Dadaku.
Namun sayang mimpi menuju Senayan mendapat ganjalan dari keluarganya, Kakeknya Bayu, Wak Usman melarang keras cucunya terjun jadi pemain bola, katanya pemain bola masa depannya suram, kelak setelah tak laku lagi jadi pemain, dia akan dicampakan dari klub bola dan masa tuanya akan susah. Pergolakan batin pun semakin menambah keistimewaan film Garuda di Dadaku ini.
Tak hanya itu masalah pun menjalar pada hubungan pertemanan antara Bayu, Heru dan Zahra kian renggang karena perselisihan khas anak-anak. Bagaimana kisah Bayu selanjutnya? Apakah si Bayu ini bisa lolos seleksi pemain Timnas muda?
Garuda di Dadaku 2- Lanjutan Cerita dari Garuda di Dadaku
Setelah sukses di pasaran tak pakai waktu lama, kelanjutan dari Garuda di Dadaku, mulai digarap dengan materi cerita yang lebih segar dan berbobot. Selang dua tahun dari seri pertama akhirnya Film Garuda Di Dadaku 2 dirilis pada Desember 2011, bertepatan dengan masa liburan anak sekolah.
Sutradara pada film Garuda di Dadaku 2 ini diganti oleh Rudi Soedjarwo dan hadirnya aktor–aktor baru, seperti Rio Dewanto, Monica Sayangbati. Masih bercerita tentang si Bayu anak kampung yang gila bola. Kali ini karier Bayu di timnas meningkat, dia terpilih menjadi pemain Timnas Usia 15 bersama teman karibnya Heru.
Di pemain timnas usia 15 dia dilatih oleh Pak Wisnu yang diperankan Rio Dewanto. Bayu yang sudah beranjak ABG rupanya mulai jatuh cinta dengan teman sekelasnya Anya yang diperankan oleh Monica Sayangbati. Kisah lain mulai mewarnai jalannya cerita di film Garuda di Dadaku 2 ini.
Dikisahkan dalam Garuda Di dadaku 2, terjadi persaingan sengit dalam internal tim, karena kemunculan Yusuf yang bertalenta tak kalah dengan Bayu. Yusuf pelan tapi pasti membuktikan bahwa dia adalah seorang bintang baru dalam timnas. Ini yang mengakibatkan kacaunya permainan Bayu sebagai striker saat dia sedang memimpin timnya bertarung di ajang Piala Asean.
Diceritakan dalam film Garuda di Dadaku 2 entah kenapa tiba-tiba Bayu pergi dari kamp pelatihan, padahal Timnas Usia 15, berada dalam pertandingan akhir penentuan juara. Bagaimana akhir ceritanya? Sebagian dari Anda pasti sudah mengetahuinya bukan?
Film Garuda di Dadaku - Film Bergenre Olahraga yang Mengasyikkan
Menyaksikan film bergenre olahraga seperti film Garuda di Dadaku ini sungguh mengasyikkan. Ceritanya ringan namun berkesan, jika Anda tertarik, ternyata ada beberapa film yang bertema serupa, baik itu yang masih baru maupun film lawas.
Berikut ini film yang direkomendasikan untuk ditonton, yang memiliki satu tema sama dengan Garuda di Dadaku, olahraga :
- Gadis Marathon, 1981 (Yeni Rachman, Roy Marten, Pong Hardjatmo)
- Tendangan dari Langit, 2011 (Irfan bachdim, Kim Kurniawan)
- Romeo & Juliet, 2009 (Sissy Pricilla, Edo Borne).
- Gara-Gara Bola, 2008 (Wingky Wiryawan, Herjunot Ali)






