Gay, Psikologis atau Genetis?
Pro-kontra mengenai permasalahan Gay memang sudah lama terjadi. Bahkan, hingga saat ini beberapa elemen masyarakat masih menolak kehadiran penyuka sesama jenis ini. Meski sekarang banyak dari kaum gay yang blak-blakan mengakui orientasi seksualnya, dan bahkan beberapa negara sudah mengesahkan pernikahan sesama jenis, gay tetaplah dipandang sebagai sosok yang menyalahi kodrat.
Tubuh manusia memang didesain Tuhan supaya semua fungsi badan dipakai sesuai 'perannya' masing-masing,. Tapi ternyata pada prakteknya tidak semulus itu. Apa yang mendorong kaum Adam menyukai sesama jenis, sudah lama menjadi tanda tanya. Bahkan dalam ketiga agama samawi, kisah homoseksualitas sudah terjadi sejak jaman Nabi Luth, yang notabene sudah terjadi ribuan tahun lalu.
Penyebab Homoseksualitas
Asal muasal mengapa pria menjadi gay, ternyata ada lebih dari satu. Bailey, dalam bukunya Crookss & Baur, tahun 2006, menmberikan pandangan soal mengapa seseorang menjadi homoseksual. Pertama, dari sudut pandang genetis. Ada yang mengatakan kalau seorang gay memiliki faktor biologis, seperti hormon, yang membuatnya tertarik dengan sesama lelaki.
Gay juga bisa dilihat dari sudut pandang psikoanalisis. Para tokoh yang punya sudut pandang psikoanalisis atau dapat disebut kaum Freudian, setuju kalau bayi adalah Polymorphus Perverse. Artinya, arah dari seksualitas bayi sama sekali tidak memiliki perbedaan, baik laki-laki ataupun perempuan. Misalnya bayi laki-laki mengarahkan seksualitasnya pada objek seperti lubang kunci, gelas, dan benda-benda lain yang melambangkan seksualitas perempuan. Apabila terjadi kesalahan dalam mengarahkan seksualitasnya, ada kemungkinan homoseksualitas akan terjadi.
Terakhir ada pandangan yang menitikberatkan pengaruh dari lingkungan sekitar, atau pengaruh sosiokultural. Contoh paling sederhana adalah pengaruh 'labelling'. Kalau kita memberi label pada teman kita bahwa dia seorang gay, lama kelamaan, meski dia laki-laki normal, akan berpikir tentang apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya. Dan dari proses itu, ada kemungkinan dia memiliki kepercayaan diri yang rendah atau mudah terpengaruh kata-kata orang lain. Dan jadilah dia seorang homoseksual.
Memang perdebatan soal gay sudah lama terjadi. Tapi toh semua pendapat yang diperdebatkan itu tidak ada yang salah. Seorang gay ada karena berbagai faktor. Yang perlu kita lakukan adalah menerima mereka apa adanya. Karena bukankah Tuhan menyuruh kita mencintai sesama manusia tanpa syarat apapun?






