logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Musik    Musik Daerah

Geguritan Bahasa Jawa, Kini Menjadi Klasik


Ilustrasi geguritan bahasa jawa
Geguritan bahasa Jawa dalam lagu mulai dilupakan oleh masyarakat Jawa. Meski bermunculan penggurit-penggurit, itu pun tak begitu banyak. Hampir tak ada pelantun geguritan dengan bahasa Jawa dalam bentuk lagu atau tembang. Hanya musik dengan kekhasan Jawa yang masih terdengar dengarkan. Itu pun dicampur dengan jenis musik lain. Suara musik gamelan yang dipadu dengan musik modern. Hal ini lambat laun akan surut terus-menerus jika tak ada pelestarian lagi.

Tembang Jawa Riwayatmu Kini

Jangankan geguritan bahasa Jawa, bahasa Jawa saja mulai tak lagi digunakan oleh para generasi muda Jawa terutama yang tidak tinggal di lingkungan orang Jawa. Jangankan bahasa Jawa halus dengan berbagai aturan, bahasa Jawa sehari-hari yang dianggap sebagai bahasa Jawa kasar saja sudah jarang terdengar. Keluhan demi keluhan yang mengatakan betapa sulitnya berbahasa Jawa malah lebih sering terdengar. Bila tidak dilestarikan, bahasa Jawa ini bisa menjadi bahasa mati.

Kini tulisan berbahasa Jawa sudah sulit ditemukan. Apalagi bila harus menemukan orang yang bisa membaca tulisan menggunakan bahasa Jawa itu, tambah sulit pasti. Ada banyak ragam bahasa Jawa. Yang paling terkenal memang bahasa Jawa yang digunakan oleh orang-orang yang ada di Yogyakarta dan di Solo. Padahal bahasa Jawa orang-orang di luar kedua daerah itu juga banyak. Namun memang bahasa Jawa yang digunakan di daerah lain itu terdengar terlalu kasar atau suara penggunanya terlalu keras.

Beda dengan bahasa Jawa yang digunakan oleh orang-orang asli Yogyakarta. Suaranya lembut dan bahasanya terasa lebih halus. Sayangnya, memang sangat sulit memahami bahasa Jawa halus ala Kraton ini. Hal ini juga yang membuat bahasa Jawa semakin tidak menarik dipelajari. Padahal bahasa Jawa halus ini bisa menjadi bahasa rahasia yang menarik untuk dibahas.

Bila mengingat nama Waljinah, Gesang, Mus Muliadi, dan sederet nama pelantun tembang Jawa, seperti tak ada regenerasi dari kaum muda untuk melanjutkan. Keterpengaruhan musik modern kian kentara ketika tembang dari geguritan dengan bahasa Jawa sudah dibahasakan dengan bahasa Indonesia. Gaya melantunkan lagu yang sangat unik dengan nada yang tinggi, membuat geguritan ini menjadi salah satu tembang yang tidak mudah dilantunkan. Apalagi mengingat jumlah penggemar yang tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan jumlah penggemar musik pop.

Jangan-jangan nantinya, yang melantunkan tembang Jawa ini adalah orang-orang yang berasal dari negara lain. Seperti yang terjadi pada gamelan. Para pemain gamelan semakin banyak yang berasal dari negara lain. Orang-orang bule itu merasa bahwa suara gamelan itu sangat unik dan mampu menenangkan jiwa mereka. Sedang kini, generasi muda Indonesia malah akan mentertawakan teman-teman mereka yang memainkan gamelan. Tidak mudah memainkan gamelan. Seharusnya memang harus dilestarikan.

Citra gamelan dan tembang Jawa yang tidak dianggap modern juga menjadi salah satu hal yang semakin membuat gamelan dan tembang Jawa merosot kepopulerannya. Harus ada pencucian otak dan cara pandang yang berbeda agar kedua hal yang berkaitan dengan budaya tradisional Indonesia ini mendapatkan tempat yang layak di hati masyarakat Indonesia terutama bagi generasi muda. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Jangan biarkan generasi muda menjadi lebih membanggakan kebudayaan lain termasuk budaya Korea daripada kebudayaannya sendiri. Sedih rasanya melihat bahwa generasi muda lebih mengenal Gangnam Style daripada tarian dari negeri sendiri. Apa yang telah terjadi kepada anak bangsa ini? Media yang tidak terlalu berpihak kepada kebudayaan sendiri telah membuat mereka seolah tidak tersentuh oleh budaya lokal yang cukup kaya itu.

Kekhasan Akan Punah

Geguritan dengan bahasa Jawa yang ditembangkan sudah mendekati kepunahan. Penyebabnya tak lain adalah tidak banyak orang yang mau menikmati jenis musik dan lagu ini. Sebagian orang Jawa juga seolah tak mau melestarikan karena mereka juga tidak memahami ini geguritan itu. Sangat langka memang mencari orang dengan bakat menyusun geguritan. Apalagi, generasi muda lebih dikenalkan oleh orang tuanya dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa dasar mereka.

Kenyataannya, mereka para generasi muda hampir tak mengenal bahasa Jawa sama sekali. Yang dikejar ketika dewasa juga bukan lagi kembali kepada kebudayaan, melainkan lebih mendalami bahasa asing. Kalau keseimbangan itu telah dikenalkan sejak kecil, maka penguasaan bahasa Jawa pasti akan lebih mudah. Pembiasaan ini tidak akan terasa seperti pembelajaran karena dilakukan secara alami saja.

Anak-anak yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa halus dikeluarganya tidak menemui kesulitan apapun ketika harus menggunakan bahasa Jawa itu dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka juga belajar bahasa asing dan bahasa Indonesia. Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi, mereka mampu menggunakan beberapa bahasa dalam satu waktu tanpa mengalami kesulitan. Hal ini memang telah terbiasa sejak kecil.

Kalau hal ini dilakukan oleh setiap orang keturunan Jawa, maka bahasa Jawa dan geguritan ini tidak akan punah. Jika tak ada lagi yang mampu mencipta dan mau menembangkan geguritan, ke depan, geguritan akan punah dan seakan tinggal sejarah saja. Ini yang perlu diwaspadai. Geguritan ini adalah aset bangsa cermin kekhasan bangsa Indonesia.

Jangan sampai budaya ini menjadi punah karena tidak ada penghargaan terhadap kebudayaan sendiri. Kebudayaan yang mestinya menjadi ciri khas masyarakat Jawa dan kebudayaan nasional. Sangat disayangkan kalau hal ini bisa terjadi. Sementara banyak negara yang emncoba mencari ciri khas tersendiri agar bangsanya mudah dikenali bangsa lain, bangsa Indonesia membuang budaya yang unik yang telah ada. Ada baiknya bangsa ini memikirkan bagaimana melestarikan berbagai budaya unit tersebut.

Menjadi Musik Klasik

Layaknya musik zaman dulu atau mungkin lebih tua, geguritan dengan bahasa Jawa menjadi musik klasik yang dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Lebih banyak oleh mereka yang sudah tua usianya atau orang-orang yang mengerti bahasa Jawa. Bila suatu saat mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini, maka geguritan pun akan menjadi lenyap. Bila tidak ada peminat, para pencipta dan penyanyi geguritan juga pasti tidak mempunyai semangat untuk berkarya.

Bagaimanapun mereka membutuhkan pendapatan. Mereka juga perlu dihargai. Penonton yang membludak itu akan memberikan semangat tersendiri dalam berkarya. Bayangkan kalau tidak ada yang setia memberikan tepukan tangan atau yang setia mendengarkan, Semangat pasti mengendur dan akhirnya mati tanpa meninggalkan generasi penerus. Jangan sampai geguritan bernasib seperti grup Srimulat. Yang sempat begitu populer lalu tergerus zaman dan mati secara perlahan.

Bila keklasikan ini menjadi benar-benar sebuah klasik, tentu geguritan dengan bahasa Jawa akan mendapat sebuah bentuk penghargaan yang luar biasa. Akan ada banyak pertunjukan tentang geguritan bahasa Jawa dalam bentuk tembang-tembang. Meski sudah tak ada yang mencipta geguritan lagi, namun musik klasik yang didengar akan menempati posisi tersendiri dalam hati penikmat musik.

Gengsi kebudayaan perlu dibentuk. Bila benar ada sebuah gengsi kebudayaan, akan ada pelestarian mati-matian dari pihak pemerintah daerah untuk terus memunculkan geguritan bahasa Jawa sebagai gengsi kebudayaan. Bukan malah meneriaki geguritan dengan bahasa Jawa sebagai musik yang tertinggal dan kuno. Sebuah teriakan yang jelas sangat keliru. Teriakan yang akan menyudutkan diri sendiri ke dalam bentuk pengingkaran diri, dari mana kita berasal, dan kebudayaan apa yang kita miliki.

Regenerasi kebudayaan harus juga dibentuk. Tidak adanya regenerasi kebudayaan oleh pihak-pihak terkait atau oleh pihak-pihak pelaku seni. Mereka malah lebih sering menonjolkan kebudayaan barat dalam pertunjukan yang diadakan di daerahnya. Ini adalah sebuah penjajahan kebudayaan. Kita akan merasa akrab dengan kebudayaan dari bangsa asing, sementara kebudayaan sendiri akan terasingkan dari kehidupan kita, pemilik kebudayaan geguritan.

Memang perlu diadakan regenerasi kebudayaan. Misalnya saja membuat langkah bagaimana agar di daerah masyarakat senang dengan geguritan dengan bahasa Jawa yang ditembangkan. Sebagai bentuknya, bisa kita pilih perlombaan-perlombaan dalam bidang geguritan dengan bahasa Jawa. Paling tidak, dari kegiatan tersebut generasi muda akan mengenal dan minimal mau belajar untuk lomba.

Dengan cara pengenalan semacam itulah akan didapatkan bibit-bibit yang mampu bergerak di bidang geguritan bahasa Jawa dan penembang geguritan dengan bahasa Jawa. Jika ada istilah tak kenal maka tak sayang, akan sangat mungkin langkah berikutnya lebih muda dalam pelestarian kebudayaan jJawa khususnya geguritan ini.

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Lagu Jawa - Tak Terhalang oleh Bahasa
  • Musik Keroncong, di Manakah Dirimu Sekarang?
  • Lagu Melayu yang Indah dan Puitis
  • Kesenian Musik Daerah Semakin Digemari
  • Sejarah dan Eksistensi Musik Melayu
  • Permainan Angklung: Salah Satu Seni Tradisional Indonesia Yang Harus Dilestarikan
  • Mengenal Penyanyi Keroncong Indonesia - ANNEAHIRA.COM
  • Mahir Mengiringi Lagu Pop Sunda
  • Geguritan Jawa, Sastra Jawa yang Tidak Pernah Mati
  • Lagu Batak, Dulu dan Kini
  • Ragam Kesenian dengan Gending Jawa
  • Lirik Lagu Daerah
  • Sejarah dan Jenis Gamelan Daerah di Indonesia
  • Menghargai Lagu-lagu Daerah sebagai Bentuk Penghargaan terhadap Nilai Budaya
  • Perlawanan Wanita dalam Lagu Sunda Talak Tilu
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA