logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Pasti    Ilmu Gizi dan Kesehatan

Gejala Keracunan Makanan pada Anak-anak


Ilustrasi gejala keracunan makanan

Anak-anak cenderung memilih makanan dari tampilannya saja. Warna dan bentuk yang menarik, kemasan yang unik merupakan faktor utama bagi anak saat memilih makanan. Tidak heran jika anak-anak sering menjadi korban keracunan makanan. Apa saja gejala keracunan makanan dan bagaimana cara memberikan pertolongan pertama? Berikut ini beberapa tipsnya.

Gejala Keracunan Makanan

Berbagai kasus keracunan makanan, sudah sering kita dengar dari media massa. Mungkin, kita sendiri pun pernah mengalaminya. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang keracunan makanan. Di antaranya karena sifat bahan makanan itu sendiri, cara pengolahan atau penyimpanannya, dan bisa pula karena pengaruh dari luar.

Selama ini, kasus keracunan yang sering terjadi adalah akibat seseorang menelan makanan yang telah dicemari racun yang dikeluarkan oleh bakteri staphylococcus. Sebenarnya bakteri ini jika tertelan tidak akan menimbulkan sesuatu yang buruk, akan tetapi ia dapat menghasilkan racun enterotoxin yang akan menyebabkan keluarnya cairan berlebihan dari usus halus.

Pencemaran bahan makanan oleh bakteri, biasanya berawal dari pengolah atau pemasak makanan yang menderita infeksi kulit karena bakteri staphylococcus. Bisa pula terjadi karena makanan dibiarkan terlalu lama berada pada suhu kamar setelah dimasak, sehingga spora bakteri bisa tumbuh.

Bila sudah tercemar, racun dalam makanan tidak akan hilang meski sudah dipanaskan lagi. Beberapa makanan yang mudah menimbulkan keracunan antara lain sosis, daging, lidah sapi, ikan, susu dan hasil olahannya, dan telur.

Muntah-muntah dan diare adalah gejala utama keracunan akibat bakteri. Selain itu ada pula gejala yang sering timbul mendadak, misalnya mual, otot perut kejang, diare yang disertai sakit kepala, badan lemah dan demam.

Gejala-gejala ini muncul satu sampai 22 jam setelah makanan yang tercemar tertelan dan tergantung pada bakteri yang mencemarinya, kemudian menghebat dalam waktu 12-24 jam, dan akhirnya mereda. Adakalanya terjadi kejang perut yang menghebat, hingga penderita jatuh pingsan. Jika hal ini sampai terjadi, maka penderita harus segera dibawa ke dokter.

Untuk mencegah agar bahan makanan tidak tercemari bakteri, maka simpanlah bahan makanan yang mengandung daging, ikan, telur unggas, maupun susu serta olahannya dalam lemari pendingin, jika tidak segera dimakan setelah dimasak. Ikan laut yang baru dikeluarkan dari penyimpanan jangan langsung dimakan. Cuci dan masak dulu sampai benar-benar matang.

Bakteri Penyebab Terjadinya Gejala Keracunan Makanan

Gejala keracunan makanan dapat muncul setelah mengkonsumsi makanan beracun misalnya, beberapa jenis jamur liar, keong racun, ikan buntal, tempe bongkrek, atau mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri atau zat beracun lainnya. Ada lebih dari 250 jenis bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, yang paling umum di antaranya adalah clostridium botulinum, salmonella gastro, dan escherichia coli.

1. Clostridium Butulinum

Bakteri Clostridium Botulinum menghasilkan racun yang mencegah transmisi impuls saraf ke otot. Mual, muntah dan kram perut adalah gejala umum yang ditimbulkannya. Efek dimulai pada syaraf di kepala sehingga menyebabkan penglihatan kabur atau menjadi ganda dan kesulitan menelan, kemudian menyebar ke punggung sehingga menyebabkan kelumpuhan otot lengan, otot pernapasan, dan mungkin juga otot kaki.

Makanan kaleng adalah sumber utama keracunan botulinum. Selain itu, botulisme juga dapat bersumber dari makanan bayi, yang dapat berakibat fatal bagi kelompok usia ini. Cara terbaik untuk mencegah botulisme adalah mengikuti petunjuk yang benar dalam menyiapkan dan menyajikan makanan di rumah. Makanan yang terkontaminasi sering memiliki bau busuk, meskipun tidak selalu demikian. 

2. Salmonella Gastro

Salmonellosis mengacu pada sejumlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini adalah demam tifoid. Bentuk umum salmonellosis adalah gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri salmonella gastro. Bakteri ini dapat menyebar dari orang ke orang dan dari hewan ke orang.

Makanan yang biasanya mengandung salmonella adalah daging, daging unggas, susu dan telur. Salmonella sering ditularkan melalui kontak dengan kotoran atau pakan ternak atau melalui makanan yang terkontaminasi kotoran hewan. Buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan bersih juga dapat menyebarkan bakteri ini.

Gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh salmonella termasuk mual, kram perut dan diare. Pada kasus yang parah, ada lendir dan darah pada tinja. Gejala awal biasanya muncul 12 sampai 24 jam setelah menelan makanan yang terkontaminasi.

Keracunan ini biasanya tidak serius dan berlangsung selama dua sampai lima hari. Namun, salmonellosis bisa berakibat fatal pada bayi, lansia dan pasien yang sakit parah. Pada kasus yang sangat jarang, salmonella bisa menembus aliran darah sehingga menyebabkan artritis, penyakit jantung, infeksi tulang dan masalah perut jangka panjang

3. Escherichia Coli

Kebanyakan strain Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri bermanfaat yang hidup dalam sistem pencernaan. Mereka tidak menyebabkan penyakit. Namun beberapa strain E. coli dapat menyebabkan efek keracunan pada tubuh. Salah satu strain yang paling ditakuti adalah E. coli yang menghasilkan racun yang disebut toksin Shiga.

Racun ini merusak sel-sel dinding usus sehingga menimbulkan perdarahan. Toksin E. coli juga memecah sel darah merah, menyebabkan anemia dan menurunkan jumlah trombosit. Pada 10% kasus, keracunan E. coli berlanjut sehingga menyebabkan kerusakan ginjal dan organ penting lainnya. Risiko kematian terutama tinggi pada anak-anak dan lansia.

E. coli memiliki masa inkubasi antara 1-3 hari. Waktu tersebut dibutuhkan bakteri untuk melakukan perjalanan ke usus besar dan berkembang biak di sana ke tingkat yang menyebabkan masalah. Karena bakteri terutama memengaruhi usus besar, gejala utama adalah sakit perut dan diare. E. coli jarang menyebabkan muntah, meskipun penderita merasakan sakit perut dan diare hebat sehingga ada bintik-bintik darah segar di tinjanya. 

Tanda-Tanda Keracunan

Anak-anak sedang berada dalam masa pertumbuhan jasmaniah yang pesat. Karena itu, zat-zat asing yang membahayakan tubuh akan direspon dengan cepat. Setelah satu sampai dua jam mengkonsumsi makanan atau minuman yang membahayakan tubuh gejala keracunan makanan sebagai berikut akan muncul yaitu sebagai berikut.

  • Anak akan mengalami muntah-muntah, baik muntah biasa sampai muntah yang hebat sehingga badan lemas.
  • Kram di bagian perut.
  • Badan menjadi demam dan menggigil.
  • Buang air besar yang terkadang disertai dengan darah, nanah, atau lendir pada tinja anak.
  • Nafsu makan mendadak hilang.

Gejala keracunan makanan di atas dapat terjadi selama 24 jam setelah anak mengkonsumsi makanan atau minuman beracun dan dapat terus berlangsung selama tiga atau empat hari. Gejala keracunan makanan dapat terus berlanjut selama anak terus mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung racun tanpa sengaja. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk mengenali makanan atau minuman yang membuat gejala keracunan makanan pada anak.

Pertolongan Pertama

Pertama kali yang Anda harus lakukan ketika gejala keracunan makanan terlihat adalah tetap tenang. Panik, hanya akan membuat bingung, tidak dapat berpikir jernih dan ragu dalam mengambil tindakan penyelamatan. Setelah Anda tenang, ambil tindakan berikut ini.

  • Jika anak sering muntah dan terus menerus buang air besar, periksalah suhu tubuhnya, terutama di bagian ketiak dan leher. Gunakan termometer jika ada.
  • Periksalah tinja yang dikeluarkan anak. Perhatikan apakah terdapat lendir atau darah di sana.
  • Baringkanlah anak, buatlah tubuhnya merasa nyaman.
  • Berikan oralit pada anak sesendok demi sesendok. Jika oralit tidak tersedia, Anda dapat menggantinya dengan larutan air garam dan gula.
  • Sebaiknya Anda tidak memberinya obat diare, sebab buang air besar merupakan cara alami tubuh untuk menghilangkan racun dari dalam tubuh.
  • Berilah makanan yang dapat ditelan langsung atau dikulum saja. Misalnya, biskuit susu yang gampang lunak dengan air ludah. Makanan yang mengandung lemak dan susu sebaiknya tidak diberikan terlebih dahulu.
  • Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, terus berikan minum pada anak. Anda dapat memberinya air kelapa yang merupakan larutan elektrolit alami. Jangan beri anak kopi, teh atau minuman yang mengandung kafein lainnya. Jika anak enggan minum, berikan melon padanya. Minta ia menghisap dan menggigit melon sedikit demi sedikit.

Jika gejala keracunan makanan tidak berhenti selama 12 jam ke depan, Anda dapat segera membawa anak ke bagian gawat darurat rumah sakit terdekat atau dokter umum setempat. Beritahukan pada dokter atau perawat gejala-gejala yang timbul dan perawatan apa saja yang telah Anda berikan sehingga anak mendapat perawatan yang tepat.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Mengenal Cahaya dan Alat Optik
  • Kandungan Semangka
  • Kandungan Nasi Bukan Hanya Pati
  • Proses Katabolisme Karbohidrat dalam Tubuh
  • Fungsi Vital Oksigen dalam Tubuh
  • Kiat Menyeimbangkan Hormon Pada Manusia
  • Miris: Keracunan Makanan di Sekolah
  • Kandungan Jeruk Nipis dan Manfaatnya
  • Beragam Sumber Protein Tinggi
  • Jamur Tiram, Jamur Bergizi Tinggi
  • Ragam Zat Adiktif Makanan
  • Beragam Miras dan Dampaknya
  • Jurnal Penelitian Kesehatan - Khasiat Obat Tradisional
  • Kandungan Jahe yang Kaya Khasiat
  • Makanan Modern Bercita Rasa Tradisional
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA