Meningkatnya Grafik Angka Gugat Cerai: Adakah cara menurunkannya?
Meningkatnya grafik angka gugat cerai bukanlah hal yang membahagiakan. Hal ini hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Informasi yang didapatkan dari salah satu hakim Pengadilan Agama yang ada di salah satu kabupaten di Sumatera Selatan mengungkapkan bahwa hampir sebanyak 15 kasus gugat cerai dikabulkan. Itu artinya ada 15 orang janda baru setiap bulannya.
Usaha mediasi telah dilakukan tapi masing-masing pihak ternyata lebih memilih mengakhiri kehidupan rumah tangga yang tidak lagi sehat tersebut. Melihat usaha mediasi yang lebih sering gagal tersebut, akhirnya menambah tinggi grafik gugat cerai. Melihat angka grafik yang semakin meningkat itu, ada sebuah pemikiran mengapa wanita semakin merasa lebih nyaman dan lebih bahagia ketika tidak berada dalam ikatan pernikahan? Bila ingin sekadar membuktikan bahwa grafik gugat cerai di Indonesia semakin meningkat, iseng-isenglah mengetikan kalimat "grafik angka gugat cerai meningkat" atau "angka gugat cerai meningkat". Akan terlihatlah beberapa informasi dari berbagai daerah di Indonesia mengenai grafik angka gugat cerai tersebut.
Analisis Grafik Gugat Cerai yang Meningkat
Pendidikan yang semakin merata mau tidak mau menjadi salah satu pengaruh yang mengapa wanita semakin berani menentukan langkah masa depannya. Gugat cerai artinya adalah seorang istri mengajukan gugatan terhadap suaminya. Sementara itu, kalau suami yang mengajukan gugatan cerai disebut cerai talak. Kalau dahulu grafik gugat cerai lebih rendah dibandingkan dengan grafik cerai talak. Tapi sekarang malah terbalik. Grafik gugat cerai semakin meningkat. Kemampuan ekonomi seorang wanita memainkan peranan cukup penting dalam hal apakah seorang wanita berani mengajukan gugat cerai atau tidak.
Bila angka grafik perceraian dikalangan artis cukup tinggi atau malah semakin tinggi, demikian juga dengan grafik perceraian dikalangan masyarakat biasa. Kehidupan yang sangat kompleks, perselisihan yang tiada henti membuat kedua belah pihak serasa hidup dalam neraka dunia. Tiada romansa cinta dan keharmonisan yang terbayang sebelum menikah juga membuat batin kedua suami istri tersebut menjadi kering dan tidak sanggup lagi berada dalam bahtera rumah tangga yang sama. Pendapatan istri yang jauh lebih besar dan ketidakmampuan suami menenangkan jiwa istri yang gelisah saat suami tidak mampu memenuhi kebutuhannya juga menjadi alasan gugat cerai. Hal ini terbukti dengan meningkatnya grafik gugat cerai setelah terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di suatu tempat.
Selain keadaan ekonomi, grafik gugat cerai juga dipengaruhi oleh adanya kekerasan dalam rumah tangga atau keberadaan suami yang tidak diketahui dan tidak memberikan nafkah lahir batin dalam waktu yang lama atau lebih dari 6 bulan. Pengetahuan tentang hak dan kewajiban ini membuat wanita berani memutuskan untuk hidup sendiri dan melangkah lebih pasti dalam kehidupannya. Kalaupun si wanita akan menikah lagi dan bercerai lagi, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang harus dilalui sebagai bentuk kepasrahan atas nasib dan takdir hidupnya. Semakin pasrah seorang wanita menerima keadaan dirinya, semakin tidak tertekan dia menghadapi kasus perceraiannya.Memang tidak semua wanita berpendapat seperti itu. Ada banyak wanita yang lebih memilih hidup dalam perkawinan yang tidak membahagiakannya daripada harus duduk di kursi panas perceraian.
Ada banyak alasan mengapa wanita lebih memilih menderita daripada menjanda. Keberadaan anak dan ketidakmampuan secara ekonomi merupakan salah satu alasan yang diungkapkan oleh para wanita golongan ini. Bila pilihan ini yang diambil, biasanya si wanita akan menderita tidak hanya batin tapi fisiknya pun digerogoti oleh berbagai macam penyakit. Sang suami terkadang tidak peduli dan tidak juga ingin menceraikan istrinya. Kehormatan keluarga dan rasa malu kalau harus bercerai membuat keduanya hidup dalam kehampaan rumah tangga. Bila tidak ada perbaikan hingga maut memisahkan, rasanya keduanya hanya membuang-buang waktu. Harusnya, kalau memilih untuk tidak berpisah, kedua suami istri itu harus mau mengalah dan memperbaiki hubungan batin dan hubungan kejiwaan. Melewatkan waktu bersama, saling memegang tangan, saling memberi, dan saling memaafkan adalah hal-hal yang harus dilakukan. Nada suara tinggi dan masalah kecil yang dibesar-besarkan haruslah disingkirkan dari agenda keduanya. Berjalan-jalan berdua sambil menikmati keindahan alam atau pergi memancing sambil bertukar cerita adalah hal lainnya yang bisa dilakukan. Kalau semua ini telah dilakukan, diharapkan bahwa grafik perceraian tidak akan meningkat.
Menghambat Laju Grafik Perceraian
Tidak akan seorang wanita dengan serta merta mengajukan gugat cerai dan menambah tinggi grafik perceraian asalkan suaminya masih sangat dibutuhkannya dan dicintainya. Wanita tercipta untuk lebih banyak berkorban dan merelakan kebutuhannya dikesampingkan demi kebahagiaan orang lain terutama keluarganya. Kebutuhan wanita terhadap seorang laki-laki lebih kepada kebutuhan batin dan jiwanya.
Untuk kebutuhan fisiknya, wanita bisa menghasilkan uang sendiri. Sebenarnya, wanita akan rela melakukan apa saja untuk suami dan rumah tangganya. Tidak masalah baginya kalau suami tidak mampu memenuhi semua kebutuhannya. Dia akan tetap bersyukur. Kalaupun mampu, dia akan memenuhi sendiri semua kebutuhannya. Dia bahkan akan memenuhi kebutuhan suaminya. Tapi sebagai balasannya, wanita menginginkan suaminya paham hal tersebut dan mau berbagi beban rumah tangga secara bersama-sama. Dia ingin suaminya mau ikut mencuci piring, mencuci pakaian, mengasuh anak, membersihkan rumah, dan lain-lain sebagai bentuk terima kasih karena istrinya telah ikut menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan adanya pengertian yang tinggi dari suami tersebut, tentunya sang istri tidak stres apalagi depresi yang berujung pada pikiran "Lebih baik sendiri daripada berdua, tapi tetap menanggung beban sendri". Pengertian suami ini akan membuat istri rela dan tetap bersyukur. Dengan demikian, grafik perceraian bisa turun. Para suami juga harus bisa menenangkan hati istrinya yang sedang galau. Kata-kata seperti "Sabar ya, Cyiin" atau ‘Maaf ya, Cyiin, abang belum mampu membuatmu bahagia" atau "Tunggu ya, Cyiin, Insya Allah kalau proyek ini berhasil, kita makan kacang di taman". Kata-kata menyejukkan itu akan meluluhkan hati wanita sehingga dia tidak akan berpikir menambah tinggi angka grafik gugat cerai.
Percayalah kalau wanita itu mudah luluh dengan laki-laki yang merendahkan hatinya tanpa harus merendahkan dirinya. Banyak laki-laki yang secara ekonomi kalah dari istrinya, tapi sang istri tampak bahagia dan rela mengeluarkan uangnya demi sang suami. Tapi tentunya, suami seperti ini sangat pandai mengambil hati sang istri. Perhatian dan siraman kasih sayang yang tiada henti akan membuat wanita perkasa takluk. Kelembutan seorang laki-laki yang tercermin dari kerelaannya melindungi dan memanjakan sang istri, tentunya akan mengurungkan niat sang istri menambah tinggi grafik angka perceraian.
Bila istri telah bersuara tinggi, peluklah dan belailah punggungnya. Ucapkan kata-kata lembut, seperti "Apa aku ada salah, Cyiin? Bicaralah." Tunggulah sesaat karena biasanya wanita merasa sangat tersentuh ketika suaminya berbicara begitu lembut dari lubuk hati sang suami yang paling dalam. “Katakanlah, Cyiin. Abang di sini. Kalau abang salah, jangan dipendam. Ungkapkanlah.” Hati wanita mana yang tidak lumer dengan kesabaran dan ketelatenan yang ditunjukkan oleh seorang suami seperti itu.
Apalagi ketika dengan penuh kasih sayang sang suami memberikan pijatan kepada istri yang sedang lelah. Cinta yang begitu lembut ini akan mampu membuat wanita perkasa penuh pesona dan kharisma bertekuk lutut dan bahkan "bersujud" di kaki suaminya. Pengabdian dan cintanya pastilah hanya ditujukan kepada sang suami tercinta. Bila ini yang ada di rumah tangga, maka grafik perceraian akan mencapai titik nol.






