Pesona Gunung Ciremai
Ilustrasi gunung cermai
Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, menjulang 3.078 meter di antara Kabupaten Cirebon, Kuningan dan Majalengka. Sejak puluhan tahun lalu, lereng Gunung Ciremai yang terjal telah akrab dengan jejak para pendaki gunung dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin merasakan sensasi menjadi orang paling tinggi di Tatar Sunda.
Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT. Secara administratif, Gunung Ciremai terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Cirebon.
Pada 2003, melalui SK Menteri Kehutanan No. 195/Kpts-II/2003, kawasan hutan Gunung Ciremai yang saat itu dikelola oleh Perum Perhutani (KPH Kuningan dan Majalengka) ditunjuk sebagai kawasan hutan lindung.
Kemudian, Bupati Kuningan, melalui surat No. 552/1480/Dishutbun, dan Bupati Majalengka, melalui surat No. 552/2394/Hutbun yang keduanya bertanggal 13 Agustus 2004, mengusulkan agar Gunung Ciremai ditetapkan sebagai kawasan pelestarian alam.
Usulan itu mendapat dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kuningan yang ditunjukkan dengan surat Pimpinan DPRD Kab. Kuningan No. 661/266/DPRD tanggal 1 September 2004.
Dan pada akhirnya, keluarlah Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang perubahan fungsi hutan Gunung Ciremai seluas 15.000 Ha terletak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat sebagai Taman Nasional.
Aktivitas Vulkanik di Gunung Ciremai
Gunung Ciremai adalah gunungapi soliter, menyendiri, jauh terpisah dari gunung-gunung Sirkum Mediterania lainnya. Sesar Cilacap-Kuningan memisahkan gunung ini dari gunung-gunung lain di Jawa Barat seperti Gunung Galunggung, Guntur, Papandayan, Patuha, dan Tangkubanparahu.
Tetapi, kesendirian itu justru membuatnya tampak mencolok jika dilihat dari jauh. Bentuknya yang mengerucut memancarkan aura magis yang membuatnya bagai dewa yang penuh kuasa, tiada bandingannya. Jangan heran jika di mata masyarakat, dari dulu hingga kini, Gunung Ciremai selalu menempati posisi yang terhormat.
Gunung Ceremai muncul pada zaman Kuarter kala Holosen. Situmorang memperkirakan bahwa Gunung Ciremai tumbuh di bagian utara Kaldera Gegerhalang-gunung yang merupakan induknya -sekitar 7.000 tahun yang lalu.
Jika ini benar, Gunung Ciremai merupakan gunung api yang masih sangat muda. Terpaut cukup jauh dari Tangkubanparahu yang lahir dari Kaldera Gunung Sunda sekitar 125.000 tahun yang lalu.
Tiga Kawah di Gunung Ciremai
Gunung Ciremai memiliki tiga kawah, yaitu Kawah Barat, Kawah Timur dan Gua Walet. Di Gua Walet yang sudah tak aktif inilah biasanya para pendaki yang lelah berkemah sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Berdasarkan aktivitasnya, gunungapi dibedakan menjadi Tipe A (tercatat pernah meletus setelah tahun 1600), Tipe B (tercatat pernah meletus sebelum tahun 1600), dan Tipe C (letusannya tak pernah diketahui atau disaksikan manusia).
Gunung Ciremai termasuk gunungapi Tipe A, letusannya kali pertama tercatat pada 1698 dan terakhir terjadi pada 1937. Masa istirahat terpendek dan terpanjang gunungapi strato (berlapis) ini adalah 3 tahun dan 112 tahun.
Hingga saat ini, Gunung Ciremai telah beristirahat lebih dari tujuh puluh tahun, dan suatu ketika, aktivitasnya tentu akan kembali meningkat dan membuat cemas orang-orang di bawahnya. Aktivitas Gunung Ciremai terus dipantau oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Jalur Pendakian Gunung Ciremai
BTNGC telah menetapkan tiga pintu masuk ke Gunung Ciremai, yaitu Jalur Palutungan dan Linggajati di Kabupaten Kuningan, dan Jalur Apuy di wilayah Kabupaten Majalengka.
Hingga saat ini, Jalur Palutungan barangkali masih merupakan jalur utama dan yang paling popular. Di jalur inilah kantor BTNGC berada. Bagi para pendaki Gunung Ciremai, Jalur Palutungan (selatan) dianggap lebih landai tetapi lebih jauh.
Jalur Apuy (barat) dianggap jalur medium, dan Jalur Linggajati (timur) dianggap jalur yang paling terjal tetapi membutuhkan waktu tempuh yang lebih singkat.
Pada musim kemarau, lintasannya yang terjal menjadi berdebu, mengganggu penglihatan dan pernafasan. Dan di musim hujan, jalan setapak itu menjadi sangat licin dan memberi banyak peluang untuk tergelincir.
Lintasan menjelang puncak yang menuntut dilalui dengan scrambling juga tak bisa dianggap enteng. Banyak kondisi batuan yang labil di lereng yang kecuramannya lebih dari tujuh puluh derajat.
Cuaca buruk bisa datang sewaktu-waktu, memicu terjadinya badai yang cukup besar dan membahayakan para pendaki-terutama bagi mereka yang sedang berada di kawasan puncak.
Sumber-sumber air hanya dapat ditemui di bawah ketinggian 1.500 meter dpl., dan karena itu, setiap pendaki dituntut untuk membawa cadangan air sebanyak mungkin. Tentu saja ini akan menambah beban pendakian sejak dari bawah.
Perjalanan pun tak bisa dilakukan dengan cepat. Namun kenyataannya, kondisi-kondisi semacam inilah yang membuat orang-orang menjadi tertantang untuk mendaki Gunung Ciremai.
Medan yang sulit justru memberikan kesempatan untuk melatih manajemen pendakian secara serius, dan pada akhirnya semua itu akan membuktikan sejauh mana kapasitas seorang pendaki gunung berhasil diuji.
Begitulah Gunung Ciremai. Perpaduan tanpa cacat antara tantangan dan kemolekan tubuhnya telah menjadi magnet yang menarik orang-orang untuk terus berkunjung, menguji kemampuan dirinya dan memuji kemegahan yang disuguhkan Tuhan Sang Penguasa Jagat raya. Magnet itu tak pernah melemah, bahkan dari ke hari kekuatannya semakin besar dan menyedot lebih banyak orang.
Jika saat ini Gunung Ciremai hanya popular di Indonesia, aku yakin bahwa suatu saat nanti, gunung cantik ini akan menjadi buruan para pendaki mancanegara. Namun tentu ada syarat yang harus dipenuhi: keseriusan kita dalam menjaga agar Gunung Ciremai tak pernah kehilangan daya tariknya.
Keragaman Hayati di Gunung Ciremai
Mendaki Gunung Ciremai -setelah melalui ladang-ladang penduduk dan hutan produksi -berarti melintasi tiga zona vegetasi hutan yang berbeda, yaitu zona hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest), dan hutan subalpin (subalpine forest).
Zonasi vegetasi ini tak jauh berbeda dengan gunung-gunung lain di Pulau Jawa. Gunung Ciremai memiliki pohon-pohon besar, tinggi dan berlumut. Namun, seiring pengaruh perbedaan suhu, semakin ke atas pepohonan itu semakin mengecil, renggang dan relatif homogen.
Sebagai taman nasional, Gunung Ciremai menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Kawasan ini merupakan habitat dari berbagai satwa langka yang dilindungi seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Lutung Jawa (Trachypitecus auratus) dan Macan Tutul (Phantera pardus).
Margasatwa di Gunung Cermai
Gunung Ciremai mempunyai satwa yang sangat beragam. Pada bulan April 2005, kelompok pecinta alam Lawalata IPB melakukan penelitian dan mendapatkan 12 spesies amfibia (kodok dan katak), reptil, mamalia, dan lain-lain.
- Bangkong bertanduk (Megophrys montana)
- Percil Jawa (Microhyla achatina)
- Kongkang Jangkrik (Rana nicobariensis)
- Kongkang kolam (Rana chalconota)
- Katak-pohon Emas (Philautus aurifasciatus)
- Bunglon Hutan (Gonocephalus chamaeleontinus)
- Cecak Batu (Cyrtodactylus sp.)
- Elang Hitam (Ictinaetus malayensis)
- Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus)
- Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
- Puyuh-gonggong Jawa (Arborophila javanica)
- Walet Gunung (Collocalia vulcanorum) [masih perlu dikonfirmasi]
- Takur Bultok (Megalaima lineata)
- Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis)
- Berencet Kerdil (Pnoepyga pusilla)
- Anis Gunung (Turdus poliochepalus)
- Tesia Jawa (Tesia superciliaris)
- Ceret Gunung (Cettia vulcania)
- Kipasan Ekor-merah (Rhipidura phoenicura)
- Burung-madu Gunung (Aethopyga eximia)
- Burung-madu Jawa (Aethopyga mystacalis)
- Kacamata Gunung (Zosterops montanus)
Itulah keanekaragaman yang ada di Gunung Ciremai.

