Cantiknya Gunung Galunggung
Ilustrasi gunung galunggung
Tentu Anda tak asing dengan nama Gunung Galunggung bukan? Meski namanya tak sepopuler Gunung Tangguban Perahu dan Gunung Merapi, tapi gunung ini punya daya tarik tersendiri bagi beberapa orang. Selain terkenal dengan aktivitas berapinya, gunung ini juga populer dengan wisata danau kawah dan pemandian air panasnya. Di antara Anda mungkin sudah ada yang pernah ke sana.
Gunung Galunggung sendiri merupakan salah satu gunung tinggi di Jawa Barat. Tingginya mencapai 2.167 meter di atas permukaan laut. Posisinya sendiri sekitar 17 km dari Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Fenomena Gunung Galunggung
Karena tergolong dalam jenis gunung berapi aktif, beberapa kali letusan dahsyat pernah membombardirkan Kota Tasikmalaya dan sekitarnya. Berikut ini kilasannya.
| Korban letusan Galunggung |
| 8-12 Oktober 1882, Gunung Galunggung meletus untuk pertama kalinya pada zaman sejarah. Letusan itu menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, juga abu halus dan pastinya awan panas serta lahar yang membakar segala benda yang diterjangnya. Dampak fisik dari letusan dahsyat tersebut mengakibatkan meninggalnya 4.011 jiwa, 114 desa yang porak poranda, dan rusaknya lahan pertanian ke arah timur dan selatan gunung, sejauh 40 km. Sungguh bencana yang mengerikan sekaligus memprihatinkan. |
| 7-9 Oktober 1894, Gunung Galunggung meletus untuk yang kedua kalinya. Letusan itu menyemburkan awan panas pekat yang menggulung-gulung cepat menuju daerah-daerah di lereng dan seputarannya. Hingga pada tanggal 27 dan 30 Oktober, perut Galunggung pun mengeluarkan magma panasnya dan alirannya menuju alur sungai-sungai di sekitarnya. Bencana itu menenggelamkan 50 desa. |
| 6 Juli 1918, lagi-lagi gunung ini mengamuk. Letusan tersebut diawali dengan beberapa gempa, kemudian disusul dengan munculnya hujan abu setebal 2-5 mili. Sampai akhirnya, pada 9 Juli memunculkah sebuah kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85 meter dan ukurannya 560x440 meter, yang kemudian disebut gunung jadi atau anak Gunung Galunggung. |
| 5 Mei 1982, kembali Galunggung mengamuk. Sebelumnya gunung ganas itu mengeluarkan suara dentuman. Selain itu juga mengeluarkan pijaran api dan kilatan halilintar selama 9 bulan hingga berakhir pada 8 Januari 1983. Sebuah rentan waktu bencana yang sangat-sangat panjang dan menyiksa tentunya. Pada kurun waktu tersebut mengakibatkan 18 orang meninggal, 22 desa ditinggal oleh penghuninya, dan kerugian materi yang mencapai miliaran lebih. Penduduk yang meninggal lebih disebabkan oleh keadan fisik, seperti lansia dan kekurangan bahan pangan akibat bencana panjang dan pastinya menyiksa itu |
Mudah-mudahan Gunung Galunggung tidak mengamuk dan meletus kembali sehingga penduduknya tenteram, aman, dan sejahtera.
Gunung Galunggung Pusat Spiritual Sunda
Selain daripada fenomena-fenomena tadi, ada juga fenomena sejarah di balik Gunung Galunggung. Seperti apa fakta sejarah dari si Galunggung tersebut? Kita simak ulasannya berikut ini.
Sekitar abad XII, di sekitar gunung ini terdapat sebuah kerajaan kecil yang disebut 'Rajyamandala' atau kerajaan bawahan. Kerajaan itu ada sebelum munculnya kerajaan Pajajaran. Raja yang memimpinnya bernama Batari Hyang.
Prabu Jaya Paluan merupakan resi Hindu dari kerajaan Sunda. Ia menuliskan beberapa serat di antaranya sebagai berikut. "Sadatang ka saung Galah, sadiri aing ti inya, saung Galah kaku pangan, kapungkir gunung Galunggung, katukang na panggarangan, ngalalar na Pada Beunghar, kasuhang na pamipiran."
Yang artinya kurang lebih, "Sesampainya di saung Galah, berangkatlah aku dari sana, ditelusuri saung Galah, gunung Galunggung di belakang saya, melewati Panggarangan, melalui Pada Beunghar, Pamipiran ada di belangku."
Kerajaan kecil ini terletak di daerah Rumantak, yang sekarang berada di Desa Lingga Wangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Menurut sejarah tersebut, kerajaan Hindu itu akhirnya pindah ke daerah Pamijahan lantaran terdesak oleh masuknya pengaruh Islam di ranah Pasundan.
Selain fakta sejarah Rajyamandala, ada juga prasasti yang mengisahkan Galunggung pada zaman lampau. Prasasti tersebut ialah Prasasti Geger Hanjuang yang menceritakan bahwa pada tahun 1033 Saka atau 1111 Masehi, Batari Hyang memerintahkan rakyatnya untuk membuat parit sebagai langkah pertahanan dari musuh. Prasasti tersebut menandakan adanya penobatan suatu kekuasaan yang baru di wilayah Galunggung.
Ada juga naskah sunda kuno lain yang menceritakan Galunggung. Naskah tersebut ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, yaitu suatu daerah yang terletak di Garut Selatan, Jawa Barat.
Naskah epik itu adalah 'Amanat Galunggung'. Sebuah naskah klasik yang berisi fatwa atau petuah-petuah yang disampaikan oleh seorang raja yang bernama Darmasiksa kepada anaknya. Raja tersebut adalah penguasa Galunggung pada masa itu. Selain dari prasasti dan naskah kuno di atas, masih ada lagi tulisan-tulisan kisah perjalanan seorang Prabu Jaya Paluan dari Galunggung menuju tanah Jawa.
Namun demikian, prasasti-prasasti dan naskah Sunda kuno tersebut kurang menjelaskan perihal gunung ini secara mendetail, bahkan bisa dikatakan kurang. Ya, begitulah yang namanya sejarah pada zaman kuno. Terkadang cerita aslinya malah sangat jelas dituturkan dari mulut ke mulut ketimbang dari sumber-sumber semacam itu.
Menjelajah Keeksotisan Gunung Galunggung
Tidak afdol rasanya kalau kita hanya mengupas tentang geografis dan sejarah Galunggung saja. Saatnya kita mengulik kecantikan gunung ini. Berikut ini beberapa tempat sejuk segar yang patut Anda datangi di ranah Tasikmalaya tersebut.
1. Danau Kawah
Danau Kawah merupakan salah satu danau favorit dan paling terkenal di kawasan Gunung Galunggung. Untuk mencapai tempat itu, Anda harus masuk dulu ke pintu gerbang utama. Nah, dari situ Anda ambil ke arah kiri. Setelah itu Anda harus naik ke atas, dengan mendaki anak tangga sebanyak 620 buah. Cukup tinggi dan melelahkan pastinya.
Disarankan Anda yang datang ke objek wisata tersebut harus dalam kondisi fit dan kuat. Setelah sampai di atas, Anda harus menuruni jalan setapak sekitar 100 meter untuk sampai ke dasar kawah tersebut.
Barulah sampai di danau kawah yang dituju. Pandangan Anda akan dimanjakan dengan hamparan danau nan luas, alamnya yang cantik eksotik, juga tempat memancing aneka jenis ikan tawar dan lain-lain.
Namun di danau kawah tersebut, Anda tidak diperbolehkan mandi, berenang, atau pun naik sampan mengelilingi danau. Hal semacam itu tidak direkomendasikan oleh pengelola objek wisata dan dinas badan pergunungapian setempat. Terlalu berisiko, mengingat gunung ini adalah gunung berapi yang aktif.
Di Danau Kawah, sangat cocok untuk dilakukan pemotretan ataupun pengambilan video. Apalagi pada saat malam hari dan cuaca cerah, dari bibir kawah Anda dapat menikmati kerlap-kerlip lampu Kota Tasikmalaya.
2. Pemandian Air Panas, Cipanas
Selain Danau Kawah, pusat pemandian Cipanas adalah satu tempat berikutnya yang patut dinikmati. Dari pintu gerbang utama Anda ambil arah ke kanan untuk sampai di sana. Cipanas dilengkapi fasilitas lengkap seperti kolam renang, kamar mandi, dan bak rendam air panas.
Udara dingin yang menyelubung kulit, perlahan terkikis oleh sentuhan air hangat yang mengalir alami dari perut gunung. Berendam di air seperti itu diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit karena airnya mengandung belerang. Mengasyikkan sekali, bukan?
Selain dua tempat ciamik itu, Anda juga dapat mengunjungi Danau Situgede, sekitar 5 km dari Tasikmalaya. Di tengah danau yang luasnya 47 hektare tersebut, terdapat pulau kecil di tengahnya. Berasa di Danau Toba deh. Di pulau kecil seluas 1 hektare itu, terdapat makam keramat Eyang Prabudilaya yang merupakan tokoh legenda Tasik. Di Situgede, Anda dapat mengelilingi danau dengan menaiki rakit yang disewakan.
Itulah Gunung Galunggung, di balik keganasannya terdapat kecantikan alam yang tiada duanya. Tuhan memang Maha Agung.

