Merapi Meletus Bangkitkan Persaudaraan

Bencana alam adalah hal yang tak boleh dipandang sepele. Begitu banyak kerusakan, kerugian materi dan yang paling mengenaskan adalah hilangnya ratusan hingga ribuan nyawa karena kemurkaan alam. Setelah Wasior dan Mentawai kini giliran gunung Merapi meletus.
Batu Ujian Bagi Kesigapan Semua Pihak
Bencana selalu menimbulkan tragedi dan kepanikan massa. Semua pihak saling bersitegang untuk segera melakukan tugas – tugas darurat menolong para korban. Sesungguhnya semua penanggulangan bencana akan lebih terorganisir jika pemerintah dan masyarakat terus-menerus belajar dari berbagai peristiwa yang telah lalu.
Pengalaman seharusnya membuat kita semua lebih sigap dan pandai mengendalikan situasi. Gunung Merapi meletus merupakan batu ujian bagi kesigapan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi massa, penduduk di desa-desa seputar Merapi maupun seluruh lapisan masyarakat. Nah sudahkah kita belajar?
Edukasi adalah tindakan pencegahan berlaku ceroboh
Masyarakat yang berdiam di pedesaan barangkali sikapnya lebih pasif dibanding masyarakat perkotaan yang menggeliat dalam melakukan segala aktivitasnya. Ada baiknya sejak dini pemerintah mengedukasi masyarakat yang bermukim di pedesaan atau daerah-daerah terpencil tentang berbahayanya bencana alam.
Barangkali keseluruhan proses tidak hanya sekedar memberitahukan bahayanya jika terjadi banjir bandang atau seperti sekarang ini bahayanya gunung Merapi meletus. Namun juga penting untuk melakukan kampanye seperti go green dan issue global warming.
Penghijauan, kecintaan pada hutan dan alam harus ditingkatkan. Alam tidak akan sanggup bertahan jika kita sebagai penghuninya terus-menerus menganiaya alam itu sendiri. Bahkan masih banyak masyarakat perkotaan yang belum mengerti pentingnya re-cycle dan mengurangi penggunaan plastik. Sampah yang kita hasilkan begitu banyak hingga akhirnya menimbun kita sendiri! Tak heran jika akhir-akhir ini alam makin bergolak dan membuat kita harus sangat waspada.
Gunung Merapi Meletus Memakan Banyak Korban
Gunung Merapi meletus juga memakan banyak korban karena penduduk yang bertahan pada pendiriannya untuk terus menetap di desa. Sekalipun pemerintah telah berusaha memberikan penyuluhan, mereka tetap keras kepala. Mengapa? Karena semuanya tidak melewati sebuah proses bertahap.
Yang terjadi adalah proses tabrak sana-sini, darurat dan dilakukan pada detik terakhir. Tidak ada penampungan yang disiapkan jauh-jauh hari, tidak ada dana darurat bagi kesediaan pangan para korban, tidak ada kompensasi bagi peternak dan petani yang merugi, tidak ada alternatif penanggulangan masalah yang serius seperti transmigrasi yang dapat segera dilaksanakan.
Semuanya masih berupa gagasan yang acak-adul dan beredar dari mulut ke mulut. Wajar jika masyarakat Merapi akhirnya bertahan pada harta miliknya yang tidak seberapa itu dan tetap berada di Merapi. Lagi-lagi sudahkah kita belajar?
Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing
Rakyat Indonesia adalah rakyat yang sabar dan penuh rasa persaudaraan. Ke-bhinneka tunggal ika-an yang ditanamkan kepada kita semua sejak dini sungguh merasuk dalam kalbu.
Setiap kali terjadi bencana, termasuk bencana gunung Merapi meletus, selalu menimbulkan kegotong-royongan massal. Semua lapisan masyarakat tidak lagi sekedar menanti kecekatan para pejabat pemerintah namun langsung terjun sendiri menggalang dana besar-besaran.
Semua lembaga dari anak SD hingga mahasiswa, mesjid, gereja, TV Swasta, artis, bahkan barangkali organisasi arisan ibu-ibu semuanya bangkit bersatu berupaya mengumpulkan dana. Gunung Merapi meletus disatu sisi sangat menyayat hati, disisi lain bangkitnya semangat persaudaraan sungguh mengagumkan!






