logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Berita    Bencana    Bencana Alam

Gunung Merapi Yogyakarta - Gunung Teraktif Dunia


Ilustrasi gunung merapi yogyakarta

Gunung Merapi Yogyakarta merupakan gunung paling aktif di dunia. Berketinggian 2.968 dpl (di atas permukaan laut) menjadikan gunung ini sangat berbahaya apabila terjadi letusan atau erupsi. Itu  karena dengan ketinggian tersebut bisa menjangkau wilayah berpuluh kilometer dari puncaknya.

Benar saja, ketika meletus tanggal 26 Oktober 2010 banyak sekali yang menjadi korban meletusnya Merapi, termasuk sang juru kunci Mbah Maridjan yang telah setia menungguinya sejak 1982 silam.

Gunung Merapi Yogyakarta secara administratif terletak di dua provinsi sekaligus, yakni Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keindahan Merapi yang juga bisa dilihat dari Candi Borobudur membuat gunung ini tak pernah sepi pengunjung. Ditambah kawasan hutan di sekitar pucak gunung dijadikan sebagai Taman Nasional Merapi sejak 2004.

Sangat Aktif

Letusan gunung yang berapi dapat terjadi setiap saat. Gunung ini termasuk golongan gunung yang mengeluarkan lava dengan cara erupsi sentral, di mana lava akan keluar melalui terusan kepunden atau diatrema.

Hasil dari erupsi inilah yang menyebabkan terbentuknya gunung strato atau disebut juga gunung api berlapis, di mana erupsi yang terjadi tergolong ke dalam jenis erupsi campuran.

Aliran lava yang kental ketika akan keluar segera menjadi padat dan akhirnya tidak dapat mengalir cukup jauh dan tertahan di daerah sekitar puncak. Tumpukan lava ini membuat gunung strato semakin lama semakin tinggi dan meruncing.

Pada saat meletus, gas yang terbentuk dalam magma gunung berapi ini akan mendorong lava dan material lainnya menyembur ke udara. Materi ini akan terpecah menjadi partikel-partikel dan gumpalan-gumpalan yang berpijar yang dapat menghanguskan. Oleh karena itu, hal ini patut diwaspadai, terutama oleh penduduk sekitar yang tinggal di lereng-lereng gunung berapi yang merupakan daerah rawan bencana.

Meletusnya Gunung Merapi Yogyakarta pada 26 Oktober kemarin bisa dibilang merupakan buah dari akumulasi letupan-letupan erupsi kecil yang terus-tersuan terjadi. Dalam catatan sejarahnya, gunung ini sejak tahun 1548 sudah meletus sebanyak 68 kali.

Gunung Merapi merupakan gunung termuda aktif dan terletak di zona subduksi lempeng Indo-Australia yang secara dinamis terus bergerak ke lempeng Eurasia. Aktivitas vulkanik yag demikian tinggi membuat Merapi tak banyak ditumbuhi vegetasi.

Sejak 1953 ditemukan bahwa karakteristik letusan Merapi bertipikal lava yang mendesak ke puncak disertai dengan runtuhnya kubah lava secara simultan dan pembentukan awan panas atau dalam bahasa daerah setempat disebut wedhus gembel yang biasanya bergerak secara vetikal.

Letusan Merapi tak akan mengeluarkan suara keras, tapi cenderung hanya mengeluarkan desisan. Kubah puncaknya yang meletus kemarin merupakan hasil pembentukan sejak tahun 1969.

Kerja sama penelitian yang dilakukan Pusat Vulkanologi Indonesia (PVMBG) dengan Pusat Penelitian Kebumian yang bermarkas di Postdam, Jerman, menyinyalir adanya ruang sangat besar (ruang raksasa) yang dapat menampung jutaan material berbagai unsur yang bisa menghambat getaran gempa bumi, yang mereka perkirakan dengan magma. Berikut ini ciri-ciri gunung meletus.

  • Sering terjadi gempa vulkanik, mulai dari gempa yang berskala kecil sampai skala besar. Semakin sering gempa vulkanik terjadi, maka semakin dekat dengan waktu eksplosif (meletus).
  • Sering timbul suara gemuruh yang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di dekat kepunden. Ini adalah akibat dari bergolaknya magma yang mencari jalan untuk keluar.
  • Keluar awan panas yang bentuknya mengepul dan bergulung-gulung atau dikenal masyarakat dengan sebutan Wedhus Gembel. Hal ini menyebabkan tumbuhan yang terkena awan panas menjadi kering bahkan terbakar.
  • Adanya kenaikan suhu yang meningkat di sekitar lereng gunung. Ini disebabkan oleh munculnya awan panas yang menyebabkan hewan-hewan liar turun ke bawah, begitu pun burung-burung bermigrasi ke tempat yang aman.
  • Timbul bau belerang yang sangat menyengat. Bau ini akan menyebar sesuai dengan arah tiupan angin yang berhembus.
  • Beberapa mata air di bagian lereng atas mulai mengering atau debit airnya berkurang dari biasanya.
  • Di atas puncak gunung berapi sering terjadi kilatan-kilatan bunga api. Kilatan ini akan sangat jelas terlihat terutama pada malam hari.
  • Terjadi aliran lava yang berpijar. Aliran lava ini juga terlihat jelas jika pada malam hari, melalui alur-alur tertentu. Lava pinjar ini sangat indah jika dilihat dari kejauhan, namun sangat berbahaya karena bisa membakar apa saja yang diterjangnya.

Jika tanda-tanda akan meletusnya gunung berapi tersebut sudah terlihat atau kita rasakan, maka lebih baik segera menghindar dan melakukan evakuasi dini. Sebelum semuanya terlambat.

Hal tersebut perlu dilakukan karena letusan gunung berapi yang terjadi dapat membahayakan kita. Bahkan nyawa menjadi taruhannya, jika kita tidak memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh alam ini.

Letusan Merapi 

Tepat pada 15 Mei 2006 Merapi meletus dengan lumayan dahsyat. Ratdomo Purbo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) menjelaskan bahwa per 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah memenuhi seluruh kapasitas kubah. Di awal Juni terjadi hujan abu vulkanik diserta dengan luncuran awan panas yang menuju ke Magelang dan Muntilan yang berjarak sekitar 14 km dari puncak Merapi.

Di tahun 2010, erupsi pertama dari gunung Merapi Yogyarakrta terjadi pada pukul 17.02 sore. Ketika tiga kali letusan terjadi dan seperti biasa disertai dengan penyemburan abu vulkanik dan material lain dari dalam kawah Merapi. Leleran lava tersebut begerak dengan derasnya menuju Kaliadem, Desa Kepuharjo, Sleman. Sejak 26 Oktober tersebut awan panas mulai keluar secra masif dan tidak teratur.

Kini, memang letusan Gunung Merapi Yogyakarta sudah mulai mereda. Namun, bahaya bukan berarti sudah tak mengancam warga di sekitar lereng Merapi. Hujan besar akan menimbulkan banjir lava yang mengendap di lereng-lereng Merapi dan oleh karenanya warga harus waspada.

Bencana letusan gunung Merapi yang terjadi di tanah air ternyata tak hanya menimbulkan gelombang pengungsi, namun juga gelombang relawan. Mereka adalah orang-orang yang “melawan arus”. Di saat orang lain lari mencari selamat, dengan gagah berani mereka justru berkeliaran di kawasan rawan bencana.

Secara umum, ada dua bahaya yang ditimbulkan dalam bencana letusan gunung yang berapi. Bahaya utama (primer) mencakup awan panas, lahar, abu vulkanik, dan muntahan material letusan.

Sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang sifatnya tak langsung. Contohnya kerusakan rumah dan sawah, krisis pangan, serta berbagai penyakit yang melanda para pengungsi.

Bahaya primer inilah yang mengancam keselamatan para relawan. Di kawasan rawan bencana Merapi 2010, misalnya. Otoritas setempat menetapkan jarak aman pada radius hingga 20 km. Sementara para relawan pemantau bahaya awan panas dan pengevakuasi korban harus bercanda dengan maut yang mengintai pada radius empat kilometer saja dari Merapi.

Dalam sebuah artikelnya tentang bencana Merapi 2010, Liputan6.com memberitakan tentang seorang relawan bernama Sobirin. Bersama 20 orang rekan lainnya, Sobirin berkeliling setiap hari memantau bahaya awan panas. Jika melihat tanda-tanda bahaya, mereka harus sigap mengabarkan kepada penduduk setempat yang belum mengungsi.

Hanya berbekal alat komunikasi kuno handy talkie, setiap hari Sobirin dan kawan-kawan harus bercengkrama dengan maut. Awan panas bersuhu ratusan derajat celcius bisa meluncur sewaktu-waktu, membakar apa saja tanpa pandang bulu.

Apa yang mendorong Sobirin dan kawan-kawan melakukan tugas berbahaya itu? Tak ada alasan lain kecuali panggilan hati yang ingin melakukan misi kemanusiaan. Imbalan materi bukanlah harapan mereka karena untuk biaya sehari-hari saja mereka harus merogoh dari kantong sendiri.

Para relawan yang bertugas di daerah rawan bencana Merapi juga harus rela kehilangan waktu bercengkerama dengan keluarga. Beratnya tugas yang dipikul menyebabkan mereka terpaksa tidak pulang ke rumah berhari-hari.

Betapa tidak. Dalam mengevakuasi korban, Tim SAR benar-benar diburu waktu. Mereka menyisir daerah bencana dan mengevakuasi korban di tengah kegelapan yang mencekam, debu vulkanik yang menyesakkan, juga awan panas yang setiap saat mengancam.

Walaupun relawan bencana identik dengan orang yang gagah berani, mereka tetaplah manusia biasa yang memiliki perasaan. Risiko lain yang harus mereka tanggung sebagai pengemban misi kemanusiaan adalah hal-hal menyeramkan yang akan terus terbayang seumur hidup mereka.

Di tempat lain, suatu saat Aditya dan kawan-kawannya menemukan sebuah rumah yang tak lagi berbentuk karena terjangan awan ganas Merapi. Di dalam rumah itu mereka menemukan sembilan anggota keluarga berkumpul di sebuah ruangan dalam posisi bersujud. Pemandangan semacam itu, tentu membuat hati siapa pun yang melihatnya akan teriris-iris. Bahkan bisa menjadi trauma yang membayangi seumur hidup.

Dengan segudang risiko yang mengancam, kebanyakan relawan mengaku siap dan pasrah jika dipertemukan dengan maut saat sedang bertugas. Rasa kemanusiaan yang tinggi memang bisa mengalahkan segalanya. Demikian uraian mengenai gunung Merapi Yogyakarta, semoga bermanfaat.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Banjir Baleendah yang Memprihatinkan
  • Macam-Macam Bantuan Tsunami
  • Mengungkap Peristiwa Seputar Bencana Alam Tanah Longsor
  • Gempa Tektonik Menggerayangi Indonesia
  • Belajar dari Kejadian Gempa Mentawai
  • Antisipasi Tsunami Indonesia
  • Kebakaran Hutan di Indonesia
  • Mengatasi Banjir Citarum
  • Pentingnya Mengenali Tanda Tanda Tsunami
  • Berita Dunia - Dari Bencana Hingga Kematian
  • Apresiasi Puisi Tsunami Aceh
  • Gempa Haiti Menelan Ribuan Korban Jiwa
  • Gempa Yogyakarta Mewarnai Fenomena Bencana di Negeriku
  • Tsunami Jepang: Gempa Bumi dan Tsunami Sendai 2011
  • Kedahsyatan Bencana Tsunami Aceh Tahun 2004
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA