Gunung Penanggungan: Gunung dengan Sejuta Sejarah
Ilustrasi gunung penanggungan
Gunung Penanggungan yang terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ternyata tidak terlalu tinggi dibanding tetangganya, Gunung Arjuno. Gunung yang berketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut ini bisa menjadi obyek pendakian yang menarik.
Selain dapat menikmati pemandangan alam yang memukau di atas puncak, Anda dapat mengunjungi situs sejarah berupa candi yang jumlahnya puluhan, pertirtaan, dan peribadatan pada masa Hindu-Budha. Kabarnya, di masa itu, Gunung Penanggungan ini dikenal dengan nama Gunung Pawitra.
Objek Pendakian di Gunung Penanggungan
Jika Anda fobia mendaki gunung, tetapi ingin memiliki pengalaman seru berwisata alam, cobalah mendaki Gunung Penanggungan. Hanya diperlukan waktu sekitar 5 jam menuju ke puncak. Pemandangan sunrise yang ditawarkan gunung ini begitu memukau, yang tidak akan Anda temui di tempat lain.
Tidak hanya itu, lereng gunung pun dipenuhi situs purbakala yang jumlahnya lebih dari 50. Melewati setiap candi yang ditemui, akan membuat Anda merenung tentang kehidupan yang pernah ada di sana. Ya. Jika diperhatikan dari relief cerita pada bangunan, bisa dipastikan bahwa peninggalan purbakala tersebut berasal dari masa berakhirnya Kerajaan Majapahit (15 M).
Penelitian Situs Purbakala di Gunung Penanggungan
Situs purbakala yang jumlahnya puluhan di lereng-lereng gunung, ternyata memiliki satu ciri khas arsitektur yang sama, yaitu bangunan yang berbentuk punden berundak-undak. Ada juga gua dan ceruk yang pada masa itu dijadikan sebagai tempat pemujaan, tetapi jumlahnya tidak banyak.
Karena memiliki nilai sejarah tinggi, gunung ini pun menjadi daya tarik bagi para peneliti purbakala. Tercatat pada 1951, Van Romondt meneliti situs purbakala di Penanggungan dan menemukan sekitar 81 buah tinggalan purbakala yang sebagian besar berbetuk punden berundak-undak.
Tidak hanya Romondt yang kesengsem dengan gunung yang dianggap suci ini, W.F Sutterheim pun meneliti langsung situs purbakala yang ada di lereng gunung. Dari penelitiannya itu, dia menyimpulkan bahwa dahulu kala, punden berundak-undak yang jumlahnya puluhan itu berhubungan dengan tradisi pemujaan nenek moyang. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh konsep religi (Hindu-Budha) Indonesia yang menganggap gunung sebagai tempat tinggal para leluhur yang sudah meninggal.
Tidak hanya punden berundak-undak, ada beberapa candi yang dapat Anda jumpai saat menuruni lereng gunung, di antaranya Candi Gentong. Dinamakan Gentong karena pada candi tersebut terdapat batu yang mirip gentong dan sebuah altar.
Selain Candi Gentong, ada Candi Sinta yang terdiri dari bangunan candi kecil, altar pemujaan kecil, dan bebatuan yang mirip nisan. Kemudian, Candi Jolotundo beserta candi-candi lain yang namanya tidak diketahui. Nah, bagi pencinta sejarah, peninggalan purbakala akan menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.
Gunung Penanggungan ternyata tidak hanya cocok bagi yang suka mendaki, tetapi cocok bagi para sarjana ataupun pencinta sejarah yang memiliki rasa keingintahuan tinggi terhadap kepurbakalaan.
Berbagai Jalur Pendakian ke Gunung Penanggungan
Ada 4 jalur pendakian yang bisa Anda tempuh untuk mendaki gunung ini, yakni jalur Jolotundo, Trawas, Pandaan, dan Ngoro. Jika Anda ingin melihat candi-candi purbakala, lewati jalur Jolotundo dan Ngoro. Namun apabila Anda tidak tertarik untuk melihat candi-candi tersebut dan hanya ingin menikmati suasana pegunungan Penanggungan, Anda bisa memilih jalur Trawas dan Pandaan.
1. Jalur Trawas
Menggunakan jalur ini berarti Anda memulai pendakian dari desa Trawas. Desa Trawas bisa ditempuh dari Surabaya atau Malang dengan menggunakan bis ke arah Pandaan lantas menaiki minibus yang menuju langsung ke Trawas. Kendaraan yang Anda tumpangi akan melewati jalanan mulus beraspal.
Sesampainya di desa Trawas, Anda harus menggunakan kendaraan (roda 2 atau roda 4) untuk menuju ke desa Rondokuning. Jarak antara desa Trawas dan desa Rondokuning adalah 6 km. setelah sampai di desa Rondokuning, Anda bisa mulai mendaki menuju hutan alam. Dari desa Rondokuning ke puncak Penanggungan membutuhkan waktu sekitar 3 jam.
Selama pendakian, Anda akan dimanjakan dengan pemandangan indah pegunungan, kelebatan pohon-pohon kaliandra, puncak gunung Bekel yakni anak gunung Penanggungan, dan melihat rumah-rumah penduduk serta sawah dari atas.
2. Jalur Jolotundo
Jika ingin menggunakan jalur ini, Anda harus menempuh perjalanan sejauh 9 km dari desa Trawas menuju desa Jolotundo. Untuk menempuhnya, gunakan kendaraan roda 4, yakni minibus yang ada. Desa Jolotundo adalah desa terdekat ke puncak gunung. Jarak antara Jolotundo ke puncak gunung adalah sekitar 6,5 km (ditempuh selama 3 jam pendakian).
Di perjalanan, Anda akan melewati PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Seloliman. PPLH Seloliman terletak di desa Seloliman. Jika ada waktu, tak ada salahnya Anda berkunjung ke sana. PPLH Seloliman merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus membina dan membangun kesadaran masyarakat tentang wawasan lingkungan hidup. Di sana juga tersedia beragam paket program ekowisata yang mencakup program pendakian pegunungan Penanggungan.
Selama pendakian, Anda harus siap menempuh medan hutan alam yang kemiringannya mencapai 40 derajat. Karena jalur yang dilalui adalah jalan setapak, sebaiknya Anda waspada dan berhati-hati. Sering kali pendaki tersesat karena salah memilih jalan.
Dalam 1 jam, hutan alam akan selesai Anda lewati. Setelah itu Anda harus menempuh medan hutan caliandra yang lebat dan menanjak. Setelah melewatinya selama 30 menit, Anda akan menemukan batu talang. Batu talang adalah batu sepanjang 7 km yang memanjang sebagaimana talang air dari hutan ke desa Jolotundo dan Balekambang. Teruslah berjalan sampai hutan caliandra selesai Anda tempuh. 300 meter dari batu talang, Anda akan tiba di candi Putri. Candi ini adalah candi peninggalan Airlangga. Ukurannya 7 x 7 x 4 meter dan sudah tak utuh lagi. Candi ini berada di lebatnya hutan caliandra.
200 meter dari sana Anda akan menemukan situs candi lain, yakni candi Pure. Candi berukuran 7 x 6 x 2 meter ini didirikan menggunakan batuan andesit. 150 meter dari sana, Anda akan menemukan candi Gentong. Ini sebenarnya bukanlah candi, melainkan peninggalan kuno berupa gentong dan meja. Gentong tersebut berukuran tebal 15 cm dengan diameter mulut gentong 40 cm dan diameter perut gentong 90 cm. Setengah badan gentong terbenam di dalam tanah. Adapun meja purbakala berukuran panjang 175 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 125 cm.
Dari sana, Anda akan berjalan terus ke atas. Setelah 50 meter berjalan, Anda akan menemukan Candi Shinto yang berukuran 6 x 6 x 3 meter. Dari sana, berjarak 300 meter Anda akan menemukan candi Carik kemudian candi Lurah. Candi tersebut menandakan bahwa Anda sudah hampir mencapai puncak.
3. Jalur Ngoro
Menggunakan jalur Ngoro bisa dicapai melalui arah Pandaan atau Mojokerto. Dari Pandaan atau Mojokerto, Anda bisa menggunakan minibus untuk mencapai Ngoro. Lebih baik Anda berangkat dari Mojokerto, karena lebih dekat. Dari desa Ngoro, Anda masih harus menempuh perjalanan sekitar 6 km ke desa Jedong menggunakan kendaraan. Selanjutnya Anda harus menuju dusun Genting yang jaraknya 3 km dari desa Gentong. Dusun Genting didiami oleh banyak suku Madura.
Dari dusun Genting, Anda bisa mulai mendaki ke arah atas untuk memasuki kawasan hutan lindung. Dari sana, lewatilah jalan setapak yang menanjak lantas menurun. Dari sana Anda akan menemukan candi Wayang; selanjutnya Anda hanya perlu mendaki 2 km lagi untuk mencapai puncak gunung. Jalur pendakian lewat Ngoro mengharuskan pendaki siaga karena medannya sagat miring, sekitar 70 - 80 derajat.
4. Jalur Pandaan
Desa Pandaan mudah dicapai karena terlintasi langsung dari jalur bis jurusan Malang - Surabaya. Jalur ini lumayan mudah untuk dilewati.
Sebelum mendaki gunung Penanggungan, jangan lupa meminta perizinan dan panduan dari KPH Pasuruan dan PPLH Seloliman. Sediakan perbekalan yang cukup, termasuk membawa kompas dan peta untuk menghindari tersesat di lereng gunung.

