logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Liburan & Rekreasi    Bandung    Wisata Alam Bandung

Mitos Gunung Tangkuban Parahu


Ilustrasi gunung tangkuban parahu

Dalam cerita rakyat (folklore), kita sering menemukan mitos yang berkembang di dalamnya. Kita ambil contoh mitos yang tumbuh dalam kisah Gunung Tangkuban Parahu. Dikisahkan bahwa Gunung Tanghkuban Parahu merupakan artefak atau peninggalan dari kemarahan Sangkuriang, tokoh di balik mitos Gunung Tangkuban Parahu. Ketika Sangkuriang ditantang Dayang Sumbi untuk membangun danau dan perahu selama satu malam, proyek itu gagal dilakukan Sangkuriang.

Alhasil, Sangkuriang marah dan merasa kesal. Untuk melampiaskan kemarahannya, Sangkuriang menendang perahu yang ia buat hingga tertelungkup. Dalam bahasa Sunda, tertelungkup artinya nangkuban. Nama gunung itu diambil dari bahasa Sunda nangkuban sehingga menjadi tangkuban yang berarti ‘sesuatu yang tertelungkup’.

Gunung Tangkuban Parahu - Mitos Sebagai Cara Menjelaskan Sesuatu

Mengapa di masyarakat dahulu sering beredar mitos? Jangan salah, mitos adalah cara orang-orang zaman dahulu untuk menjelaskan sesuatu. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan saat itu, mereka membuat cerita-cerita untuk menjelaskan sesuatu. Mitos itu kemudian diceritakan secara turun-temurun hingga sampailah kepada kita.

Mitos bukan sekadar cerita. Di dalam mitos, biasanya tersimpan pesan moral untuk pendidikan generasi ke generasi. Ketika berkunjung ke suatu daerah dan menyaksikan sesuatu yang asing bagi Anda, cobalah tanyakan mitos yang berkembang di daerah tersebut pada zaman dahulu. Biasanya, setiap daerah memiliki mitos masing-masing untuk menjelaskan kebiasaan mereka.

1. Mitos di Eropa

Mitos bukan hanya terdapat di Inodesia, Eropa yang kita kenal sekarang sangat modern pun tidak lepas dari mitos. Sebut saja, Yunani. Selain dikenal dengan bangsa “pemasok” para filsuf di dunia, Yunani dikenal dengan sebutan Negeri Para Dewa. Fenomena alam yang terjadi pada zaman Yunani kuno seringkali dikait-kaitkan dengan kepercayaan mereka terhadap dewa. Entah itu dewa kesuburan, dewa cinta, atau dewa kemurkaan.

Angka juga tidak lepas dari persepsi mitos. Hingga saat ini, masyarakat kebudayaan Barat masih mempercayai angka 13 sebagai angka sial.

2. Mitos Menurut Comte

Menurut August Comte (seorang filsuf), mitos tidak lain merupakan corak berpikir gaya tradisional manusia. Di dalam corak mitologi, kekuatan-kekuatan di luar manusia seringkali dijadikan sandaran dalam segala segi kehidupan. Ada orang yang percaya terhadap kekuatan makhluk gaib (animisme), ada yang percaya terhadap alam dan nenek moyang (dinamisme), dan ada pula yang percaya terhadap kekuatan yang tak terlihat atau kekuatan ruh (spiritualisme).

Comte melihat perkembangan mitos ini membunuh potensi manusia sebagai makhluk yang rasional. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan bahwa dalam pandangan Comte, mitos sama sekali bukan rasionalitas manusia. Selanjutnya, Comte mambagi sejarah pemikiran manusia menjadi tiga tahap; tahap mitos, tahap filsafat, dan tahap sains.

Pada tahap kedua (filsafat), manusia sudah mulai mengembangkan cara berpikir logis dan teratur. Namun, tahap ini belum cukup pada tingkatan yang lebih penting, yakni penguasaan atas alam. Oleh karena itu, sains dibutuhkan sebagai tahap terakhir untuk menguasai alam ataupun menjawab fenomena alam.

Gunung Tangkuban Parahu Menurut Sains

Sains tidak memandang Gunung Tangkuban Parahu sebagai produk wacana mitos. Jika ada seorang ilmuwan memandang gunung tersebut, mungkin pertanyaan yang akan muncul adalah proses apa yang menyebabkan gunung itu tercipta, kandungan apa yang ada di dalam gunung tersebut, atau aktif tidaknya gunung itu.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, mitos Gunung Tangkuban Parahu hingga kini masih tetap bertahan. Sebagian orang mungkin menggemarinya sebagai sebuah kisah kolosal atau sebagian lain memandang bahwa mitos tersebut masih perlu dipertahankan karena berfungsi sebagai alat budaya.

Jadi, ketika berkunjung ke Gunung Tangkuban Parahu, Anda bukan hanya menikmati pemandangan indah, melainkan mendapat pengetahuan yang baru untuk diceritakan kepada teman, keluarga, atau saudara-saudara Anda. Lengkapilah wisata Anda dengan informasi-informasi di seputar tempat wisata yang dikunjungi agar wisata menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

Bagi yang belum pernah ke Gunung Tangkuban Parahu di Lembang, Jawa Barat, Anda tidak perlu khawatir. Perjalanannya hanya ditempuh kurang lebih satu jam dari pusat Kota Bandung. Dengan menggunakan kendaraan umum jurusan Lembang, Anda sudah dapat menikmati keindahan yang disajikan oleh alam ini.

Gunung Tangkuban Parahu Meletus Terakhir pada 1910

Pada 2005, status Gunung Tangkuban Parahau di Lembang, Bandung, Jawa Barat, sempat dinaikkan menjadi siaga karena aktivitas Gunung Tangkuban Parahu ini mengalami kenaikan. Sebagai informasi tambahan, Gunung Tangkuban Parahu ini terakhir kali meletus pada 1910. 

Gejala-gejala akan meletusnya kembali Gunung Tangkuban Parahu pada 2005 ditandai dengan terjadinya 100 kali gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam di Gunung Tangkuban Parahu pada saat itu. Kekuatan gempa ketika itu sekitar 2 SR. Pada saat status normal, gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam hanya terjadi 2-7 kali.  

Karena sering terjadi gempa, tempat wisata Gunung Tangkuban Parahu ini sempat ditutup untuk umum sehingga para wisatawan dilarang memasuki daerah wisata ini. Meskipun gempa yang terjadi bisa dikatakan berukuran kecil, tetap saja menimbulkan kekhawatiran kawah-kawah di sekitar Gunung Tangkuban Parahu mengeluarkan gas beracun. 

Gunung Tangkuban Parahu - Gunung Berapi Tipe A

Gunung Tangkuban Parahu berada sekitar 30km utara Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, yang berbatasn dengan Kabupaten Subang. Gunung Tangkuban Parahu memiliki bentuk seperti trapesium terpancung dan lebih populer berbentuk seperti perahu terbalik. 

Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung berapi di Jawa Barat dan masuk dalam gunung berapi tipe A, yaitu gunung ini sempat meletus dalam 400 tahun terakhir sehingga perlu dilakukan pengawasan yang rutin. Tinggi Gunung Tangkuban Parahu adalah sekitar 2.084 meter di atas permukaan laut. 

Sejumlah data memperlihatkan bahwa Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi pada tanggal 4-7 April 1829. Ketika itu, letusan abu keluar terus menerus yang bersumber dari pusat erupsi Kawah Ratu dan Kawah samping Domas. Pada 1846, terjadi lagi erupsi di Kawah Ratu. Kemudian, terjadi letusan freaticdan terbentukilah Kawah Baru pada 1896. Letusan terakhir Gunung Tangkuban Parahu terjadi pada 1910 di dalam Kawah Ratu sehingga menghasilkan skorea dan abu. 

Pada abad ke-18, Gunung Tangkuban Parahu mengeluarkan material lepas dengam jumlah yang besar ke arah barat daya seperti aliran lumpur. Karena jumlahnya sangat banyak, muntahan material gunung ini mampu menutupi lembah Sungai Citarum dan membendung aliran sungai. Pada akhirnya, terbentuklah danau yang ada di ketinggian 720 meter dari permukaan laut atau kira-kira sebesar Danau Toba di Sumatera Utara. 

Semua daerah di selatan Kota Bandung ketika itu terendam air. Saat ini, tepian bekas danau tua ini masih bisa dijumpai. Tingginya intensitas letusan yang berlangsung dalam kurun waktu 1,5 abad tersebut, membuat Gunung Tangkuban Parahu memiliki banyak kawah. Sebagian kawahnya mengeluarkan bau asap belerang, behkan ada pula kawah yang mengeluarkan asap beracun. 

Gunung Tangkuban Parahu bukanlah gunung api satu-satunya yang bertipe A. Ada beberapa gunung lainnya yang bertipe sama dengan Gunung Tangkuban Parahu, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Galunggung, dan Gunung Ciremai.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Jalan-jalan Ke Objek Wisata di Bandung, Yuk!
  • Pesona Wisata Bandung Utara
  • Tangkuban Perahu - Wisata Gunung yang Menakjubkan
  • Pesona Kawah Putih yang Cantik Nan Eksotik
  • Menjelajah Tempat-Tempat Wisata Bandung
  • Deskripsi Peta Bandung dan Aneka Tempat Wisata di Bandung
  • Objek Wisata Ciater, Surganya Wisata yang Menyehatkan
  • Kampung Gajah Bandung - Wisata Outdoor di Tanah Parahyangan
  • Pesona Wisata Lembang
  • Wisata Gunung Patuha
  • Sensasi Liburan di Rumah Sosis
  • Wisata ke Galery Lukisan di Bandung, Yuk!
  • Ada Green Canyon di Jawa Barat
  • Kawah Putih - Tempat Wisata Bandung yang Eksotis
  • Tempat Wisata di Bandung yang Menjadi Incaran Para Wisatawan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA