logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Ibadah Haji

Hajar Aswad - Batu dari Surga


Ilustrasi hajar aswad

Hajar Aswad secara harfiah berarti batu hitam. Bagi kaum muslimin dan muslimat, Hajar Aswad memiliki nilai historis dan spiritual karena bagian dari ritual ibadah haji yang harus dilaksanakan seperti telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Popularitas dan arti penting Hajar Aswad bagi kaum muslimin, tak akan pernah ada satu batu pun di dunia ini yang bisa menyamainya.

Hajar Aswad seperti diriwayatkan dalam beberapa hadits merupakan batu yang berasal dari surga. Belakangan beberapa peneliti mulai memeriksa sebenarnya Hajar Aswad itu jenis batuan apa. Ada yang menduga Hajar Aswad adalah sejenis batu meteorit. Dalam teks Islam sendiri tak dijelaskan batuan jenis apa sebenarnya Hajar Aswad ini selain dikatakan bahwa sejenis batuan yang berasal dari surga.

Hajar Aswad tetap menjadi pusat perhatian kaum muslimin di seluruh dunia terutama yang sedang melaksanakan ibadah haji atau melakukan ibadah umroh.

Hajar Aswad pertama kali diletakkan di Ka’bah oleh Nabi Ibrahim as. Dibanding bebatuan lain yang ada di dunia ini, Hajar Aswad memang memiliki ciri yang berbeda, di antaranya waktu ditemukan batu ini bisa menerangi seluruh jazirah Arab. Namun berdasarkan beberapa keterangan, makin lama sinar dari Hajar Aswad ini makin meredup bahkan berubah warna menjadi hitam seperti kedaan sekarang ini.

Selain itu Hajar Aswad juga mengeluarkan aroma wangi yang khas dan tak ada aroma lain yang menyamainya di dunia ini. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, dijelaskan tentang perubahan warna dari Hajar Aswad ini. Hadits tersebut berbunyi bahwa ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam. 

Hajar Aswad kini diletakkan di bagian tenggara Ka’bah atau titik pertama dimulainya tawaf dan setiap kaum muslim yang melaksanakan ibadah haji maupun umrah, selalu berusaha untuk mencium setidak-tidaknya melambai ke arah batu ini, untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw.

Hajar Aswad sekarang ini terdiri dari delapan keping yang kemudian diikat dengan lingkaran dari perak. Karena terus-menerus dicium dan diusap oleh milyaran orang secara terus-menerus, Hajar Aswad terlihat semakin mengkilat. 

Sejarah Hajar Aswad

Dalam sebuah hadits sahih dijelaskan tentang Hajar Aswad dan batu yang terdapat di makam Nabi Ibrahim as berasal dari batu surga, kalau saja tidak karena sentuhan dosa manusia, batu tersebut akan mampu menerangi timur dan barat.

Menurut salah satu sumber yang berasal dari Siti Aisyah ra yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, peganglah Hajar Aswad ini sebelum diangkat dari bumi. Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluarga dari surga maka akan kembali ke surga sebelum kiamat.

Dalam waktu cukup lama Hajar Aswad pernah terkubur oleh pasir, namun suatu hari ketika Nabi Ismail as sedang mencari bebatuan untuk menutupi dinding ka’bah, Hajar Aswad secara ajaib ditemukan kembali. Tentu saja dengan ditemukannya kembali Hajar Aswad tersebut, Nabi Ibrahim as yang sedang mencarinya benar-benar sangat bahagia. Untuk mengekspresikan kegembiraannya, tak henti-henti beliau mencium Hajar Aswad tersebut. 

Tentang Hajar Aswad ini ada peristiwa penting yang terjadi pada tahun 16 sebelum hijrah, berkaitan dengan peristiwa pemugaran Ka’bah yang dilakukan oleh suku Quraisy yang terdiri dari empat kabilah. Setelah pemugaran selesai, selama lima hari lima malam mereka saling ngotot sebagai pihak yang paling memiliki hak untuk memindahkan Hajar Aswad.

Pada saat kejadian gawat tersebut muncul Abu Umayyah bin Mughirah al-Mukhzumi dan memberi jalan keluar untuk menengani ketegangan. Menurut Abu Umayyah, untuk memutuskan kabilah mana yang berhak mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya, lebih baik meminta pendapat dari orang yang pada hari itu pertama kali masuk ke tempat tersebut.

Dan orang yang hari itu pertama masuk ke tempat tersebut tak lain adalah Muhammad bin Abdullah yang terkenal sebagai seorang lelaki yang jujur dan bersih. Orang-orang Mekkah pada saat itu menjulukinya sebagai al-amin. 

Ketika ketegangan itu disampaikan kepada Muhammad bin Abdullah, beliau kemudian datang ke tempat penyimpanan Hajar Aswad dan membentangkan sorban, lalu meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengahnya. Setelah itu kepada masing-masing kabilah, Muhammad bin Abdullah memerintahkan untuk memegang masing-masing sudut sorban lalu mengangkatnya. Keempat kabilah itu secara bersama-sama menggotong Hajar Aswad ke tempat batu mulia tersebut akan diletakkan.

Setelah sampai di tempatnya, keempat kabilah itu mundur dan memerintahkan Muhammad bin Abdullah untuk memasang kembali Hajar Aswad di tempatnya. Tercapailah keadilan dan rasa puas dari keempat kabilah dan masing-masing merasa memiliki andil yang sama dalam urusan memindahkan Hajar Aswad, sehingga pertumpahan darah pun bisa dihindari. 

Kandungan Hajar Aswad

Menurut seorang ahli geologi, Prior Hey dalam bukunya Catalog of Meteorites, menyebutkan bahwa Hajar Aswad kemungkinan besar merupakan meteorit sehingga dimasukkan ke dalam buku yang baru selesai disusun pada tahun 1953.

Sebenarnya pendapat Prior Hey tersebut tak lain merupakan penegasan kembali pendapat Kahn, yang pada tahun 1936 yang telah meyakini bila Hajar Aswad merupakan meteorit jenis aerolit yakni bebatuan yang tersusun atas senyawa utama berupa besi dan nikel.

Pendapat ini dikuatkan oleh satu peristiwa dalam musim haji pada saat petir menyambar Ka’bah. Petir menyambar Ka’bah karena kandungan besi pada Hajar Aswad adalah konduktor.

Namun pendapat ini bertolak belakang dengan yang pernah dilakukan oleh Gubernur Mekkah Abdullah ibnu Akim yang pada tahun 950 pernah menguji batu-batu sejenis dengan Hajar Aswad. Batu-batu yang diduga dicuri oleh salah satu sekte yang berkembang pada saat itu, kemudian diuji. Batu tersebut ternyata tidak bisa terbakar dan mengapung di dalam air.

Dari kenyataan ini didapat kesimpulan bahwa Hajar Aswad bisa mengapung di dalam air menunjukkan berat jenis Hajar Aswad lebih kecil dibanding air, dan ketika tidak mampu dipecahkan dan dibakar menunjukkan rendahnya konduktivitas termal Hajar Aswad. Sementara itu menurut ahli geologi lain, Farouk el-Baz, tingkat kekerasan Hajar Aswad menujukkan angka 7 pada skala Mohs atau sebanding dengan batu permata. 

Memang tidak dipungkiri bila mengacu kepada hasil pengamatan foto, ada sejenis meteorit yang memiliki densitar mendekati angka densitas Hajar Aswad, yakni meteor yang berasal dari komet. Namun di sisi lain meteorit yang berasal dari meteor komet ini terkenal rapuh karena sebenarnya hanya tersusun dari gumpalan debu halus.

Dengan melihat sifat ini, tentu saja berbanding terbalik dengan Hajar Aswad yang menurut geolog Farouk el-Baz justru ukuran kerasnya setara dengan batu permata. Dengan demikian pendapat yang mengatakan bahwa Hajar Aswad merupakan sejenis batu meteorit dengan sendirinya terbantahkan. 

Tentang jenis batu apakah Hajar Aswad ini, pada 1980 seorang geolog sekaligus palaentolog yang berasal dari Swedia, Elsebeth Thomsen mengemukakan hipotesa tentang Hajar Aswad ini. Memang pengamatan Elsebeth Thomsen tidak secara langsung. Ia meneliti Hajar Aswad sendiri.

Berdasarkan beberapa referensi ilmiah tentang yang berkaitan dengan Hajar Aswad ini, Elsebeth Thomsen menduga bahwa Hajar Aswad merupakan jenis batuan yang terbentuk karena terjadi suatu tumbukan benda langit dengan kecepatan sangat tinggi.

Pada saat terjadi benturan tersebut, benda langit yang bertubrukan tersebut mengeluarkan energi yang luar biasa besar dan kuat yakni setara dengan energi yang terjadi pada saat ledakan nuklir. Namun karena bukan berdasarkan pengamatan dari Hajar Aswad secara langsung, hipotesa Elsebeth Thomsen tersebut gugur dengan sendirinya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Menyiasati Besarnya Biaya Haji
  • Mengenal Rukun Haji
  • Hikmah dan Tata Cara Ibadah Haji
  • Agar Tersesat Tak Menjadi Tema Cerita Haji Anda
  • Tenaga Kesehatan Haji Indonesia, Ujung Tombak
  • Informasi Haji: Informasi Seputar Perjalanan Ibadah Haji
  • Tata Cara Pelaksanaan Haji Tamattu
  • Kisah Perjalanan Ibadah Haji
  • Doa Manasik Haji
  • Manfaat dan Cara Memilih Tempat Bimbingan Manasik Haji
  • Ciri Haji Mabrur
  • Mengenal Tata Cara Ibadah Haji
  • Tenang dengan Persiapan Spiritual Kehamilan
  • Pengertian Ibadah Haji dan Seputar Pahalanya
  • Doa Haji, Berangkat dan Kembali
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA