logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Artikel Umum Islam    Hakikat Ibadah

Hakikat Ibadah: Meraih Hidup Bermakna dengan Amal Utama

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Setiap detik dari hari-hari yang kita jalani dapat memiliki banyak arti. Ada yang membosankan. Ada yang datar-datar saja. Namun, ada pula yang penuh arti. Semuanya sangat dipengaruhi oleh cara pandang kita terhadap kehidupan.

Jika kita memandang hidup sebagai ajang penderitaan, akan menderitalah hidup yang kita jalani. Jika kita memandang hidup penuh tantangan, akan penuh dinamika pula hidup kita. Jika kita memandang hidup sebagai karunia Tuhan yang layak untuk disyukuri setiap dimensinya, akan penuh kebahagiaan pula hidup kita.

Semuanya, sekali lagi, terjadi karena cara kita dalam memandang kehidupan. Menderita tidak menderita, sengsara atau bahagia, ada dalam benak dan terproyeksikan dalam persepsi kita.

Ada seorang bapak yang memandang hidup sebagai sarana untuk berkhidmat kepada Tuhan dan sesamanya. ”Hakikat ibadah adalah berkhidmat kepada Allah dengan tulus dan gemar memasukkan rasa bahagia ke dalam hati sesama,” demikian ujarnya.

Itulah mengapa dia senantiasa mengazamkan setiap gerak langkahnya sebagai upaya untuk mengabdi kepada Allah dengan cara berkhidmat kepada sesama. Dia memiliki ilmu yang luas. Dengan ilmunya itu dia mengajar banyak orang tentang kebaikan.

Dia sangat ingin bahwa ilmu yang dimilikinya itu dapat pula menjadi sumber cahaya bagi orang lain. Kenikmatannya adalah ketika belajar, mengajar, membaca buku, bertafakur, dan merumuskan konsep-konsep keilmuan yang kelak dapat dipergunakan untuk memajukan umat.

Di luar itu semua, ada momen-momen spesial dalam hidupnya yang berusaha untuk tidak dia lewatkan begitu saja. Momen itu terjadi tatkala dia ada di pembaringan, menjelang dia menutup mata dan terlelap dalam tidur. Kala itu, untaian doa senantiasa terucap dari lisannya. Ada lantunan Al-Fatihah yang senantiasa dia hadiahkan kepada orang-orang yang spesial dalam hatinya.

Pertama kali ia akan menghadiahkan Al-Fatihah dan shalawat kepada Rasulullah SAW, manusia yang teramat dicintainya, kemudian kepada keluarganya, para sahabatnya yang saleh, para shiddiqin, syuhada, dan para shalihin, untuk kemudian kepada orangtua, guru-guru, keluarganya, dan kaum kerabat serta tetangganya.

Terkadang, belum sempat menyebutkan semuanya, ia telah tertidur. Namun, itu bukan masalah baginya, sebab ia sangat yakin terhadap janji Nabi Muhammad SAW bahwa siapa pun yang sebelum tidurnya berzikir dan berdoa kepada Allah, niscaya tidurnya akan dicatat sebagai zikir dan ibadah, walau ia tidak sempat menyelesaikan zikirnya itu.

Dia pun mempercayai bahwa siapa saja yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya, para malaikat pun akan mendoakan dirinya sebanding -atau bahkan lebih- dari doa yang dipanjatkannya.

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘amin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan’.” Inilah janji Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Ada pertanyaan yang menggelitik hati, mengapa ada orang yang masih mau mendoakan kebaikan bagi orang lain ketika sebagian orang lainnya memperlakukan saudaranya dengan tidak semestinya? Atau, andaikan dia berdoa, doanya tersebut hanya untuk dirinya semata? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini.

Akan tetapi, kita layak menyimak sebuah ayat Al-Quran yang sangat inspiratif. Allah Swt. berfirman, “(Allah-lah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk, 67:2).

Ayat yang mulia ini menyiratkan bahwa hidup pada hakikatnya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya. Jadi, menurut Al-Quran, orang yang paling bahagia, paling sukses, paling beruntung, dan paling dekat dengan Allah, adalah orang-orang yang paling ikhlas dan paling giat dalam beramal saleh.

Salah satu karakter dari orang-orang seperti ini adalah kegemarannya dalam berkhidmat kepada Allah dan kepada sesamanya. Boleh jadi, Bapak dalam kisah di atas termasuk salah seorang di antaranya, atau setidaknya tengah berproses menjadi pribadi yang memiliki amal-amal terbaik.

Bagaimana dengan kita?

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Belajar Baca Alquran Online itu Mudah lho!
  • Tafsir Kisah Adam: Bukti Kebesaran Allah
  • Khotbah Jum’at Harus Serius!
  • Penerapan Hukum Islam di Indonesia
  • Mengenal Macam-Macam Dakwah dalam Islam
  • Akhlak Tasawuf: Memuliakan Tuhan, Memuliakan Manusia
  • Sejarah Sahabat Nabi: Khalid bin Walid
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA